KATEKESE II BULAN SEPTEMBER : PEMBAHARUAN RELASI MANUSIA DENGAN ALAM
KATEKESE II BULAN SEPTEMBER : PEMBAHARUAN RELASI MANUSIA DENGAN ALAM
Membarui Relasi dengan Alam
Katekese Kitab Suci dalam BKSN tentang Lingkungan
Urgensi Membarui Relasi dengan Alam
Dunia kita saat ini menghadapi krisis ekologis yang serius. Pemanasan global, perubahan iklim, pencemaran air, udara, dan tanah, berkurangnya keanekaragaman hayati, banjir bandang, kekeringan ekstrem, hingga meningkatnya bencana alam akibat ulah manusia, semuanya menjeritkan satu pesan: relasi manusia dengan alam sudah rusak.
Susananya sudah seperti kata Nabi Yeremia, “Aku melihat kepada bumi, ternyata campur baur dan kosong; melihat kepada langit, tidak ada terangnya. Aku melihat kepada gunung-gunung, ternyata goncang, dan seluruh bukit pun bergoyang. Aku melihat, ternyata tidak ada manusia, dan semua burung di udara sudah lari. Aku melihat, ternyata tanah yang subur adalah padang gurun, dan segala kotanya sudah runtuh di hadapan TUHAN, di hadapan murka-Nya yang menyala-nyala” (Yer 4:23–26).
Kita bisa melihat tanda-tanda itu di sekitar kita. Hutan-hutan dibabat habis demi kepentingan ekonomi; sungai-sungai berubah menjadi tempat sampah raksasa; udara di kota- kota besar penuh polusi; cuaca menjadi tidak menentu sehingga petani kesulitan menanam; dan binatang pun kehilangan habitatnya. Alam seakan-akan sedang bersuara, “Cukup sudah!”
Kitab Suci sendiri telah menubuatkan bahwa rusaknya alam seringkali menjadi akibat ketidaksetiaan manusia kepada Allah. Nabi Hosea menyatakan, “Sebab itu negeri akan berkabung dan setiap orang yang diam di dalamnya akan merana, juga binatang-binatang di padang dan burung-burung di udara, bahkan ikan-ikan di laut akan hilang lenyap” (Hos 4:3). Kata-kata ini terasa sangat nyata di zaman kita. Ketika manusia hanya mencari keuntungan tanpa peduli pada ciptaan, maka seluruh kosmos ikut menderita.
Karena itu, urgensi membaru relasi dengan alam bukan sekadar demi lingkungan yang indah, melainkan demi hidup manusia sendiri dan demi rencana keselamatan Allah atas seluruh ciptaan.
Nasihat Allah untuk Membaru Relasi dengan Alam
Kitab Zakaria dan Maleaki, yang menjadi sumber BKSN tahun ini, juga menyimpan pesan penting mengenai hubungan manusia dengan ciptaan. Nabi Zakaria menegaskan bahwa Allah adalah sumber kehidupan dan pemilik alam semesta: “Beginilah firman TUHAN yang membentangkan langit, yang mendasarkan bumi dan yang membentuk roh manusia di dalam dirinya” (Za 12:1). Ayat ini mengingatkan bahwa alam semesta bukan hasil kebetulan, melainkan karya kasih Allah sendiri. Maka, manusia harus menghormati dan merawatnya.
Nabi Maleaki juga menegaskan bahwa seluruh ciptaan adalah karya Allah yang satu dan sama. “Bukankah kita sekalian mempunyai satu Bapa? Bukankah satu Allah yang menciptakan kita?” (Mal 2:10). Jika Allah yang satu menciptakan kita dan seluruh ciptaan, maka merusak alam berarti melukai karya Sang Pencipta.
Selain dari kedua nabi kecil ini, Kitab Suci penuh dengan seruan untuk menghargai alam. Kitab Kejadian sejak awal mengajarkan panggilan manusia untuk menjaga bumi. “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kej 2:15). Perintah ini jelas: manusia bukan pemilik mutlak bumi, melainkan pengelola yang bertanggun g jawab.
Mazmur pun berulang kali mengajak manusia melihat kebesaran Allah dalam alam, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mzm 19:2). Sementara dalam Mazmur lain, ciptaan digambarkan ikut memuji Allah, “Biarlah laut bergemuruh serta isinya, dunia serta yang diam di dalamnya! Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan, dan gunung-gunung bersama-sama bersorak-sorai di hadapan TUHAN” (Mzm 98:7-9).
Yesus sendiri sering memakai alam sebagai sarana pewartaan. Ia menunjuk pada bunga bakung di padang yang tidak memintal tetapi berpakaian lebih indah daripada Salomo (Mat 6:28-29), dan burung pipit yang dijaga oleh Allah (Mat 10:29-31). Semua itu meneguhkan bahwa Allah peduli bukan hanya pada manusia, tetapi juga pada seluruh ciptaan.
Paus Fransiskus melalui Ensiklik Laudato Si’ (2015) mengajak seluruh umat manusia untuk bertobat ekologis. Paus menyatakan, “Segala sesuatu saling berhubungan, dan kita semua manusia bersatu sebagai saudara dan saudari dalam peziarahan yang indah ini, terjalin bersama oleh cinta Allah terhadap setiap ciptaan-Nya” (LS 92).
Dokumen Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, juga menyinggung tugas manusia terhadap alam. “Manusia, diciptakan menurut gambar Allah, telah dipanggil untuk menaklukkan bumi dengan segala isinya dan menguasainya, tetapi dalam roh yang benar, yaitu dengan memelihara dan melestarikannya” (GS 34). Dengan kata lain, perintah “menguasai” bumi (Kej 1:28) tidak boleh ditafsirkan sebagai eksploitasi, tetapi sebagai tanggung jawab penuh kasih.
Maka, nasihat Allah yang disampaikan lewat Kitab Suci dan diperkuat ajaran Gereja sangat jelas. Kita harus membaru relasi dengan alam, bukan hanya demi kelestarian lingkungan, tetapi demi kesetiaan kita kepada Allah Sang Pencipta.
Sumber Komisi Kerasulan Kitab Suci KAM