Kamis, 18 September 2025
Sabda Kehidupan
Kamis 18 September 2025
Lukas 7:47a (Luk 7:36-50)
“Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih…”
Kasih Penebus Dosa
Yesus sangat tersentuh oleh ungkapan kasih yang ditunjukkan si wanita pendosa padaNya. Ia membasuh kaki Yesus dengan air matanya, itulah air mata penyesalan atas dosa-dosanya. Ia menyeka kaki Yesus dengan rambutnya. Sekalipun martabatnya telah hilang ia masih punya rambut yang menjadi mahkota seorang wanita. Mahkota itu dipakainya untuk menyeka kaki. Ini suatu tanda penghormatan kepada Yesus.
Wanita ini juga meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi. Padahal kaki bukan tempat urapan minyak wangi. Ini suatu tanda kerendahan hati dan pemuliaan bagi Yesus, apalagi ia mencium kaki Yesus.
Rambut, airmata dan minyak wangi adalah tiga hal yang sangat pribadi dan khas bagi seorang wanita. Wanita ini sekalipun pendosa berat, lebih tepat seorang pelacur, masih punya apa yang sangat bernilai yang ia persembahkan pada Yesus yakni air mata, rambut dan minyak wangi dan tentu saja hati yang penuh penyesalan. Semuanya itu adalah ungkapan kasihnya pada Yesus. Olehnya martabat wanita ini dipulihkan Yesus.
Yesus tidak peduli apa kata orang terhadapNya karena membiarkan diriNya didekati oleh seorang pelacur dan menyentuh tubuhNya. Semua itu adalah tindakan kasih, kerendahan hati dan penyembahan.
Bagi Yesus kasih adalah penghapus dosa karena dosa terjadi ketika kasih tidak ada. Sebagaimana malam tercipta ketika matahari menghilang, atau gelap datang ketika cahaya padam. Bila matahari terbit dan cahaya datang, sirnalah kegelapan tergantikan terang.
Bila kasih adalah nyala api yang berkobar dan Roh Kudus adalah sumber api cinta Kristus, mari datang pada Yesus untuk menyalakan api cinta kita agar tidak padam oleh keinginan untuk mencari kesenangan diri dan hanya mau menang sendiri.
Yesus telah mengampuni dan memulihkan martabat kita, mari memperbanyak perbuatan kasih, rela mengampuni. Berilah kesempatan baik bagi diri sendiri maupun orang lain untuk memulai baru lagi.
Selamat hari baru, kesempatan baru untuk memperbanyak perbuatan kasih.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 18 Sep 2025
Kamis Pekan Biasa XXIV
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Mat 11:28
Bacaan Injil: Luk 7:36-50
***************
Bait Pengantar Injil
Mat 11:28
Datanglah kepada-Ku,
kalian semua yang letih dan berbeban berat.
Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Bacaan Injil
Luk 7:36-50
Dosanya yang banyak telah diampuni,
karena ia telah banyak berbuat kasih.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Pada suatu ketika
seorang Farisi mengundang Yesus makan di rumahnya.
Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan.
Di kota itu ada seorang wanita yang terkenal sebagai orang berdosa.
Ketika mendengar
bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu,
datanglah ia membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi.
Sambil menangis ia berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya,
lalu membasahi kaki-Nya dengan air matanya,
dan menyekanya dengan rambutnya.
Kemudian ia mencium kaki Yesus
dan meminyakinya dengan minyak wangi.
Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu,
ia berkata dalam hati,
“Seandainya Dia ini nabi, mestinya Ia tahu,
siapakah dan orang apakah wanita yang menjamah-Nya ini;
semestinya Ia tahu, bahwa wanita ini adalah orang yang berdosa.”
Lalu Yesus berkata kepada orang Farisi itu,
“Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.”
Sahut Simon, “Katakanlah, Guru.”
“Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang.
Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh.
Karena mereka tidak sanggup membayar,
maka hutang kedua orang itu dihapuskannya.
Siapakah di antara mereka akan lebih mengasihi dia?”
Jawab Simon,
“Aku sangka, yang mendapat penghapusan utang lebih banyak!”
Kata Yesus kepadanya, “Betul pendapatmu itu!”
