Rabu, 10 September 2025
Sabda Kehidupan
Rabu 10 September 2025
Luk 6:20-21 (Luk 6:20-26)
”Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.”
Tuhan Sumber Kebahagiaan Kita
Yesus menyebut bahagia orang-orang yang miskin, lapar, yang menangis, yang dibenci dan yang dianiaya, padahal mereka-lah yang oleh dunia masuk dalam kalangan orang-orang yang tidak bahagia.
Bagi Yesus, orang-orang yang hidup dalam pengharapan akan janji Allah, yang percaya dan berserah penuh pada Allah, sesungguhnya adalah orang yang paling bahagia. Bukan orang yang merasa puas diri dan tidak memerlukan pertolongan Allah.
Tak ada situasi apapun yang dapat merebut kebahagiaan orang-orang yang bersandar pada kasih sayang Tuhan karena Tuhan sendirilah sumber kebahagiaannya.
Sebagai orang-orang yang empunya Kerajaan Allah dan hidup dalam naungan kasih Tuhan menjadi alasan terdalam kita untuk selalu berbahagia. Keyakinan inilah yang perlu terus menerus kita pegang teguh, kita hidupi dan syukuri. Dengan demikian kita akan mampu melihat tangan Tuhan yang selalu memegang kita, dan mengalami hatiNya yang lemah lembut tempat kita bersandar.
Janganlah katakan aku tak punya apa-apa atau siapa-siapa. Yesus yang menyampaikan sabda bahagia ini, Dia-lah segalanya bagi kita, harta kita yang paling utama. Kasih sayangNya adalah pemuas lapar dan dahaga kita. SapaanNya yang lembut penuh pengertian adalah penghapus airmata kita. Yesus-lah sumber sukacita dan alasan kita untuk tak henti berbahagia. Bersama Dia hidup kita selalu melimpah dengan syukur, suatu kekayaan batin yang membuat kita tak pernah merasa kekurangan rahmat Tuhan.
Selamat hari Rabu. Jangan lupa bersyukur dan bahagia.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 10 Sep 2025
Rabu Pekan Biasa XXIII
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Luk 6:23ab
Bacaan Injil: Luk 6:20-26
************
Bait Pengantar Injil
Luk 6:23ab
Bersukacitalah dan bergembiralah,
karena besarlah upahmu di surga.
Bacaan Injil
Luk 6:20-26
Berbahagialah orang yang miskin,
celakalah orang yang kaya.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Pada waktu itu,
Yesus memandang murid-murid-Nya, lalu berkata,
“Berbahagialah, hai kalian yang miskin,
karena kalianlah yang empunya Kerajaan Allah.
Berbahagialah, hai kalian yang kini kelaparan,
karena kalian akan dipuaskan.
Berbahagialah, hai kalian yang kini menangis,
karena kalian akan tertawa.
Berbahagialah, bila demi Anak Manusia kalian dibenci,
dikucilkan, dan dicela serta ditolak.
Bersukacitalah dan bergembiralah pada waktu itu
karena secara itu pula
nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.
Tetapi celakalah kalian, orang kaya,
karena dalam kekayaanmu kalian telah memperoleh hiburan.
Celakalah kalian, yang kini kenyang,
karena kalian akan lapar.
Celakalah kalian, yang kini tertawa,
karena kalian akan berdukacita dan menangis.
Celakalah kalian, jika semua orang memuji kalian;
karena secara itu pula
nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”
Demikianlah sabda Tuhan.
**************
ℍ
“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah…. Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.” [Luk 6: 20. 24]
Kita baca dan dengarkan hari ini Sabda Bahagia menurut Injil Lukas. Sabda Bahagia bukanlah kata-kata lembut yang dimaksudkan untuk menenangkan; Sabda Bahagia itu seperti kilatan petir, menerobos masuk ke dalam hidup kita dengan kekuatan dan urgensi. Baik dalam Matius maupun Lukas, Yesus memulai khotbah agung-Nya dengan kata-kata yang mengejutkan: “Berbahagialah orang yang miskin… Celakalah orang kaya…” Betapa mengejutkan! Betapa terbaliknya ini dibandingkan dengan cara berpikir dunia.
Injil menantang kita dengan pilihan: Apakah kita ingin kebahagiaan menurut dunia, atau menurut Kristus? Dunia berkata, “Berbahagialah orang yang punya kuasa, yang kuat, yang kaya, yang nyaman.” Tetapi Yesus menyatakan, “Berbahagialah kamu yang sekarang ini lapar, yang sekarang ini menangis, yang dianiaya karena Aku.” Ini bukan sekadar puisi — ini adalah revolusi hati. Ini adalah panggilan untuk hidup secara berbeda.
Yesus jelas: jika kita menghabiskan seluruh energi kita untuk mengejar kekayaan, status, dan kesenangan, kita mungkin berhasil — tetapi itu saja yang akan kita miliki. “Kamu telah memperolehnya,” Ia memperingatkan. Tidak ada yang tersisa untuk kekekalan. Tetapi jika kita menaruh hati kita pada-Nya — pada kesetiaan, pada belas kasih, pada kebenaran — kita mungkin menghadapi perjuangan, kita mungkin tidak dimengerti, tetapi kita akan memiliki sukacita yang tidak dapat diambil oleh siapa pun.
Para orang kudus memahami hal ini. Mereka sering hidup miskin di mata dunia, tetapi kaya dalam iman, bebas dalam roh, bersinar dalam sukacita. Seperti yang diingatkan St. Paulus, “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami,” (2 Kor 4:17).
Injil hari ini bertanya kepada kita: Kebahagiaan mana yang kita cari? Kenyamanan dunia yang sementara — atau sukacita kekal Kristus? Mengikuti Yesus berarti mengambil risiko kesulitan, tetapi juga menemukan damai sejahtera yang hanya Dia yang dapat berikan. Berbahagialah mereka yang memilih jalan-Nya.
Ya Tuhan bimbing aku di jalan-Mu. Amin.
Selamat beraktivitas. Pilih kebahagiaan a la Yesus! ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎..
RP Joni Astanto MSC