Jumat, 29 Agustus 2025
Sabda Kehidupan
Jumat 29 Agustus 2025
Peringatan Wafatnya Yohanes Pembaptis
Markus 6:27 (Mrk 6:17-29)
Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara.
Hidup Untuk Menjalankan Rencana Allah
Gereja menetapkan satu hari khusus, yakni tanggal 29 Agustus, untuk mengajak seluruh umatnya mengenang peristiwa kematian Yohanes Pembaptis, yang dikisahkan dalam Injil Markus 6:14-29.
Ia yang telah lama dipersiapkan Allah untuk mempersiapkan kedatangan Yesus sang Mesias, mati secara tragis di tangan Raja Herodes.
Mungkin di mata manusia, Yohanes kalah dan Herodes yang menang. Tapi di mata Allah, justru sebaliknya. Kemenangan ada pada orang yang berani berjuang membela kebenaran, serta percaya dan setia menjalankan perintah Allah.
Hidup Yohanes begitu singkat, tapi ia telah sempurna menyelesaikan tugas perutusannya di dunia. Ia mempersiapkan kedatangan Mesias yang dijanjikan Allah, dan membawa orang Israel kepada Yesus, Sang Mesias. Dikisahkan dalam Yoh 1:29, sambil menunjuk kepada Yesus, Yohanes berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.”
Tak ada tugas yang lebih mulia bagi Yohanes selain membaptis Yesus dan menunjukkan kepada dunia siapakah Yesus sebenarnya. Sesudah itu selesailah tugasnya. Kematiannya adalah purna tugas seorang ksatria pemberani. Ia kini dimahkotai dengan hidup surgawi bersama Yesus yang diwartakannya.
Sekalipun Yohanes wafat secara tragis namun betapa indah dan berarti hidupnya yang telah ia persembahkan untuk rencana Allah yang mulia.
Itulah juga sukacita dan kebahagiaan kita ketika menyelesaikan ziarah hidup kita di dunia ini, kita telah menjadi pelayan Allah yang hidup untuk kemuliaan Allah dan menjalankan tugas perutusan Allah bagi kita di dunia ini yakni beriman kepada Yesus, mengikutiNya dengan setia dan membawa orang lain kepada Kristus.
Sebagaimana Allah Bapa di surga telah memahkotai Yohanes Pembaptis dengan kemuliaan surgawi, demikian juga telah tersedia mahkota surgawi bagi orang yang setia dan berani menjadi saksi Kristus sesuai panggilan dan perutusan kita masing-masing.
”St Yohanes Pembaptis, doakan kami dari surga untuk berani menentang kejahatan dan membela kebenaran serta hidup sepenuhnya untuk rencana Allah yang indah dalam hidup kami. Amin.”
Selamat hari baru. Mari menjadi pemenang seperti Yohanes Pembaptis.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 29 Agt 2025
Jumat Pekan Biasa XXI
PW Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir
Warna Liturgi: Merah
Bait Pengantar Injil: Mat 5:10
Bacaan Injil: Mrk 6:17-29
**************
Bait Pengantar Injil
Mat 5:10
Berbahagialah orang yang dianiaya demi kebenaran,
karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Bacaan Injil
Mrk 6:17-29
Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku
kepala Yohanes Pembaptis.
Inilah Injil Suci menurut Markus:
Sekali peristiwa
Herodeslah menyuruh orang menangkap Yohanes
dan membelenggunya di dalam penjara
berhubung dengan peristiwa Herodias,
yakni bahwa Herodes telah memperistri Herodias,
isteri Filipus saudaranya.
Yohanes pernah menegur Herodes,
“Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!”
Karena kata-kata itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes,
dan bermaksud membunuh dia,
tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan terhadap Yohanes,
karena ia tahu bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci;
jadi ia melindunginya.
Tetapi setiap kali mendengarkan Yohanes,
hati Herodes selalu terombang-ambing;
namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.
Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias,
yakni ketika Herodes – pada hari ulang tahunnya
mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesar,
para perwira dan orang-orang terkemuka di Galilea.
