Minggu, 19 Oktober 2025
Sabda Kehidupan
Minggu 19 Oktober 2025
Hari Minggu Misi
Lukas 18:1,7 (Luk 18:1-8)
Kata Tuhan, “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?”Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”
Menjadi Misionaris Pembawa Pengharapan
Hari ini Gereja merayakan Hari Minggu Misi. Paus Leo XIV dalam pesannya untuk Hari Minggu Misi ini, mengingatkan semua pengikut Kristus bahwa, “Allah tidak meninggalkan kita dan memanggil kita untuk sebuah “misi khusus”: “untuk membiarkan diri dibimbing oleh Roh Allah, dan dibakar dengan semangat kudus untuk masa baru evangelisasi Gereja, yang diutus untuk menghidupkan kembali pengharapan dalam dunia yang dinaungi oleh bayang-bayang kegelapan”
Untuk menjalankan misi khusus evangelisasi di zaman modern ini, Sri Paus menekankan pentingnya doa sebagai giat misioner pertama dan pada saat bersamaan merupakan “kekuatan pertama pengharapan” (Pesan Bapa Suci untuk Hari Minggu Misi Sedunia 2025).
Yesus dalam Injil hari ini, mengingatkan kita betapa kuat kuasa kekuatan doa yang tanpa jemu-jemu kita panjatkan kepada Bapa di surga. Doa adalah kekuatan karya misi, agar kita terus menghidupkan pengharapan anak-anak Allah akan pertolongan Allah yang tak pernah membiarkan kita berjuang sendirian.
Doa selalu mendekatkan kita dengan Allah agar kita selalu bersandar padaNya, dan agar seluruh dunia tahu “betapa besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16).
Dalam semangat misioner yang baru untuk mewartakan Injil, semoga kita dikuatkan oleh seruan Paulus ini, “bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa” (Rm 12:12).
Selamat Hari Minggu Misi. Mari menjadi misionaris pembawa pengharapan.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 19 Okt 2025
Minggu Pekan Biasa XXIX
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Ibr 4:12
Bacaan Injil: Luk 18:1-8
***********
Bait Pengantar Injil
Ibr 4:12
Sabda Allah itu hidup, kuat dan tajam.
Ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.
Bacaan Injil
Luk 18:1-8
Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya
yang berseru kepada-Nya.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Sekali peristiwa
Yesus menyampaikan suatu perumpamaan kepada murid-murid-Nya,
untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa
dengan tidak jemu-jemu.
Ia berkata,
“Di sebuah kota ada seorang hakim
yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati siapa pun.
Dan di kota itu ada pula seorang janda
yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata,
‘Belalah hakku terhadap lawanku!’
Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak.
Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya,
‘Walaupun aku tidak takut akan Allah
dan tidak menghormati siapa pun,
namun karena janda ini menyusahkan aku,
baiklah aku membenarkan dia,
supaya ia jangan terus menerus datang dan akhirnya menyerang aku’.”
Lalu Tuhan berkata,
“Camkanlah perkataan hakim yang lalim itu!
Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya
yang siang malam berseru kepada-Nya?
Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?
Aku berkata kepadamu:
Ia akan segera membenarkan mereka!
Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang,
adakah Ia menemukan iman di bumi?”
Demikianlah sabda Tuhan.
**********
ℍ
“Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Luk 18: 7).
Hari ini, saat Gereja di seluruh dunia merayakan Hari Minggu Misi Sedunia, Injil menyajikan kepada kita perumpamaan tentang janda yang gigih dan hakim “yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun.” Yesus menceritakan kisah ini untuk mengajarkan satu pelajaran penting: kita harus selalu berdoa dan jangan pernah putus asa.
Janda dalam perumpamaan ini tidak memiliki harta, pengaruh, atau kekuatan manusia. Dia mewakili orang miskin, yang terlupakan, dan yang tidak terdengar suaranya. Hakim itu, di sisi lain, korup, tidak peduli pada Tuhan maupun manusia. Menurut standar manusia, janda itu tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan keadilan. Namun, dia tidak menyerah. Senjatanya satu-satunya adalah ketekunan. Dia kembali lagi dan lagi, hingga akhirnya hakim itu luluh.
Jika ketekunan seperti itu dapat mempengaruhi bahkan seorang hakim yang lalim dan korup, betapa lebih lagi Bapa yang penuh kasih akan mendengarkan tangisan anak-anak-Nya? Allah kita adalah Allah yang adil; Ia tidak pernah bosan dengan kita. Ia mendengarkan doa-doa kita, meskipun jawabannya mungkin datang dengan cara yang tidak kita duga, atau pada waktu yang melampaui pemahaman kita. Dia tahu apa yang harus diberikan, kapan harus memberi dan bagaimana memberikannya. Hanya Tuhan yang melihat waktu secara keseluruhan, dan karena itu, hanya Tuhan yang tahu apa yang baik untuk kita dalam jangka panjang. Oleh sebab itu diperlukan ketekunan. Yesus mengakhiri dengan pertanyaan yang mendalam: “Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Itulah tantangan bagi kita — untuk terus berdoa, terus percaya, terus bersaksi, meskipun hasilnya tidak segera terlihat.
Pada Hari Minggu Misi Sedunia ini, saat kita merayakan Tahun Yubileum 2025, adalah waktu bagi kita untuk berjalan bersama sebagai Para Peziarah Harapan. Misi bukanlah hal yang eksklusif bagi imam, biarawan, atau mereka yang pergi ke tempat-tempat jauh; itu adalah panggilan universal bagi semua yang dibaptis. Masing-masing dari kita diutus, dan masing-masing dari kita dipanggil untuk membagikan cahaya Kristus kepada dunia.
Bagaimana kita hidup dalam misi ini? Seperti janda itu, kita mungkin merasa lemah di hadapan begitu banyak tantangan—penganiayaan karena iman, kemiskinan, kekerasan, dan perpecahan. Namun, ketekunan dalam iman, harapan, dan kasih mengubah hati. Tindakan kecil kesaksian—sepatah kata jujur di tempat kerja, kebaikan kepada tetangga, doa untuk seseorang yang membutuhkan, pengampunan dalam keluarga—ini adalah tindakan “misi”. Allah memperhatikan benih-benih kecil kita dan membuatnya bertumbuh.
Menjadi peziarah harapan berarti hidup sederhana, mengurangi keinginan yang tidak perlu, membangun jembatan, dan berjalan bersama orang lain. Misi bukanlah tentang melakukan hal-hal luar biasa, tetapi tentang setia dalam kehidupan sehari-hari.
Sahabat-sahabat, mari kita jangan menjadi lelah. Mari kita tetap berdoa dengan tekun, seperti janda itu. Mari kita terus menjalani misi, sebagai peziarah harapan. Dan semoga hidup kita, yang dijalani dengan iman dan kasih, menjadi warta Injil kepada seluruh ciptaan hingga ujung bumi.
Allah yang hidup dan mahakuasa, bantulah kiranya kami untuk senantiasa menyesuaikan kehendak kami dengan kehendak-Mu dan melayani kemuliaan-Mu dengan ketulusan hati. Amin.
Selamat Hari Minggu. ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎.
RP Joni Astanto MSC