Minggu, 12 Oktober 2025
Sabda Kehidupan
Minggu 12 Oktober 2025
Hari Minggu Biasa XXVIII
Lukas 17:14-16 (Luk 17:11-19)
Yesus memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.
Jangan Pernah Lupa Bersyukur
Ada 10 orang kusta yang disembuhkan Yesus, tapi hanya 1 yang kembali dan mengucap syukur pada Tuhan. Orang itu adalah seorang Samaria. Orang yang dianggap tidak mengenal Tuhan oleh orang Yahudi. Tapi justru dia-lah yang sadar akan perubahan yang terjadi dengan dirinya: ia telah sembuh, hanya oleh sabda Yesus! Ia begitu takjub dan segera kembali untuk mengucap syukur.
Bagi kebanyakan orang percaya, rahmat Tuhan terasa biasa-biasa saja, sama setiap hari. Oleh karena itu bagi tidak ada dorongan kuat untuk kembali pada Tuhan, tersungkur depan kaki Yesus dan mengucap syukur. Pikirnya matahari pasti terbit besok hari, maka tak perlu ke gereja untuk bersyukur.
Hal yang sama banyak kali terjadi antara anak-anak dan orangtua. Merasa bahwa sudah seharusnya orangtua memberikan apa yang diminta, maka setiap kali menerima, lupa untuk mengucapkan terimakasih.
Janganlah biarkan semua yang terjadi setiap hari kita anggap biasa saja. Kita perlu merasa takjub akan rahmat dan karunia Tuhan yang setiap hari kita terima.
Masih bisa bangun pagi dan mengalami hidup baru di awal hari, adalah tanda keajaiban kasih Tuhan yang masih memberi kita kesempatan untuk menikmati berkat Tuhan dan menjadi saluran berkat Tuhan.
Berjumpa dengan orang yang sama, Papa Mama, Suami Istri, anak-anak, teman-teman, perlu disyukuri. Jangan nanti ketika dia/mereka dipanggil baru kita sadar telah kehilangan.
Mari ambil waktu untuk mengagumi keajaiban kasih Tuhan. Berserulah dengan kagum: “Ajaiblah kuasaMu Bapa dalam setiap peristiwa hidupku. Bahkan dalam setiap tarikan nafasku, Engkau hidup dan aku dipenuhi oleh kasih karuniaMu yang melampaui segala akal. Betapa aku sungguh bersyukur, ya Bapa, Yesusku luar biasa, mau terus menemaniku. Mengangkat bila ku jatuh, menghibur ketika aku susah, menguatkan saat ku lemah, menegur saat ku lalai dan takabur, mndengar semua keluh kesahku. Roh KudusMu mengobarkan semangatku, menyentuh hatiku untuk berdoa dan bersyukur. RahmatMu Tuhan melimpah dalam hidupku. Terimakasih ya Yesus.”
Selamat hari Minggu. Mari ke gereja bersyukur pada Tuhan.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 12 Okt 2025
Minggu Pekan Biasa XXVIII
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: 1Tes 5:18
Bacaan Injil: Luk 17:11-19
************
Bait Pengantar Injil
1Tes 5:18
Bersyukurlah dalam segala hal,
sebab itulah yang dikehendaki Allah bagimu dalam Kristus Yesus.
Bacaan Injil
Luk 17:11-19
Tidak adakah yang kembali untuk memuliakan Allah
selain orang asing ini?
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem
Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.
Ketika Ia memasuki suatu desa
datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia.
Mereka tinggal berdiri agak jauh, dan berteriak,
“Yesus, Guru, kasihanilah kami!”
Yesus lalu memandang mereka dan berkata,
“Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.”
Dan sementara dalam perjalanan, mereka menjadi tahir.
Seorang di antara mereka,
ketika melihat bahwa ia telah sembuh,
kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,
lalu tersungkur di depan kaki Yesus
dan mengucap syukur kepada-Nya.
Orang itu seorang Samaria.
Lalu Yesus berkata,
“Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir?
Di manakah yang sembilan orang itu?
Tidak adakah di antara mereka
yang kembali untuk memuliakan Allah
selain orang asing ini?”
