Jumat, 22 Agustus 2025
Sabda Kehidupan
Jumat 22 Agustus 2025
Peringatan St Perawan Maria Ratu Surga
Matius 22:34-36 (Mat 22:34-40)
Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”
Cinta Yang Total
Para ahli Taurat dan orang Farisi selalu ingin mencobai Yesus untuk menunjukkan bahwa mereka lebih tahu tentang semua hukum dan aturan dalam kitab Taurat. Tapi bagi Yesus bukan yang penting mengetahui manakah hukum yang paling utama dalam kitab Taurat, tapi melakukan apa yang diketahui, itu yang lebih penting.
Pepatah berkata, “People don’t care how much you know, until they know how much you care.” (Orang tidak peduli berapa banyak yang kau ketahui, sampai mereka tahu seberapa besar engkau peduli).
Hukum cintakasih bisa saja diajarkan oleh siapa saja jauh sebelum atau sesudah Yesus. Tapi totalitas cinta yang tanpa syarat sungguh nyata dalam diri Yesus. Ia mencintai kita sampai terluka, baik hatiNya maupun ragaNya. Terlebih lagi Ia begitu peduli dengan keselamatan kita hingga rela menyerahkan nyawaNya di atas kayu salib agar kita selamat.
Sesungguhnya lawan dari cintakasih bukanlah benci, tapi tidak peduli. Mari saling peduli. Inilah tanda bahwa kita sungguh mencintai Tuhan dan mencintai sesama.
Rasul Yohanes berkata, “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1 Yoh 4:20).
Bahasa cinta adalah bahasa yang bisa didengar orang tuli dan bisa dilihat oleh orang buta. Melalui cinta kita yang nyata bagi sesama, orang dapat mengalami cinta Tuhan yang tak henti mencintai mereka.
Bahagianya hati dapat menjadi tanda cinta Tuhan bagi sesama.
”Bunda Maria, doakanlah kami dari surga untuk terus mencintai, sekalipun sering hati terluka. Amin.”
Selamat hari Jumat, hari Yesus wafat demi cintaNya bagi kita.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 22 Agt 2025
Jumat Pekan Biasa XX
PW SP Maria, Ratu
Warna Liturgi: Putih
Bait Pengantar Injil: Mzm 25:5c.5a
Bacaan Injil: Mat 22:34-40
*************
Bait Pengantar Injil
Mzm 25:5c.5a
Tunjukkanlah lorong-Mu kepadaku, Ya Tuhan,
bimbinglah aku menurut sabda-Mu yang benar.
Bacaan Injil
Mat 22:34-40
Kasihilah Tuhan Allahmu, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Ketika orang-orang Farisi mendengar,
bahwa Yesus telah membungkam orang-orang Saduki,
berkumpullah mereka.
Seorang dari antaranya, seorang ahli Taurat,
bertanya kepada Yesus untuk mencobai Dia,
“Guru, hukum manakah yang terbesar dalam hukum Taurat?”
Yesus menjawab,
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu,
dengan segenap jiwamu, dan segenap akal budimu.
Itulah hukum yang utama dan yang pertama.
Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah:
Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Pada kedua hukum inilah
tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
Demikianlah sabda Tuhan.
**************
ℍ
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,” [Mat 22: 37 – 39]
Dalam Injil hari ini, Yesus dihadapkan pada pertanyaan yang dimaksudkan untuk menjebak-Nya: “Hukum manakah yang terutama?” Jawabannya sederhana namun mendalam: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu….. dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Dengan ini, Yesus menggabungkan dua perintah sudah lama mereka ketahui menjadi satu realitas yang tak terpisahkan.
Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama tidak dapat dipisahkan, sebuah paket komplit. Satu mengalir ke yang lain. Yesus menunjukkan kepada kita bahwa agama yang sejati bukanlah daftar kewajiban, melainkan hubungan kasih — dengan Allah terlebih dahulu, dan dari kasih itu, hidup yang dikorbankan untuk orang lain. Tanpa kasih, praktik agama menjadi sumber kecemasan, dipaksakan, atau untuk memenuhi hasrat pribadi saja. Dan tanpa hubungan hidup dengan Allah, kasih kepada sesama menjadi aktivisme yang kosong.
St. Yohanes mengatakannya dengan tegas: “barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya,” (1 Yoh 4:20). Jika iman kita tidak mendorong kita untuk berbelas kasih, jika tidak membuka hati kita bagi orang miskin, orang yang menderita, atau yang terluka, kita kehilangan inti Injil.
Namun, seberapa seringkah kita menghindar dari kasih sejati sementara kita meluangkan waktu untuk bergosip, menghakimi, atau bersikap acuh tak acuh? Kita cepat berbicara tentang orang lain tetapi lambat mendengarkan mereka. Kasih sejati — yang diperintahkan Yesus — adalah sabar, hadir, dan berkorban.
Kunci untuk hidup sesuai dengan “perintah utama” ini adalah ibadah. Ketika kita berbakti kepada Allah, kita terpusat pada kasih. Dari situ kita belajar untuk tumbuh dalam kasih kepada Allah dan umat-Nya.
Hari ini, mari kita renungkan: Apakah kasih saya kepada Allah membawa saya untuk mengasihi orang lain dengan lebih murah hati? Apakah ada orang yang perlu saya maafkan, perlu saya jangkau, atau sekadar dengarkan?
Semoga Santa Perawan Maria Ratu, yang mengasihi Allah dan sesama dengan segenap jiwanya, mengajarkan kita cara mengasihi tanpa batas.
Tuhan, tolonglah aku untuk mengasihi Engkau dengan segenap hati, akal budi, jiwa dan kekuatanku. Tolonglah aku untuk mengasihi Engkau dengan segenap keberadaanku. Dalam kasih itu, ubahlah diriku menjadi alat kasih karunia-Mu.
Selamat Beraktivitas. Jangan lupa undangan Paus Leo XIV, untuk mempersembahkan hari ini sebagai hari doa dan puasa bagi perdamaian dunia. ⒿⓁⓊ! ❤️
[♡.]
RP Joni Astanto MSC