Minggu, 05 Oktober 2025
Sabda Kehidupan
Minggu 05 Oktober 2025
Hari Minggu Biasa XXVII
Lukas 17:5-6 (Luk 17:5-10)
Kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan: “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”
Beriman Sebagai Hamba
Para rasul merasa bahwa iman mereka terlalu kecil atau kurang. Mereka ingin Yesus menambah iman mereka. Memperbesar atau memperbanyak. Tapi Yesus bukannya menambah atau memperbanyak iman mereka, melainkan mengingatkan para rasul dan kita semua, bahwa sekalipun iman itu sekecil biji sesawi, tapi kalau kita percaya akan kuasaNya yang melampaui segala akal, menjadikan Allah di atas segalanya, serta berserah sepenuhnya pada penyelenggaraan Allah, dan menempatkan seluruh hidup kita dalam tangan kasihNya, betapa dahsyat kuasa iman itu.
Bukankah Yesus telah berkata, “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya” (Mrk 9:23).
Dengan memiliki hati sebagai hamba serta sepenuhnya berserah pada kerahiman Allah, kita mengaminkan kuasa Allah bekerja dalam hidup kita.
Bunda Maria menjadi teladan kita untuk beriman dan memiliki hati sebagai hamba. Katanya kepada malaikat Gabriel, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu.” (Luk 1:38).
Sesungguhnya iman adalah anugerah agung Allah, untuk kita dapat menaruh segala harapan hidup kita pada Allah. Ia adalah gembala kita yang tak akan membiarkan kita berkurangan. Ia menuntun kita ke jalan yang benar, menemani kita berjalan bersama dalam terang Roh KudusNya. Ia hadir dalam setiap peristiwa hidup kita, dan memberikan Yesus PuteraNya, Tuhan kita, menjadi jalan-kebenaran-hidup kita.
Ia menjaga kita karena Ia mengasihi kita dengan cinta yang tak berbatas dan tak bersyarat. Ia menjadikan segala sesuatu indah pada waktuNya karena Ia penyelamat kita.
Kita percaya bahwa sebuah biji sesawi akan bertumbuh menjadi pohon yang besar oleh kuasa Allah. Demikian hidup kita di tangan Allah.
“Ya Bapa, aku percaya. Tolonglah aku yang kurang percaya ini. Ke dalam tanganMu kuserahkan seluruh hidupku. Amin.“
Selamat Hari Minggu. Mari bersyukur atas anugerah iman kita.❤️
Ps Revi Tanod Pr (Lourdes)
Kalender Liturgi 05 Okt 2025
Minggu Pekan Biasa XXVII
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: 1Ptr 1:25
Bacaan Injil: Luk 17:5-10
***********
Bait Pengantar Injil
1Ptr 1:25
Firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya;
Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu.
Bacaan Injil
Luk 17:5-10
Sekiranya kamu mempunyai iman!
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Sekali peristiwa,
setelah Yesus menyampaikan beberapa nasihat,
para rasul berkata kepada-Nya,
“Tuhan, tambahkanlah iman kami!”
Tetapi Tuhan menjawab,
“Sekiranya kamu memiliki iman sebesar biji sesawi,
kamu dapat berkata kepada pohon ara ini,
‘Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut’
dan pohon itu akan menuruti perintahmu.
Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba
yang membajak atau menggembalakan ternak baginya,
akan berkata kepada hamba itu waktu ia pulang dari ladang,
‘Mari segera makan’?
Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu
‘Sediakanlah makananku.
Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku
sampai aku selesai makan dan minum;
dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum’?
Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu,
karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?
Demikian jugalah kamu.
Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu
yang ditugaskan kepadamu,
hendaklah kamu berkata,
‘Kami ini hamba-hamba yang tidak berguna;
kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.”
Demikianlah sabda Tuhan.
