Selasa, 14 Oktober 2025
Sabda Kehidupan
Selasa 14 Oktober 2025
Lukas 11:37-38 (Luk 11:37-41)
Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan.
Inner Beauty
Yesus tidak pernah bermaksud melanggar tata krama karena tidak mencuci tangan sebelum makan. Setiap sikap dan tindakan Yesus selalu mengandung pesan, terutama bagi orang Farisi dan ahli Taurat yang menjalankan tradisi hanya demi alasan luaran, yakni supaya dilihat orang. Bukan datang dari dorongan hati yang tulus.
Ketulusan hati itulah yang utama. Disebut sebagai ‘inner beauty’ atau kecantikan dari dalam. Bukan terutama kecantikan atau penampilan luaran.
Yesus mengajak kita masuk lebih dalam untuk menemukan dorongan hati yang penuh cinta ketika berbakti kepada Tuhan atau menolong sesama serta menjalani semua aturan keagamaan.
Kita melakukannya bukan karena disuruh orangtua, atau sekedar mengikuti aturan dan kebiasaan. Bukan juga seperti robot yang sudah disetel namun tanpa jiwa dan hati nurani.
Masih ingatkah kita mengenai protokol kesehatan di masa pandemi? Kita mencuci tangan bukan lagi karena disuruh tapi karena kesadaran pentingnya pola hidup sehat.
Untuk semua yang kita lakukan, baiklah ada motivasi yang dalam di balik semuanya, ada cinta yang tulus yang mendorongnya. Itulah kecantikan kita yang sejati, yang berasal dari dalam hati.
Selamat hari Selasa. Damai selalu di hati. Tuhan Yesus memberkati.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 14 Okt 2025
Selasa Pekan Biasa XXVIII
PF S. Kalistus, Paus dan Martir
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Ibr 4:12
Bacaan Injil: Luk 11:37-41
***********
Bait Pengantar Injil
Ibr 4:12
Sabda Allah itu hidup dan penuh daya,
menguji segala pikiran dan maksud hati.
Bacaan Injil
Luk 11:37-41
Berikanlah sedekah dan semuanya menjadi bersih.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Pada suatu ketika, selesai mengajar,
Yesus diundang seorang Farisi untuk makan di rumahnya.
Maka masuklah Yesus ke rumah itu, lalu duduk makan.
Tetapi orang Farisi itu heran
melihat Yesus tidak mencuci tangan sebelum makan.
Lalu Tuhan berkata kepadanya,
“Hai orang-orang Farisi,
kamu membersihkan cawan dan pinggan bagian luar,
tetapi bagian dalam dirimu penuh rampasan dan kejahatan.
Hai orang-orang bodoh,
bukankah yang menjadikan bagian luar,
Dialah juga yang menjadikan bagian dalam?
Maka berikanlah isinya sebagai sedekah,
dan semuanya akan menjadi bersih bagimu.
Demikianlah sabda Tuhan.
************
ℍ
“Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu,” [Luk 11: 39 – 41].
Apa yang kita baca dari Injil hari ini adalah reaksi Yesus ketika masalah mencuci tangan menjadi permasalah bagi orang-orang Farisi. Kebersihan sejati tidak datang dari hal luaran melainkan dari hati, kebersihan rohani. Tentu, menjaga kebersihan jasmani itu amat penting, tetapi kita tidak boleh terbatas pada kebersihan fisik saja. Mengapa Yesus justru berbicara tentang “memberi sedekah” saat berbicara terntang “cuci tangan”? Sebab dengan memberi dengan ikhlas dan murah hati, kita menyatakan kasih, belarasa, kemurahan dan belas kasih. Dan dalam hati yang berbelarasa dan berbelas kasih tak ada ruang untuk iri hati, dengki dan keserakahan.
Maka, agar hati kita bersih, kita harus menghidupi kasih:
Kasih dalam kata-kata. Kata-kata kita sering lebih menyakiti ketimbang pukulan atau lemparan batu. Apakah kata-kata saya menyembuhkan, menguatkan, memotivasi, mendorong, menghidupkan? Atau meremehkan, merendahkan, menyinggung, dan menyakiti?
Kasih dalam pikiran. Kata-kata tentu muncul dari apa yang kita pikirkan. Apakah saya berpikiran positif atau negatif terhadap orang lain? Berpikirlah positif terhadap orang lain sebab dengan itu kita dapat melihat Tuhan dalam diri orang lain.
Kasih dalam tindakan. Tak cukup kita berpikir dan berkata-kata yang baik. Kita juga perlu berbuat baik. Itulah kehidupan Kristus, hidup untuk melayani. Ia sendiri berkata, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Sudahkah saya berbuat baik?
Tuhan, semoga aku tiada henti berbuat baik. Amin.
Selamat pagi. Selamat beraktivitas. Selalu berbuat baik! ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎.
RP Joni Astanto MSC