Sabtu, 30 Agustus 2025
Sabda Kehidupan
Sabtu 30 Agustus 2025
Matius 25:14-15 (Mat 25:14-30)
”Hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat…”
Melimpah Berkat Di Dalam Tuhan
Karena Yesus menyebut angka 5, 2 dan 1, orang berpikir bahwa jumlah itu sedikit. Apalagi bila hanya dapat 1. Padahal 1 talenta itu sama dengan 6000 dinar. Nilai 1 dinar itu adalah upah kerja sehari, berarti 6000 dinar itu adalah upah untuk 6000 hari atau 16 tahun bekerja.
Kalau upah sehari Rp 200.000, berarti dia mendapatkan Rp 1.2 M sebagai modal usaha. Bagaimana mungkin oleh si penerima 1 talenta dianggap sedikit?
Begitulah jadinya bila orang membandingkan apa yang diterimanya dengan yang diterima orang lain. Mengapa yang lain dapat 2 dan 5 sedangkan saya hanya 1?
Sesungguhnya talenta dan anugerah yang Tuhan berikan pada kita sangatlah melimpah. Bila kita bersyukur maka berkat-berkat Tuhan akan berlipat ganda. Itulah yang terjadi dengan mujizat perbanyakan roti dan ikan.
Perumpamaan Yesus tentang talenta dalam Injil hari ini kiranya menjadi pengingat bagi kita betapa Tuhan telah memberi kita hidup yang melimpah dengan pelbagai talenta. Ingatlah bahwa Yesus telah menjadi miskin supaya kita menjadi kaya karena Ia telah memberikan segalanya, seluruh diriNya bagi kita.
Mari mengembangkan semua talenta yang Tuhan beri untuk kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita. Jangan lupa untuk berbagi berkat.
Selamat berbahagia di akhir pekan, selalu bersyukur atas semua berkat Tuhan.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 30 Agt 2025
Sabtu Pekan Biasa XXI
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Yoh 13:34
Bacaan Injil: Mat 25:14-30
*************
Bait Pengantar Injil
Yoh 13:34
Perintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan;
yaitu supaya kalian saling menaruh cinta kasih,
sebagaimana Aku telah menaruh cinta kasih kepadamu.
Bacaan Injil
Mat 25:14-30
Karena engkau setia memikul tanggung-jawab dalam perkara kecil,
masuklah ke dalam kebahagiaan tuanmu.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Pada suatu hari
Yesus mengemukakan perumpamaan berikut
kepada murid-murid-Nya,
“Hal Kerajaan Surga itu
seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri,
yang memanggil hamba-hambanya
dan mempercayakan hartanya kepada mereka.
Yang seorang diberikannya lima talenta,
yang seorang lagi dua, dan yang seorang lain lagi satu,
masing-masing menurut kesanggupannya,
lalu ia berangkat.
Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu.
Ia menjalankan uang itu dan memperoleh laba lima talenta.
Hamba yang menerima dua talenta pun berbuat demikian,
dan mendapat laba dua talenta.
Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi
dan menggali lubang di tanah,
lalu menyembunyikan uang tuannya.
Lama kemudian pulanglah tuan hamba-hamba itu,
lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.
Hamba yang menerima lima talenta datang
dan membawa laba lima talenta.
Ia berkata, ‘Tuan, lima talenta Tuan percayakan kepadaku.
Lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.’
Maka kata tuannya kepadanya,
‘Baik sekali perbuatanmu itu, hamba yang baik dan setia;
engkau telah setia dalam perkara kecil!
Aku akan memberikan kepadamu
tanggung jawab dalam perkara yang besar.
Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta, katanya,
‘Tuan, dua talenta Tuan percayakan kepadaku.
Lihat, aku telah mendapat laba dua talenta.’
Maka kata tuan itu kepadanya,
‘Baik sekali perbuatanmu hamba yang baik dan setia!
Karena engkau telah setia
memikul tanggung jawab dalam perkara kecil,
maka aku akan memberikan kepadamu
tanggung jawab dalam perkara yang besar.
Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
Kini datang juga hamba yang menerima satu talenta dan berkata,
‘Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah manusia kejam,
yang menuai di tempat Tuan tidak menabur,
dan memungut di tempat Tuan tidak menanam.
Karena itu aku takut
dan pergi menyembunyikan talenta Tuan di dalam tanah.
Ini, terimalah milik Tuan!’
Maka tuannya menjawab,
‘Hai engkau, hamba yang jahat dan malas!
Engkau tahu bahwa aku menuai di tempat aku tidak menabur,
dan memungut di tempat aku tidak menanam.
Seharusnya
uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang,
supaya sekembaliku aku menerima uang itu serta dengan bunganya.
Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya,
dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.
Karena setiap orang yang mempunyai,
akan diberi sampai ia berkelimpahan,
tetapi siapa yang tidak punya,
apa pun yang ada padanya akan diambil.
Dan buanglah hamba yang tidak berguna itu
ke dalam kegelapan yang paling gelap.
Di sanalah akan ada ratap dan kertak gigi’.”
Demikianlah sabda Tuhan.
*************
ℍ
“Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka… masing-masing menurut kesanggupannya.” [Mat 25: 14. 15b].
Kita renungkan hari ini Perumpamaan tentang Talenta (Mat 25:14-30), di mana Yesus memberikan tantangan sekaligus peringatan. Fokusnya tertuju pada “hamba yang tidak berguna,” yaitu hamba yang mengubur talenta yang diterimanya. Hamba ini mewakili para Ahli Taurat dan Farisi, dengan keinginan mereka yang kaku untuk “menjaga segala sesuatu tetap sama seperti semula” telah membekukan kebenaran hidup Allah. Pikiran mereka yang tertutup menolak pertumbuhan, perubahan, atau gerakan baru Roh Kudus.
Allah tidak memberikan kita karunia untuk disimpan rapat-rapat. Ia mempercayakan kepada setiap orang talenta — entah banyak atau sedikit — dengan harapan kita menggunakannya untuk kemuliaan-Nya. Nilai karunia itu tidak diukur menurut besarnya, tetapi dari kesetiaan kita. Sebuah karunia kecil yang digunakan dengan berani jauh lebih besar nilainya di mata Allah daripada karunia besar yang terbuang karena ketakutan dan kemalasan.
William Barclay, dalam komentarnya terhadap perikope ini, menyoroti tiga kebenaran penting: Pertama, karunia Allah berbeda-beda, tetapi panggilan-Nya sama — untuk memberikan usaha terbaik kita. Kedua, imbalan atas pekerjaan yang tekun dan setia bukanlah istirahat, tetapi tanggung jawab yang lebih besar dalam pelayanan bagi Allah. Kedua hamba yang “baik dan setia” diundang untuk bermitra lebih dalam dengan Tuan mereka. Ketiga, kegagalan sejati bukanlah mencoba dan gagal, tetapi menolak untuk mencoba sama sekali. Ketakutan terhadap resiko membuat hamba yang memiliki satu talenta tidak melakukan apa-apa, dan itulah kehancurannya.
Akhirnya, perumpamaan ini memberi kita “cara kerja rohani”: semakin kita menggunakan sebuah karunia, semakin kuat dan berkembanglah karunia itu; jika diabaikan, karunia itu akan memudar. Entah karunia itu berupa doa, kedermawanan, pengajaran, atau pelayanan, satu-satunya cara untuk menjaganya agar tetap hidup adalah dengan membagikannya.
Injil mengundang kita untuk memiliki iman yang berani — iman yang berani mengambil risiko, berinvestasi, dan “memperbanyak” apa yang telah dipercayakan Allah kepada kita. Mengubur karunia kita berarti menahan karunia itu dari Kerajaan Allah. Kemuridan yang sejati berarti melangkah dengan percaya, sehingga ketika Tuhan kembali, kita dapat mendengar: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia!”
Tuhan, semoga aku dapat melakukan yang terbaik dalam segala sesuatu yang telah Kaupercayakan kepadaku, sehingga orang lain dapat melihat dan memuliakan Nama-Mu. Amin.
Selamat berakhir pekan. Mari investasikan talenta dengan melayani! ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎ .
RP Joni Astanto MSC