***************
ℍ
“Tambahkanlah iman kami!” (Luk 17: 5)
Para murid mengajukan permohonan rendah hati kepada Yesus: “Tambahkanlah iman kami.” Ini adalah doa yang dengan mudah dapat menjadi doa kita. Seringkali, ketika kita mengalami perjuangan hidup, ketidakadilan di dunia, atau bahkan kelemahan kita sendiri, kita pun merasa membutuhkan iman yang lebih kuat.
Namun, Yesus tidak menjanjikan kepada mereka, “Ini, Aku akan memberikan kalian iman yang lebih banyak.” Sebaliknya, Ia berkata bahwa benih iman yang paling kecil pun memiliki kuasa yang luar biasa: “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”.” Dengan kata lain, pertanyaannya bukan seberapa besar iman yang kita miliki, tetapi apakah kita benar-benar mempercayai Allah dengan apa yang sudah kita miliki.
Iman bukanlah sesuatu yang dapat diukur, tetapi hubungan yang harus dijalani. Ini bukan tentang memiliki kekuatan, tetapi tentang mempercayai Dia yang berkuasa. Nabi Habakkuk mengingatkan kita akan hal ini ketika ia berkata: “Orang benar hidup oleh iman,” (Hab 2: 4). Iman memungkinkan kita untuk terus berjalan bahkan ketika kegelapan mengelilingi kita, mengetahui bahwa Allah tidak akan meninggalkan kita.
Paulus, dalam suratnya kepada Timotius, mengembangkan hal ini lebih lanjut: “Kobarkanlah karunia Allah yang ada padamu.” Iman adalah karunia, tetapi juga tanggung jawab. Seperti api, ia harus dipelihara atau akan padam. Timotius didorong untuk tidak malu atau takut menderita, tetapi percaya pada Roh yang memberikan keberanian dan kekuatan. Demikian pula, kita telah dipercayakan dengan Injil dan dipanggil untuk melindunginya dengan bantuan Roh. “Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita.”
Dan Yesus menambahkan suatu pelajaran yang sulit: mengikut Kristus adalah pelayanan. Ia menceritakan perumpamaan tentang hamba yang, setelah bekerja sepanjang hari, tidak dipuji tetapi diharapkan untuk melayani lebih banyak lagi. “Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan,” (Luk 17: 10). Pada awalnya, ini terdengar keras. Tetapi Yesus sedang mengajarkan sesuatu yang esensial: pelayanan kita kepada Allah dan sesama bukanlah tentang mendapatkan imbalan atau membuat Allah berhutang kepada kita. Cinta bukanlah transaksi; itu adalah cara hidup.
Seorang murid selalu menjadi hamba, karena itulah sifat sejati Kristus sendiri. Ia tidak datang untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Iman kita, oleh karena itu, tidak dibuktikan oleh mukjizat atau prestasi, tetapi oleh cinta yang rendah hati dan tanpa pamrih—cinta yang mengampuni, yang melayani orang miskin, yang mengantisipasi kebutuhan orang lain tanpa menunggu diminta.
Jadi hari ini, mari kita berdoa bersama para rasul: “Tambahkanlah iman kami.” Dan mari kita pahami apa yang kita minta: bukan lebih banyak kuantitas, tetapi kepercayaan yang lebih dalam. Iman sebesar biji sesawi dapat mencabut kebencian, mengatasi perpecahan, menyembuhkan hubungan yang rusak, dan membangun dunia baru yang adil dan damai. Itulah mukjizat iman: ketika kita menaruh sedikit kepercayaan pada Yesus, Allah dapat melakukan apa yang tampaknya mustahil.
Tuhan, berilah kami iman yang teguh yang membantu kami mengatasi segala kebimbangan dan keragu-raguan, agar kami tetap mencari kehendak dan rencan-Mu dalam situasi apapun. Amin.
Selamat Hari Minggu. Kobarkan karunia Allah yang ada padamu! ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎.
RP Joni Astanto MSC