Sabtu, 06 September 2025
Sabda Kehidupan
Sabtu 06 September 2025
Lukas 6:5 (Luk 6:1-5)
Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”
Cinta Harus Menjiwai Pelaksanaan Hukum
Orang-orang Farisi yang sangat kaku dalam menerapkan aturan Sabat tentu tidak setuju bahwa Yesus hanya membiarkan murid-muridNya memetik gandum pada hari itu. Suatu hal yang dilarang pada hari Sabat.
Bukannya Yesus tidak mematuhi aturan, tapi Ia mengingatkan mereka agar lebih mengutamakan cintakasih daripada sekedar mengikuti formalitas suatu aturan tanpa ada semangat kasih di balik aturan itu.
Perut yang lapar perlu diisi agar tidak sakit dan kekurangan energi. Seorang ibu miskin yang mencuri roti karena kasihan pada anaknya yang menangis kelaparan, tentu berbeda niatnya dengan orang yang sengaja mencuri uang atau korupsi karena nafsu serakahnya.
Tapi yang terjadi, koruptor dibiarkan bebas sementara ibu malang itu dihukum.
Karena itu Yesus mengingatkan orang Farisi kejadian di masa lalu, ketika Daud sedang melarikan diri dari kejaran Raja Saul dan bersembunyi di kemah tempat tabut perjanjian di mana ada roti sajian yang hanya bisa dimakan oleh para imam. Tapi demi bertahan hidup dan selamat, Daud dan pengikutnya diperbolehkan memamakan roti sajian itu. (Lihat 1 Sam 21:1-6).
Yesus-pun berbuat demikian karena cintaNya kepada murid-muridNya yang lagi lapar. Toh mereka hanya sekedar mengisi perut.
Kiranya pesan Yesus hari ini memberi kita hikmat kebijaksanaan untuk selalu mempunyai motif cintakasih dalam mengambil keputusan dan bertindak. Semoga Sabda Allah menjadi hati nurani kita, agar semakin menyerupai Yesus dalam bertindak: selalu terdorang oleh belaskasih.
Aturan tetap harus ditegakkan namun cintakasih haruslah menjiwai semua pelaksanaan aturan itu.
Selamat hari Sabat, Tuhan Yesus memberkati kita .❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 06 Sep 2025
Sabtu Pekan Biasa XXII
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Yoh 14:6
Bacaan Injil: Luk 6:1-5
*************
Bait Pengantar Injil
Yoh 14:6
Akulah jalan, kebenaran dan sumber kehidupan, sabda Tuhan.
hanya melalui Aku orang sampai kepada Bapa.
Bacaan Injil
Luk 6:1-5
Mengapa kalian melakukan sesuatu
yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Pada suatu hari Sabat,
Yesus dan murid-murid-Nya berjalan di ladang gandum.
Para murid memetik bulir-bulir gandum,
menggisarnya dengan tangan, lalu memakannya.
Tetapi beberapa orang Farisi berkata,
“Mengapa kalian melakukan sesuatu
yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”
Maka Yesus menjawab, “Tidakkah kalian baca
apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan para pengikutnya lapar?
Ia masuk ke dalam rumah Allah dan mengambil roti sajian.
Roti itu dimakannya dan diberikannya kepada para pengikut-Nya.
Padahal roti itu tidak boleh dimakan, kecuali oleh para imam.”
Dan Yesus berkata lagi,
“Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”
Demikianlah sabda Tuhan.
*************
ℍ
Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”….. Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Luk 6: 1 – 2, 5).
Pertentangan antara Yesus dan musuh-musuhnya terus berlanjut. Para Farisi mengikuti Yesus seperti bayang-bayang. Mereka mengikuti-Nya bukan untuk mendengarkan dan belajar dari ajarannya, tetapi untuk untuk mencari-cari kesalahan dalam segala tindakan-Nya, sehingga mendapatkan bukti agar dapat mengambil tindakan hukum terhadapnya. Di sini mereka mendapat kesempatan yang baik.
Para murid lapar dan lelah. Saat berjalan, mereka memetik bulir-bulir gandum, menggisarnya dengan tangan dan memakannya. Namun hari itu adalah hari Sabat. Para murid melanggar hukum Sabat! Apa yang mereka lakukan, sama dengan memanen, merontokkan, menampi, dan menyiapkan makanan! Ditambah lagi Yesus, tidak menegur mereka. Tentu saja, para Farisi yang legalistik menjadi marah.
Para Farisi itu bertanya: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Dan tepat terhadap pertanyaan ini Yesus memberikan jawabannya. Ia menjelaskan apa yang “diperbolehkan” dan apa yang “tidak diperbolehkan” pada hari Sabat. Di situlah letak perbedaan antara Yesus dan orang Farisi. Bagi orang Farisi, hukum tertulis dan tradisi lisan sama-sama sah. Hukum harus dipatuhi secara harfiah. Bagi Yesus, hukum hanya memiliki makna sejauh ia menjaga martabat manusia. Itulah tujuan hukum.
Dalam konteks ini, Yesus sepenuhnya memahami apa yang dilakukan oleh murid-murid-Nya. Mereka makan butir-butir gandum karena mereka lapar. Kebutuhan manusia menduduki tempat pertama dalam “hukum Yesus”. Kebutuhan dasar manusia memiliki prioritas lebih tinggi daripada ibadah kepada Allah dan pengamalan hari Sabat. Kehidupan manusia mendahului adat istiadat ritual dalam ajaran Yesus.
Yesus tidak menyangkal atau menghilangkan hukum Sabat, melainkan menafsirkannya untuk kebaikan manusia. Ia memperluasnya agar dapat bermanfaat bagi orang biasa. Setiap “isme” dan ideologi yang merendahkan martabat manusia tidak dapat diterima oleh Yesus. Ia menyingkirkan hukum Sabat sebagaimana Daud menyingkirkan hukum roti suci, dan keduanya untuk tujuan yang sama: “kebutuhan dasar manusia.” Hukum-hukum ilahi dan penafsirannya seharusnya menjadi berkat bagi manusia. Mereka tidak boleh menjadi beban bagi orang kebanyakan yang sudah terbebani. Yesus, Tuhan atas hari Sabat, mengingatkan kita bahwa kasih Allah lebih besar daripada aturan apa pun, dan belas kasih-Nya selalu lebih besar daripada legalisme yang kaku. Ia menghendaki belas kasih dan bukan persembahan.
Tuhan, semoga kehidupan beragama kami tidak kehilangan intinya. Amin.
Selamat berakhir pekan. Jadilah wajah belas kasih Allah! ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎..
RP Joni Astanto MSC