Dan sambil berpaling kepada wanita itu,
Yesus berkata kepada Simon, “Engkau melihat wanita ini?
Aku masuk ke dalam rumahmu,
namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku;
tetapi wanita ini membasahi kaki-Ku dengan air mata
dan menyekanya dengan rambutnya.
Engkau tidak mencium Aku,
tetapi sejak Aku masuk, ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku.
Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak,
tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.
Sebab itu Aku berkata kepadamu,
‘Dosanya yang banyak itu telah diampuni,
karena ia telah banyak berbuat kasih.
Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih!”
Lalu Yesus berkata kepada wanita itu: “Dosamu telah diampuni.”
Orang-orang yang makan bersama Yesus berpikir dalam hati,
“Siapakah Dia ini, maka Ia dapat mengampuni dosa?”
Tetapi Yesus berkata kepada wanita itu,
“Imanmu telah menyelamatkan dikau. pergilah dengan selamat!”
Demikianlah sabda Tuhan.
****************
ℍ
“Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu,” (Luk 7: 37 – 38).
Perikope Injil hari ini terpampang di hadapan kita seperti sebuah lukisan, begitu hidup sehingga kita hampir dapat melihat warnanya dan gerakannya. Adegan ini berlangsung di rumah Simon orang Farisi, di mana Yesus sedang bersantap. Menurut adat, seorang tamu kehormatan seharusnya disambut dengan ciuman damai, kakinya dibasuh dengan air, dan kepalanya diurapi dengan minyak wangi. Namun Simon, sang tuan rumah, tidak memberikan penghormatan tersebut. Yesus diundang mungkin karena rasa ingin tahu, bukan karena cinta.
Lalu masuklah seorang perempuan, yang dikenal oleh semua orang sebagai seorang pendosa. Yang ia bawa hanyalah air matanya dan sebuah buli-buli pualam. Dengan kerendahan hati yang mendalam, ia membasahi kaki Yesus dengan air matanya, mengeringkannya dengan rambutnya yang terurai, dan mengurapi kaki-Nya dengan minyak wangi. Dia melanggar semua pranata sosial, melupakan semua orang kecuali Yesus. Dan dalam kerentanannya, dia menemukan belas kasihan.
Di sini kita melihat dua hati yang bertentangan: hati Simon yang puas diri, dan hati perempuan itu, yang terbuka dalam kebutuhan. Simon tidak merasa membutuhkan, jadi dia tidak menunjukkan kasih, dan dia tidak menerima pengampunan. Perempuan itu, yang sadar akan kelemahannya, mencurahkan kasihnya, dan sebagai balasannya, dia menerima pengampunan dan damai.
Inilah paradoks iman kita: orang yang menganggap dirinya benar menutup pintu bagi belas kasih Allah, sementara orang yang menyadari kebutuhannya membuka diri bagi kasih-Nya.
Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing: ketika mendengar ungkapan “seorang berdosa”, siapa yang pertama kali saya ingat? Suami atau istri yang selingkuh? Pejabat pemerintah yang korup atau punya simpanan? Pegawai yang tak jujur? Pelacur jalanan? Tetapi ketika Tuhan berkata: “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa,” Ia tidak hanya berbicara tentang orang-orang yang kita ingat tadi, atau orang-orang lain, tetapi juga SAYA dan ANDA.
Ketika kita mendengar kata “pendosa”, janganlah mengingat orang lain. Ingatlah diri sendiri. Kita harus katakan “Ketika saya mendengar kata, “pendosa”, saya harus ingat bahwa saya adalah seorang pendosa.” Sebab jika kita mendengar kata “pendosa” dan yang pertama kita ingat adalah orang lain, maka kita jatuh dalam dosa kemunafikan. Sama seperti Simon, orang Farisi yang puas diri dan merasa benar.
Mari kita belajar dari perempuan dalam Injil ini: berlutut di hadapan Yesus dengan segala air mata kita, melepaskan kebanggaan kita, dan membiarkan pengampunan-Nya memulihkan kita.
Tuhan, kasihanilah aku orang berdosa. Amin.
Selamat beraktivitas hari ini. Banyaklah berbuat kasih. ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎.
RP Joni Astanto MSC