Pada waktu itu Puteri Herodias tampil lalu menari,
dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya.
Maka Raja berkata kepada gadis itu,
“Minta dari padaku apa saja yang kauingini,
maka akan kuberikan kepadamu!”
Lalu Herodes bersumpah kepadanya,
“Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu,
sekalipun itu setengah dari kerajaanku!”
Anak itu pergi dan menanyakan kepada ibunya,
“Apa yang harus kuminta?”
Jawab ibunya, “Kepala Yohanes Pembaptis!”
Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta,
“Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku
kepala Yohanes Pembaptis dalam sebuah talam!”
Maka sangat sedihlah hati raja!
Tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya,
ia tidak mau menolaknya.
Raja segera menyuruh seorang pengawal
dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes.
Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara.
Ia membawa kepala itu di sebuah talam
dan memberikannya kepada Herodias,
dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.
Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu,
mereka datang dan mengambil mayatnya,
lalu membaringkannya dalam kubur.
Demikianlah sabda Tuhan.
**************
ℍ
“Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara.” (Mrk 6: 27).
Sebagai saksi integritas dan kebenaran, Yohanes Pembaptis kehilangan nyawanya karena kelicikan dan kekerasan. Tetapi ia harus berbicara, apa pun konsekuensinya. Firman Allah tidak dapat dibungkam. Apakah Gereja – apakah kita – memiliki keberanian seperti itu saat ini?
Keyakinan Yohanes yang teguh adalah pelajaran berharga bagi kita. Hidup di padang gurun membentuk kerohanian Yohanes, menanamkan dalam dirinya kualitas yang mendalam, integritas, dan keberanian. Sepanjang hidupnya, ia mencontohkan panggilan kenabiannya melalui kehidupan doanya yang mendalam, asketisme, dan keyakinan yang teguh akan tujuannya. Tidak heran jika dia lebih memilih kematian daripada kepalsuan.
Ironi dalam pembunuhan Yohanes Pembaptis oleh Herodes terletak pada kenyataan bahwa Herodes memiliki kekuasaan tetapi hidup dalam ketakutan. Dia memiliki otoritas tetapi tidak memiliki pilihan. Yohanes, sebaliknya, dipenjara tetapi tetap merdeka. Dia dibelenggu tetapi masih memiliki pilihan. Di sinilah kita hari ini – beribu-ribu tahun kemudian dan ribuan kilometer jauhnya – menghormati kebesaran Yohanes Pembaptis!
Setiap orang di dunia ini memiliki misi yang harus dipenuhi. Beberapa dari kita berkompromi dengan nilai-nilai atau standar moral karena takut gagal, takut kehilangan muka, atau gentar menghadapi konsekuensi yang harus dipikul. Berpihak pada Tuhan dan memegang teguh iman serta memilih kekudusan yang jauh lebih besar daripada kenyamanan atau kesenangan adalah jalan yang dipilih Yohanes, dan pada saat yang sama, ia melemparkan tantangan kepada kita.
Ketika kita merenungkan kehidupan Yohanes hari ini, marilah kita bertanya pada diri kita sendiri apa yang kita lakukan di tengah-tengah imoralitas dunia. Yohanes menolak untuk mentolerir segala bentuk imoralitas. Kita juga harus tegas dalam menentang imoralitas. Tidak pernah ada alasan untuk berkompromi dengan imoralitas. Ketika dunia merangkul suatu dosa dan berusaha untuk melegitimasinya, kita tidak boleh tinggal diam!
Apakah Anda takut untuk membela ajaran-ajaran Gereja karena Anda takut akan apa yang orang katakan atau pikirkan tentang Anda?
Ya Tuhan, berilah kami rahmat untuk selalu memegang teguh kebenaran. St. Yohanes Pembaptis, doakanlah kami. Amin.
Selamat beraktivitas hari ini. Berdiri teguh membela kebenaran. ⒿⓁⓊ! ❤️
❤︎.
RP Joni Astanto MSC