Selasa, 16 September 2025
Sabda Kehidupan
Selasa 16 September 2025
Peringatan St. Kornelius dan St. Siprianus
Lukas 7:13-14 (Luk 7:11-17)
Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!”
Yesus Mengerti Pergumulan Kita
Dalam kisah Injil tentang “Yesus yang membangkitkan anak muda di Nain,” diceritakan penginjil Lukas bahwa tanpa diminta, Yesus yang selalu tergerak oleh belaskasihan, langsung menghampiri rombongan pembawa jenazah, dan segera bertindak. Pertama Ia menghibur Si Ibu yang sudah janda. Yesus menguatkan hati Ibu Janda yang sedih karena kematian putranya, lalu membangkitkan anaknya yang sudah mati itu.
Yesus Tuhan kita adalah Allah yang menjelma menjadi manusia. Ia sungguh mengerti kesedihan kita ditinggal pergi orang yang dicintai. Yesus hadir membawa penghiburan dan harapan bagi setiap orang yang berduka.
Yesus juga ikut bersedih bila kita bersedih. Ia juga menangisi kematian Lazarus. Tapi Yesus tidak ingin kita larut dalam kesedihan.
Ia telah berjanji, “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur” (Mat 5:4). Yesus ada untuk menguatkan kita di saat kita ‘down’, jatuh dan terpuruk. Ia juga ada untuk membangkitkan semangat hidup kita. “Bangkitlah!” Kata Yesus.
Sambutlah tangan Yesus yang selalu terulur untuk mengangkat kita, membangkitkan dan menghidupkan kembali gairah hidup kita dalam melanjutkan perjalanan hidup ini. Sebelum kita meminta, Yesus sudah tahu kita butuh pertolonganNya. Ia tak akan pernah membiarkan kita bergumul sendiri.
Selamat hari Selasa. Bangkitlah, Yesus menemani kita.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 16 Sep 2025
Selasa Pekan Biasa XXIV
PW S. Kornelius, Paus, dan Siprianus, Uksup; Martir
Warna Liturgi: Merah
Bait Pengantar Injil: Luk 7:16
Bacaan Injil: Luk 7:11-17
*************
Bait Pengantar Injil
Luk 7:16
Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,
dan Allah mengunjungi umat-Nya.
Bacaan Injil
Luk 7:11-17
Hai Pemuda, bangkitlah!
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Pada suatu ketika pergilah Yesus ke sebuah kota bernama Nain.
Para murid serta banyak orang pergi bersama Dia.
Ketika Ia mendekati pintu gerbang kota,
ada orang mati diusung ke luar,
yaitu anak laki-laki tunggal seorang ibu yang sudah janda.
Banyak orang kota itu menyertai janda tersebut.
Melihat janda itu tergeraklah hati Tuhan oleh belas kasihan.
Lalu Tuhan berkata kepadanya, “Jangan menangis!”
Dihampiri-Nya usungan jenazah itu dan disentuh-Nya,
Maka para pengusung berhenti.
Tuhan berkata, “Hai Pemuda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!”
Maka bangunlah pemuda itu, duduk, dan mulai berbicara.
Yesus lalu menyerahkannya kepada ibunya.
Semua orang itu ketakutan,
dan mereka memuliakan Allah sambil berkata,
“Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,”
dan “Allah telah mengunjungi umat-Nya.”
Maka tersiarlah kabar tentang Yesus ke seluruh Yudea
dan ke seluruh daerah sekitarnya.
Demikianlah sabda Tuhan.
***************
ℍ
“Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” (Luk 7: 13 – 14)
Kisah perjumpaan Yesus dengan rombongan yang mengusung anak laki-laki tunggal seorang janda di Nain yang meninggal sungguh menyentuh hati.
Yesus tergerak hati-Nya oleh belas kasih. Kata “belas kasih” (compassio” dalam bahasa Latin atau compassion dalam bahasa Inggris) sebenarnya belum mencakup apa yang dirasakan oleh Yesus. Kata kerja bahasa Yunani “splagchnizomai” digunakan dalam Kitab Suci. Kata tersebut berasal dari kata “splagchnon” yang berarti usus, bagian bawah perut, isi perut atau hati, yang menunjuk pada bagian terdalam tubuh dari mana emosi yang sangat kuat timbul. Kata tersebut dengan demikian menunjuk pada gerakan atau impuls yang membuncah dari kedalaman, a gut reaction. Terjemahan “tergerak oleh belas kasih” sebenarnya belum mengungkapkan hal itu. Itu adalah sungguh-sungguh merupakan perasaan manusiawi Yesus. Banyak dari aktivitas dan pemikiran Yesus yang didasari compassio itu dan pengaruh-nya terhadap orang-orang sungguh tak terpikirkan.
Belas kasih adalah MENDERITA BERSAMA. Belas kasih itu menuntut kita untuk pergi ke tempat di mana penderitaan terjadi, untuk masuk ke tempat-tempat yang menyakitkan, untuk berbagi dalam kehancuran, ketakutan, kebingungan, dan kesedihan. Ini menantang kita untuk menderita bersama dengan mereka yang menderita, berkabung dengan mereka yang kesepian, menangis bersama mereka yang menangis. Itu menuntut kita untuk menjadi lemah dengan yang lemah, menjadi tidak berdaya bersama dengan yang tidak berdaya. Hal ini bukan mengulurkan tangan terhadap yang kurang beruntung dari posisi yang lebih tinggi; itu bukan menjangkau dari atas kepada mereka yang kurang beruntung di bawah; itu bukan sikap simpati, atau kasihan bagi mereka yang gagal merangkak ke atas. Sebaliknya, belas kasih berarti pergi langsung kepada/bersama orang-orang dan tempat-tempat di mana penderitaan paling akut dan “tinggal” di sana.
Kapan terakhir kali saya membantu sesama yang sungguh-sungguh membutuhkan uluran tangan? Berapa sering kah saya memilih untuk menghindar dan menolak untuk terlibat dalam kesulitan sesama? Kapan saya berlalu saja, tidak mau berhenti sejenak, menyentuh dengan belas kasih seseorang yang sungguh-sungguh perlu untuk dibangkitkan dari “mati”?
Tuhan, jadikan hatiku seperti hati-Mu! Amin.
Selamat pagi. Semoga kehadiran kita hari ini di mana saja, menjadi tanda dan sarana compassio Tuhan. ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎.
RP Joni Astanto MSC