Selasa, 09 September 2025
Sabda Kehidupan
Selasa 09 September 2025
Lukas 6:12-13 (Luk 6:12-19)
Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul.
Tak Ada Hari Tanpa Doa
Penginjil Lukas sangat menekankan hidup doa Yesus. Tak ada hari yang dilaluiNya tanpa komunikasi dan perjumpaan pribadi dengan BapaNya dalam doa. Entah mengawali hari maupun mengakhirnya.
Tidak diceritakan oleh Lukas apa yang dibicarakan Yesus dengan BapaNya, namun apa yang terjadi sesudahnya menunjukkan apa yang disampaikan Yesus dalam doaNya. Yesus menyampaikan kepada BapaNya siapa saja yang akan dipilihNya menjadi rasul, berapa jumlahnya, dan tentu saja karakter masing-masing murid-muridNya.
Pertanyaan bagi kita, mengapa yang dipilih Yesus adalah orang-orang biasa saja, para nelayan yang tidak biasa berbicara di depan umum, bahkan ada yang termasuk kelompok pemberontak, dan malah ada seorang yang ambisius, matre bahkan pengkhianat seperti Yudas Iskariot? Apakah Yesus telah salah memilih murid?
Rancangan Allah bukanlah rancangan manusia. Yesus memberi kita teladan dalam berdoa. Kita bisa menyampaikan apa saja dan juga meminta apa saja kepada Bapa. Namun kita selalu berserah kepada kehendak Bapa di surga. Kata Yesus kepada BapaNya dalam doa di Taman Getsemani, “Bukan kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi.” Dalam dia Bapa Kami Yesus mengajar kita “Jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga.”
Yesus selalu berserah pada BapaNya dan menyatukan kehendakNya dengan kehendak Bapa di Surga. Maka ketika Ia harus memanggul salib ke Golgota, dengan taat dan setia Yesus menjalaninya. Keselamatan semua umat manusia dan seluruh ciptaan adalah nyawa taruhannya.
Untuk melaksanakan kehendak BapaNya, Yesus mengorbankan seluruh hidupNya.
Kekuatan doa Yesus membuatNya mamu menjalani semua sengsara dan derita dengan penuh penyerahan diri dan akhirnya Ia menyelesaikan karya penyelamatan umat manusiq dengan gemilang dan mulia.
“Ya Yesus, kuatkanlah aku setiap saat oleh hadirMu di hidupku. Biarlah doaMu menjadi doaku, dan jalanMu menjadi jalanku. Hidupku ada dalam tanganMu. Dengarlah doaku, rahmati aku dengan Roh KudusMu di setiap jalan yang kulalui, dan semua karya yang kulakukan. Terjadilah padaku seturut kehendakMu. Amin.”
Selamat menikmati hari baru. Kita awali dengan doa dan menutup hari dengan doa.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 09 Sep 2025
Selasa Pekan Biasa XXIII
PF S. Petrus Klaver, Imam
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Yoh 15:16
Bacaan Injil: Luk 6:12-19
**************
Bait Pengantar Injil
Yoh 15:16
Kalian telah Kupilih dari dunia
dan Kutetapkan agar pergi dan berbuah,
dan buahmu tinggal tetap.
Bacaan Injil
Luk 6:12-19
Semalam-malaman Yesus berdoa.
Lalu Ia memilih dua belas orang, yang disebut-Nya rasul.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Sekali peristiwa Yesus mendaki sebuah bukit untuk berdoa.
Semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.
Keesokan harinya, ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya
dan memilih dari antara mereka dua belas orang,
yang disebut-Nya rasul.
Mereka itu ialah: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus,
dan Andreas saudara Simon,
Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus,
Matius dan Tomas,
Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot,
Yudas anak Yakobus,
dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.
Lalu Yesus turun bersama mereka
dan berhenti pada suatu tempat yang datar.
Di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya
dan banyak orang lain
yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem
dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon.
Mereka datang untuk mendengarkan Dia
dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka;
juga mereka yang kerasukan roh-roh jahat mendapat kesembuhan.
Dan orang banyak itu berusaha menjamah Dia,
sebab daripada-Nya keluar suatu kuasa,
dan semua orang itu disembuhkan-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan.
**************
ℍ
“Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul.” [Luk 6: 12-13]
Perikope Injil hari ini bertutur tentang Yesus yang memilih para rasul-Nya. Dan alasan pertama sangat sederhana namun mendalam: Ia ingin mereka menyertai-Nya, (lih. Mrk 3:14). Yesus tidak memanggil mereka pertama-tama untuk melakukan sesuatu, tetapi untuk “beserta Dia”, hidup dalam persahabatan dengan-Nya. Amatlah indah merenungkan bahwa Anak Allah menginginkan kedekatan persahabatan, bahwa Ia membutuhkan pribadi-pribadi untuk berjalan bersama-Nya.
Yesus bisa saja meninggalkan kita sebuah buku atau sistem pemikiran, tetapi Ia memilih untuk menulis pesan-Nya dalam kehidupan pribadi-pribadi, pria dan wanita. Mereka menjadi “buku hidup”-Nya. Hal ini mengingatkan kita bahwa Kristianitas bukanlah teori, tetapi kehidupan yang dibagikan. Menjadi murid berarti menjadi pembelajar — selalu belajar dari Tuhan, selalu mendengarkan Firman-Nya dengan lebih dalam, hingga saatnya kita bertemu dengan-Nya muka dengan muka.
Dan kemudian Yesus menjadikan mereka rasul — orang-orang yang diutus, duta-duta-Nya. Seorang Kristen tidak pernah hanya untuk dirinya sendiri; ia selalu diutus. Kita dipanggil untuk mewakili Kristus, tidak hanya dengan kata-kata kita tetapi dengan hidup kita, gestur kita, tutur kata kita, belas kasih kita. Dalam sebuah pelajaran agama seorang anak pernah menyebut rasul-rasul itu sebagai “sampel-sampelnya Yesus.” Ya! Setiap orang Kristen dimaksudkan untuk menjadi contoh hidup Kristus sendiri. Setiap orang yang berjumpa dengan kita hendaknya dapat melihat Yesus dalam diri kita.
Tetapi perhatikan bahwa orang-orang yang dipilih Yesus bukanlah orang-orang luar biasa. Mereka adalah nelayan, pemungut pajak, dan bahkan musuh masyarakat. Namun Yesus mempersatukan mereka, Matius si pemungut cukai yang dianggap pengkhianat bangsa karena mengumpulkan cukai untuk penjajah dan Simon Zelot yang nasionalis seharusnya saling membenci. Hanya Kristus yang dapat membuat lawan-lawan seperti itu hidup bersama dalam damai. Inilah mukjizat-Nya — mengubah perpecahan menjadi persekutuan.
Mari kita bertanya pada diri sendiri: Apakah aku hidup sebagai sahabat-Nya? Apakah aku membiarkan hidupku menjadi warta tentang Dia? Apakah aku menjadi duta kasih-Nya di manapun aku berada?
Tuhan, perkenankan aku bersama-Mu sebagai sahabat-Mu, belajar pada-Mu, dibangun dan berakar dalam Dikau, agar semakin pantas menjadi duta-duta kasih-Mu. Amin.
Selamat beraktivitas. Semoga setiap orang yang anda jumpai melihat Yesus dalam diri anda! ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎..
RP Joni Astanto MSC