Lalu Ia berkata kepada orang itu,
“Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Demikianlah sabda Tuhan.
***********
ℍ
“Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau,” [Luk 17: 19]
Ketika kita mendengarkan Injil hari ini, kita diajak untuk berjalan bersama Yesus memasuki sebuah desa di mana sepuluh orang kusta berteriak memohon belas kasihan. Pada waktu itu, kusta bukan hanya penyakit fisik. Itu adalah hukuman pengucilan, rasa malu, dan keputusasaan. Mereka dianggap terkutuk, dihukum oleh Allah, sudah setengah mati. Namun, justru orang-orang terluka dan ditolak inilah yang mendekati Yesus dan berani memanggil-Nya dengan nama: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”
Ini sudah menjadi pelajaran bagi kita. Hanya mereka yang menyadari kebutuhan mereka yang berani memanggil Yesus dengan begitu akrab. Orang-orang yang merasa berkuasa, sombong, yang merasa aman dalam diri mereka sendiri, tidak memanggil nama-Nya. Tetapi orang-orang miskin, sakit, dan berdosa—mereka merasa cukup dekat untuk mempercayai-Nya, untuk berseru dengan keyakinan. Dan Yesus tidak mengecewakan mereka.
Ia tidak mundur, menghindar karena takut, jijik atau menghakimi mereka seperti yang dilakukan orang lain. Ia mengucapkan kata yang memulihkan martabat mereka: “Pergilah, tunjukkan dirimu kepada imam-imam.” Sabda-Nya saja sudah cukup. Di tengah perjalanan, mereka menyadari bahwa luka-luka mereka telah sembuh. Penyembuhan dimulai ketika mereka berangkat dengan kepercayaan, berjalan di jalan yang dibuka Yesus di hadapan mereka.
Tetapi Injil mengejutkan kita. Dari sepuluh orang kusta itu, hanya seorang Samaria, seorang asing, yang kembali. Dia tersungkur di kaki Yesus, memuji Allah. Dia mengenali bukan hanya anugerah, tetapi Pemberinya. Dia telah menemukan kemuliaan Allah yang terungkap dalam Yesus: kemuliaan bukan dari kekuasaan dan penaklukan, tetapi dari kelembutan dan belas kasih.
Inilah yang menyedihkan Yesus—bukan karena kurangnya “terima kasih,” tetapi karena kegagalan mengenali cinta Allah yang bersinar pada saat itu. Rasa syukur lebih dari sekadar sopan santun. Rasa syukur yang sejati membuka mata kita akan kehadiran Allah dalam hidup kita. Ia menyelamatkan kita dari ilusi bahwa segala yang kita miliki adalah hak kita atau hasil usaha kita sendiri. Rasa syukur mengajarkan kita untuk melihat hidup kita sebagai anugerah, sebagai karunia.
Saudara-saudari terkasih, apakah kita seperti sembilan orang yang menerima karunia dan pergi begitu saja, atau seperti satu orang Samaria yang kembali untuk memuliakan Allah? Seberapa sering kita berhenti sejenak untuk berkata: “Terima kasih, Tuhan, atas Injil yang telah membuat hidupku indah—untuk keluarga, untuk iman, untuk momen-momen pengampunan, untuk kekuatan, untuk kemampuan mencintai meskipun ada kesulitan”? Rasa syukur memperluas hati dan memungkinkan iman untuk mekar.
Kata-kata terakhir Yesus kepada orang Samaria juga ditujukan kepada kita: “Bangunlah dan pergilah; imanmu telah menyelamatkan engkau!” Bukan hanya disembuhkan, tetapi diselamatkan. Keselamatan lebih dari sekadar kesehatan fisik; itu adalah menemukan sukacita karena dicintai oleh Allah dan hidup dalam cinta-Nya. Semoga kita belajar untuk berjalan di jalan iman, syukur, dan pujian, membiarkan Injil menyembuhkan “kusta” dunia kita, dan menjadikan hidup kita nyanyian pujian bagi Allah.
Terima kasih, Tuhan. Amin.
Selamat Hari Minggu. Bersyukurlah! ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎.
RP Joni Astanto MSC