Senin, 20 Oktober 2025
Sabda Kehidupan
Senin 20 Oktober 2025
Lukas 12:20-21
”Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”
Siapa Sebenarnya Yang Kaya
Seorang Ayah yang sukses dan kaya raya, suatu ketika mengajak anaknya berkunjung ke pedesaan yang sederhana, untuk menunjukkan bagaimana kehidupan orang miskin pada anaknya.
Sesudah menetap beberapa hari di desa tersebut, mereka pulang. Dalam perjalanan si Ayah bertanya kepada anaknya, bagaimana pendapatnya mengenai pengalaman mereka selama tinggal di desa.
Jawab anaknya: “Sangat menarik dan menyenangkan, Ayah. Inilah yang saya pelajari dari kehidupan mereka:
”Kita memiliki satu anjing untuk menjaga rumah kita. Mereka punya banyak anjing untuk berburu.
Kita hanya punya satu kolam renang di taman, mereka punya sungai yang tiada batas.
Kita mempunyai banyak lampu untuk menerangi taman kita. Mereka punya bintang yang bersinar di malam hari.
Kita mempunyai lahan untuk hidup. Mereka hidup bersama alam raya.
Kita punya banyak pembantu untuk melayani kita, tapi mereka tidak perlu pembantu karena mereka saling melayani.
Kita punya pagar yang tinggi untuk melindungi kita. Mereka punya banyak teman yang saling melindungi.”
Sang Ayah tercengang mendengar jawaban anaknya. Si Anak lalu melanjutkan, “Terimakasih Ayah, karena telah menunjukkan betapa miskinnya kita.”
Betapa melimpah hidup kita bila dipenuhi dengan rasa syukur atas anugerah Tuhan yang melimpah. Atas rahmat Allah yang telah memberikan diriNya menjadi sumber hidup kita yang melimpah. Yesus berkata, “Aku datang supaya mereka memiliki hidup dan memilikinya dalam segala kelimpahannya. (Yoh 10:10).
Bersyukurlah atas kelimpahan rahmat Tuhan, dan berbagilah berkat Tuhan bagi sesama.
Kita menjadi kaya bukan karena mengumpulkan banyak, melainkan karena banyak berbagi. Semua orang yang memberi, selalu mempunyai, karena ‘tak ada orang yang dapat memberi apa yang ia tidak punya.’ (Nemo dat quod non habet).
Mari bersyukur dan bahagia atas hidup yang berkelimpahan rahmat dalam Tuhan Yesus. Ia selalu memberkati kita.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 20 Okt 2025
Senin Pekan Biasa XXIX
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Mat 5:3
Bacaan Injil: Luk 12:13-21
***********
Bait Pengantar Injil
Mat 5:3
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,
karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Bacaan Injil
Luk 12:13-21
Bagi siapakah nanti harta yang telah kausediakan itu?
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Sekali peristiwa Yesus mengajar banyak orang.
Salah satu dari mereka berkata kepada Yesus,
“Guru, katakanlah kepada saudaraku,
supaya ia berbagi warisan dengan daku.”
Tetapi Yesus menjawab,
“Saudara, siapakah yang mengangkat Aku
menjadi hakim atau penengah bagimu?”
Kata Yesus kepada orang banyak itu,
“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan!
Sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya,
hidupnya tidak tergantung dari pada kekayaannya itu.”
Kemudian Ia menceriterakan kepada mereka perumpamaan berikut,
“Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.
Ia bertanya dalam hatinya, ‘Apakah yang harus kuperbuat,
sebab aku tidak punya tempat
untuk menyimpan segala hasil tanahku.’
Lalu katanya, ‘Inilah yang akan kuperbuat:
Aku akan merombak lumbung-lumbungku,
lalu mendirikan yang lebih besar,
dan aku akan menyimpan di dalamnya
segala gandum dan barang-barangku.
Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku:
Jiwaku, ada padamu banyak barang,
tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya.
Beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!’
Tetapi Allah bersabda kepadanya,
‘Hai orang bodoh,
pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu.
Bagi siapakah nanti apa yang telah kausediakan itu?
Demikianlah jadinya
dengan orang yang menimbun harta bagi dirinya sendiri,
tetapi ia tidak kaya di hadapan Allah.”
Demikianlah sabda Tuhan.
************
ℍ
“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” (Luk 12: 15)
Dalam Injil hari ini, seseorang meminta Yesus untuk menyelesaikan perselisihan yang dialaminnya dengan saudaranya mengenai warisan. Meskipun di Palestina adalah biasa membawa masalah semacam itu kepada seorang rabi, Yesus memilih untuk tidak terlibat dalam perselisihan mengenai harta benda itu. Sebaliknya, Ia menggunakan situasi ini untuk mengajarkan kepada kita sebuah pelajaran: risiko keserakahan dan nilai sejati kekayaan.
Yesus menceritakan perumpamaan tentang Orang Kaya yang Bodoh. Ia memiliki kekayaan, tetapi ia tidak kaya di mata Allah. Perumpamaan ini mengajarkan kita tiga pelajaran.
Pertama, berbagi. Kemiskinan bukan tentang memiliki sedikit, tetapi tentang menolak untuk memberi. Seseorang yang menyimpan segalanya untuk dirinya sendiri menjadi miskin di hati. Kekayaan sejati ditemukan dalam berbagi—sumber daya kita, pengetahuan kita, bahkan waktu kita. Sebuah kata penghiburan kepada sesama, telinga (hati) yang mendengarkan, atau sebuah tindakan kebaikan kecil dapat memperkaya hidup orang lain dan hidup kita sendiri.
Kedua, tidak ada yang pasti. Uang tidak dapat membeli cinta, persahabatan, atau makna. Tak jarang saya jumpai orang-orang dengan kantong tebal penuh uang tetapi hati mereka terbebani kesepian. Harta benda datang dan pergi, tetapi hubungan bertahan: cinta seorang anak, persahabatan seorang pasangan, kehadiran seorang sahabat setia. Ini adalah harta yang tidak dapat diambil oleh pencuri.
Ketiga, jadilah bijaksana. Hidup bukan tentang menimbun barang, tetapi tentang menjalani hidup setiap hari dengan baik. Ada hal-hal yang seharusnya tidak dinegosiasikan: cinta kepada anak-anak Anda, waktu bersama keluarga, percakapan yang tulus dengan sahabat, saat doa, pelukan orang tua, bahkan istirahat untuk jiwa Anda sendiri. Semua itu adalah hadiah yang tak ternilai, jauh lebih berharga daripada emas.
Perumpamaan Injil hari ini mengingatkan kita bahwa keserakahan memisahkan, tetapi kemurahan hati membuka diri kita kepada Tuhan dan sesama. Mari kita memohon kebijaksanaan kepada Tuhan agar kita dapat hidup dengan bebas, menghargai apa yang benar-benar penting, dan menjadi “kaya di hadapan-Nya.”
Tuhan, kuletakkan hidupku ke dalam tangan-Mu, sebab hanya iman dan kepercayaanku kepada-Mu yang memberi damai dan sukacita abadi. Amin.
Selamat beraktivitas di pekan yang baru. ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎.
RP Joni Astanto MSC