Selasa, 30 September 2025
Sabda Kehidupan
Selasa 30 September 2025
Peringatan St Hieronimus
Lukas 9:53-55 (Luk 9:51-56)
Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.
Usahakanlah Perdamaian, Bukan Permusuhan. Pengampunan Bukan Balas Dendam
Orang Samaria dan Orang Yahudi sebenarnya adalah kakak beradik. Sesudah Salomo anak Daud meninggal, Kerajaan Israel terpecah menjadi 2 yakni Kerajaan Utara dengan ibu kota Samaria dan Kerajaan Selatan dengan ibu kota Yerusalem.
Kerajaan Utara kemudian dikuasai bangsa Asyur dan Kerajaan Selatan dikuasai bangsa Babilonia.
Sesudah pembuangan ke Babel orang Israel kembali ke Yerusalem dan membangun kembali kota itu. Mereka kemudian disebut orang Yahudi karena sebagian besar berasal dari keturunan Yehuda.
Sementara itu, orang Israel dari Kerajaan Utara yang dijajah bangsa Asyur telah bercampur baur dengan penjajahnya dan menyembah dewa-dewa para penjajah, bukan lagi menyembah Allah. Merekalah orang Samaria. Karena mereka telah murtad, itulah sebabnya orang Samaria sangat dibenci orang Yahudi.
Begitulah yang terjadi bila dua kakak beradik bermusuhan. Sungguh sulit dipersatukan. Mereka saling membenci satu sama lain. Rasul Yohanes dan Yakobus dalam Injil hari ini mewakili orang Yahudi yang sangat membenci orang Samaria. Apalagi ketika orang Samaria menolak Yesus masuk ke kotanya.
Namun Yesus tidak mengijinkan mereka membalas dendam. Ia datang bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Yoh 3:17). Jalan pengampunan dan belaskasih adalah jalan yang ditunjuk Yesus.
Mari menjadi pembawa damai. Biarlah doa St Fransiskus Asisi menjadi nyata dalam hidup kita:
Bila terjadi kebencian, jadilah pembawa cinta kasih. Bila terjadi penghinaan, jadilah pembawa pengampunan. Bila terjadi perselisihan, jadilah pembawa kerukunan. Bila terjadi keputusasaan, jdilah pembawa harapan. Bila terjadi kegelapan, jadilah pembawa terang. Bila terjadi kesedihan, jadilah pembawa sukacita.
Syalom, damai selalu di hati.❤️
Ps Revi Tanod Pr (Santiago de Compostela – Spanyol)
Kalender Liturgi 30 Sep 2025
Selasa Pekan Biasa XXVI
PW S. Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja
Warna Liturgi: Putih
Bait Pengantar Injil: Mrk 10:45
Bacaan Injil: Luk 9:51-56
************
Bait Pengantar Injil
Mrk 10:45
Anak Manusia datang untuk melayani
dan menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi semua orang.
Bacaan Injil
Luk 9:51-56
Yesus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Ketika hampir genap waktunya diangkat ke surga,
Yesus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem.
Diutusnya beberapa utusan mendahului Dia.
Mereka itu pergi, lalu masuk ke sebuah desa orang Samaria
untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya.
Tetapi orang-orang Samaria di situ tidak mau menerima Dia,
karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem.
Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata,
“Tuhan, bolehkah kami menurunkan api dari langit
untuk membinasakan mereka?”
Tetapi Yesus berpaling dan menegur mereka,
“Kalian tidak tahu apa yang kalian inginkan.
Anak Manusia datang bukan untuk membinasakan orang,
melainkan untuk menyelamatkannya.”
Lalu mereka pergi ke desa lain.
Demikianlah sabda Tuhan.
***********
ℍ
“Orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.” (Luk 9: 53 – 55).
Injil hari ini memberikan kita dua pelajaran penting tentang toleransi. Pertama, para murid ingin menghentikan seseorang yang mengusir setan atas nama Yesus karena dia “bukan salah satu dari mereka.” Namun, Yesus tidak mengizinkannya. Pekerjaan Allah tidak terbatas pada satu lingkaran, satu kelompok, atau satu metode. Di mana pun kebaikan dilakukan atas nama-Nya, Roh-Nya bekerja di sana.
Kedua, ketika sebuah desa Samaria menolak untuk menerima mereka, Yakobus dan Yohanes ingin memanggil api dari surga. Sekali lagi, Yesus menegur mereka. Ia tidak mengizinkan semangat untuk misi-Nya berubah menjadi kekerasan terhadap orang lain. Sebaliknya, Ia memilih jalan yang lebih sulit: kesabaran, penghargaan, dan kasih, bahkan dalam penolakan.
Toleransi sejati bukanlah ketidakpedulian, melainkan kasih. Itu berarti melihat orang lain—bahkan mereka yang tidak setuju dengan kita—bukan sebagai musuh yang harus dihancurkan, melainkan sebagai saudara dan saudari yang harus dimenangkan dengan kesabaran dan kebaikan. Inilah jalan Kristus.
Pada peringatan Santo Hieronimus ini, kita melihat bagaimana Injil ini berbicara kepada kita. Hieronimus memiliki temperamen yang panas, sering tajam dalam debat, dan kadang-kadang intoleran dalam kata-kata. Namun, ia menghabiskan hidupnya dalam pelayanan tanpa lelah terhadap Firman Allah, menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Latin agar generasi-generasi tak terhitung dapat mendekati Kristus.
Ketajamannya pada akhirnya berakar pada cinta akan kebenaran dan semangat untuk jiwa-jiwa. Ia mengajarkan kepada kita bahwa toleransi sejati bukanlah ketidakpedulian, melainkan cinta — cinta yang mencari kebenaran, cinta yang memperbaiki kesalahan dengan kasih, dan cinta yang menyambut setiap usaha tulus untuk melayani Allah.
Seperti Hieronimus, kita dipanggil untuk bersemangat bagi Injil, tetapi selalu dengan hati Kristus: teguh dalam kebenaran, namun sabar dan penuh belas kasih terhadap orang lain.
Tuhan, bantulah kami tetap bersemangat mewartakan Injil bagi semua. Amin.
Selamat beraktivitas. ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎.
RP Joni Astanto MSC