Rabu, 08 Oktober 2025
Sabda Kehidupan
Rabu 08 Oktober 2025
Lukas 11:2 (Luk 11:1-4)
Jawab Yesus kepada mereka: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu…”
Bapa Kami
Doa “Bapa Kami” yang Yesus ajarkan kepada muridNya dan kepada kita semua kelihatannya begitu sederhana tapi memang inilah inti semua doa-doa kita.
Kita menjadi sama dan satu dengan Yesus, menyapa Allah sebagai Bapa kita sendiri.
Allah yang begitu tinggi, maha agung dan perkasa, membuat kita sepatutnya gemetar bila menyebut namaNya. Tapi kini kita diberi kehormatan untuk menyapa Allah sebagai Bapa.
Hubungan kita dengan Allah bukan hanya sekedar hubungan antara Pencipta dan ciptaan, tapi sebagai anak terhadap Bapa. Begitu intim, akrab dan menyentuh hati.
Tak ada yang lebih indah dan agung dalam hidup ini selain pengangkatan kita sebagai anak Allah. Bila Allah adalah Bapa kita dan kita anak-anakNya, semua yang kita perlukan, semua yang kita harapkan dan impikan, kita serahkan pada kerahiman Allah Bapa kita.
Rasul Paulus berkata, “kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus.”(Rom 8:15-17).
Kita tak ingin mengecewakan hati Bapa kita di surga, marilah hidup sebagai putra putri kesayangan Bapa. Berdoalah Bapa Kami setiap hari, muliakanlah Allah Bapa kita melalui sikap hidup yang pantas. Mintalah selalu agar Kerajaan Allah tecipta di bumi. Mari hidup sebagai anak-anak Allah yang saling mengampuni dan berbagi rejeki kehidupan.
Biarlah kita selalu hadir di hadirat Allah dan bersandar selalu dalam pelukan kasih Bapa kita di surga.
Selamat Hari Rabu. Awalilah hari dan tutuplah hari dengan Doa Bapa Kami.❤️
Ps Revi Tanod Pr (Roma)
Kalender Liturgi 08 Okt 2025
Rabu Pekan Biasa XXVII
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Rom 8:15
Bacaan Injil: Luk 11:1-4
***********
Bait Pengantar Injil
Rom 8:15
Kalian akan menerima Roh Roh pengangkatan menjadikan anak;
dalam Roh itu kita berseru, ‘Abba, ya Bapa.’
Bacaan Injil
Luk 11:1-4
Tuhan, ajarlah kami berdoa.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Pada waktu itu Yesus sedang berdoa di salah satu tempat.
Ketika Ia berhenti berdoa,
berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya,
“Tuhan, ajarlah kami berdoa,
sebagaimana Yohanes telah mengajar murid-muridnya.”
Maka Yesus berkata kepada mereka,
“Bila kalian berdoa, katakanlah:
‘Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.
Berilah kami setiap hari makanan yang secukupnya,
dan ampunilah dosa kami,
sebab kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”
Demikianlah sabda Tuhan.
************
ℍ
“Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” (Luk 11: 2 – 4)
Dalam Injil hari ini, para murid memohon kepada Yesus, “Tuhan, ajarlah kami berdoa.” Mereka telah melihat-Nya berdoa sering kali, dan mereka rindu untuk berbagi keintiman dengan Bapa. Yesus menjawab dengan memberikan doa yang kini kita kenal sebagai “Bapa Kami.” Sederhana, singkat, namun mengandung segala sesuatu.
Doa tidak dimulai dengan rasa takut, melainkan dengan kepercayaan. Kita mendekati Allah bukan sebagai seorang yang enggan memberi, melainkan sebagai Bapa yang penuh kasih yang bergembira atas kebutuhan kita. Yesus telah mengubah cara kita memahami doa: doa bukanlah sebuah teknik, melainkan relasi.
Urutan doa juga penting. Sebelum meminta apa pun untuk diri kita sendiri, kita menempatkan Allah di tempat yang pertama: “Dikuduskanlah nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu.” Ketika Allah berada di pusat, kebutuhan kita menemukan tempat yang tepat. Lalu kita berdoa untuk makanan sehari-hari, rejeki — bukan untuk besok atau tahun depan, tetapi untuk hari ini. Kita memohon pengampunan atas dosa-dosa kita, sebagaimana kita mengampuni orang lain. Dan kita memohon kekuatan untuk menghadapi cobaan, mengetahui bahwa godaan dan ujian adalah bagian dari hidup, tetapi tidak pernah melampaui pertolongan Allah.
Doa ini mencakup seluruh kehidupan: kebutuhan kita saat ini, kegagalan kita di masa lalu, dan perjuangan kita di masa depan. Ia mengingatkan kita untuk hidup sehari demi sehari, selalu berakar pada belas kasih dan cinta Allah.
Bacaan pertama dari Nubuat Yunus menyoroti kebenaran yang sama dari sudut pandang yang berbeda. Yunus marah ketika Allah menyelamatkan Niniwe, karena hatinya belum mampu memahami belas kasihan Allah yang tak terbatas. Betapa berbeda dengan “Bapa Kami”, yang menempatkan pengampunan dan belas kasih di pusatnya! Doa bukanlah tentang memaksa Tuhan untuk menuruti kehendak kita, tetapi tentang membiarkan Tuhan mengarahkan hati kita kepada belas kasihan-Nya.
Hari ini, mari kita berdoa Doa Bapa Kami bukan sebagai hafalan, tetapi sebagai peta jalan untuk hidup kita: mempercayai Bapa, mencari Kerajaan-Nya, menerima pengampunan-Nya, dan memperluasnya kepada orang lain.
Tuhan, ajarlah kami berdoa. Amin.
Selamat beraktivitas. Bapa mengasihimu. ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎.
RP Joni Astanto MSC