Kamis, 11 September 2025
Sabda Kehidupan
Kamis 11 September 2025
Luk 6:27-29 (Luk 6:27-38)
”Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.”
Menjadi Serupa Dengan Yesus
Betapa berat mengikuti amanah Yesus ini, karena kita berada dalam dunia yang punya prinsip balas dendam, jangan mengalah dan jangan biarkan otang memperlakukan kita seenaknya saja. Harga diri kita serasa diinjak-injak oleh orang yang memusuhi kita, menampar kita, mencaci dan memfitnah kita. Maka wajarlah kalau kita marah dan membalas dendam.
Tapi Yesus mengajarkan lain. Melawan arus dunia dan mengosongkan diri. Namun coba kita dalami, betapa suci dan murni hati orang yang menuruti perintah Yesus ini. Perlakuan jahat orang lain terhadapnya, tak membuatnya berhenti untuk mencintai orang itu. Apakah ada di dunia ini gambaran seorang yang begitu rendah hati, bijaksana dan suci yang seperti pribadi yang digambarkan Yesus ini?
Gambaran orang seperti ini, itulah yang nyata dalam diri Yesus sendiri. Dan inilah kehendak Allah bagi kita: agar kita menjadi serupa dengan Yesus.
Kita diciptakan Allah agar “Menjadi serupa dengan Kristus.” Segala kelemahan dan keterbatasan kita tidak menjadi alasan bagi kita untuk berhenti mencintai tanpa syarat, dan bertumbuh menjadi sempurna dalam cintakasih.
Tentu saja kita tak akan mampu mewujudkannya dengan upaya sendiri atau hanya mengandalkan diri sendiri. Yesus menganugerahkan kita Roh KudusNya agar menjadi kekuatan dan semangat kita untuk menjadi seperti Dia.
Jadi semua hal yang membuat kita marah, terluka dan sakit hati, adalah cara Allah untuk melatih kita berkembang dan bertumbuh menjadi sepikir dan seperasaan dengan Yesus. Sesungguhnya tantangan terberat kita adalah bagaimana mengalahkan diri sendiri.
Mari terus memurnikan hati, merendahkan diri dan mencintai semakin sungguh dan menjadi pemenang yang sejati.
”Ya Yesus yang lembut dan rendah hati, jadikanlah hati kami seperti hatiMu.”
Selamat hari baru. Yesus memberkati latihan kehidupan kita hari ini untuk menyerupai Dia.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 11 Sep 2025
Kamis Pekan Biasa XXIII
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: 1Yoh 4:12
Bacaan Injil: Luk 6:27-38
**************
Bait Pengantar Injil
1Yoh 4:12
Jika kita saling menaruh cinta kasih, Allah tinggal dalam kita;
dan cinta kasih Allah dalam kita menjadi sempurna.
Bacaan Injil
Luk 6:27-38
Hendaknya kalian murah hati se bagaimana Bapamu murah hati adanya.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya,
“Dengarkanlah perkataan-Ku ini:
Kasihilah musuhmu.
Berbuatlah baik kepada orang yang membenci kalian.
Mintalah berkat bagi mereka yang mengutuk kalian.
Berdoalah bagi orang yang mencaci kalian.
Bila orang menampar pipimu yang satu,
berikanlah pipimu yang lain.
Bila orang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu,
dan janganlah meminta kembali
dari orang yang mengambil kepunyaanmu.
Dan sebagaimana kalian kehendaki orang perbuat kepada kalian,
demikian pula hendaknya kalian berbuat kepada mereka.
Kalau kalian mengasihi orang-orang yang mengasihi kalian, apakah jasamu?
Orang-orang berdosa pun berbuat demikian.
Lagi pula kalau kalian memberikan pinjaman kepada orang
dengan harapan akan memperoleh sesuatu dari padanya,
apakah jasamu?
Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa,
supaya mereka menerima kembali sama banyaknya.
Tetapi kalian,
kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka
dan berilah pinjaman tanpa mengharapkan balasan,
maka ganjaranmu akan besar
dan kalian akan menjadi anak Allah Yang Mahatinggi.
Sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih
dan orang-orang jahat.
Hendaklah kalian murah hati
sebagaimana Bapamu murah hati adanya.
Janganlah menghakimi orang, maka kalian pun tidak akan dihakimi.
Dan janganlah menghukum orang,
maka kalian pun tidak akan dihukum.
Ampunilah, maka kalian pun akan diampuni.
Berilah, dan kalian akan diberi.
Suatu takaran yang baik,
yang dipadatkan, yang digoncang dan tumpah ke luar
akan dicurahkan ke pangkuanmu.
Sebab ukuran yang kalian pakai, akan diukurkan pula kepadamu.”
Demikianlah sabda Tuhan.
************
ℍ
“Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” (Luk 6: 27 – 28)
Perintah untuk mengasihi musuh-musuh kita mungkin adalah kata-kata paling radikal dan menuntut yang diucapkan Yesus. Ini bukan sekadar saran; ini adalah inti Injil. Namun, untuk menaati perintah ini, kita harus terlebih dahulu memahami kasih seperti apa yang Ia ingin agar kita lakukan.
Kata bahasa Yunani yang digunakan di sini adalah agapē — bukan kasih yang didorong oleh nafsu, juga bukan kasih sayang yang secara alami kita rasakan terhadap keluarga dan teman-teman atau sahabat-sahabat. Agapē berarti memilih kebaikan bagi orang lain, bahkan ketika mereka menyakiti kita. Ini bukanlah kasih yang didasarkan pada perasaan, melainkan pada kehendak, yang dimungkinkan oleh anugerah. Kita tidak dapat memaksa hati kita untuk mengasihi mereka yang menyakiti kita, tetapi kita dapat memutuskan, dalam Kristus, untuk tidak pernah menginginkan mereka celaka dan selalu menginginkan kebaikan tertinggi bagi mereka. Inilah kasih ilahi.
Kasih Kristiani selalu aktif. Tidak cukup hanya berkata, “Aku tidak akan berbuat jahat kepadamu.” Tuhan memanggil kita lebih jauh: “Perbuatlah kepada orang lain seperti yang kamu inginkan mereka perbuat kepadamu.” Kebijaksanaan dunia akan mengajarkan prinsip moral — jangan menyakiti. Tetapi Yesus memerintahkan sesuatu yang lebih besar — berusahalah untuk memberkati, mengampuni, dan melayani. Inilah yang “ekstra” dalam kehidupan Kristen, langkah melebihi yang diharapkan, pilihan yang mengungkapkan hati yang telah diubah.
Dan mengapa kita hidup seperti itu? Karena inilah cara Allah. Dia menurunkan hujan-Nya bagi orang benar dan orang jahat. Dia memeluk baik orang suci dan maupun pendosa. Jika kita hanya mengasihi mereka yang mengasihi kita, apa istimewanya? Tetapi jika kita mengasihi bahkan musuh kita, kita menjadi anak-anak sejati Bapa.
Mengasihi dengan cara seperti itu sangatlah istimewa namun kadang-kadang menyakitkan. Namun pada akhirnya, hal itu akan memenuhi hati kita dengan sukacita Allah sendiri. Hal itu membuat kita bebas. Hal itu membuat kita seperti Dia.
Bapa, semoga kami menjadi murah hati seperti Engkau murah hati. Amin.
Selamat beraktivitas. ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎..
RP Joni Astanto MSC