Sabda Kehidupan
Senin 18 Agustus 2025
Matius 19:20-21 (Mat 19:16-22)
Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”
Melepaskan Segalanya Untuk Mengikuti Yesus. Siapa Takut?
Orang muda dalam kisah Injil hari ini ingin mengejar kesempurnaan yakni hidup kekal. Ia telah melakukan semua perintah dalam hukum Taurat. Tapi ia belum juga mencapai kesempurnaan.
Yesus lalu menantang dia: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”
Ternyata bagi Tuhan berbuat baik saja tidak cukup, apalagi semua itu dilakukan hanya untuk tujuan pribadi, untuk kepentingan diri sendiri atau hanya untuk selamat sendiri.
Tuhan menciptakan kita dan menghadirkan kita di dunia ini untuk tujuan Tuhan, yakni untuk mencintai Tuhan dan mencintai sesama.
Orang bisa saja berhasil dalam segala hal termasuk dalam melakukan banyak kebaikan. Tapi bila itu semua ia jalani hanya untuk kepentingan diri sendiri atau untuk mencari selamat sendiri maka ia masih jauh dari hidup kekal. Kalau hanya bergiat untuk diri sendiri, semua orang telah melakukannya.
Yesus mengajak si anak muda ini dan kita semua untuk berani mengosongkan diri, melepaskan segalanya dan mengikuti Yesus. Mengikuti Yesus tidak lain adalah menjadi seperti Yesus. Kita hidup demi untuk kemuliaan Tuhan dan menjadi tanda kehadiran Tuhan bagi orang lain.
Bila motif-motif pribadi masih menjadi motivasi utama untuk semua aktivitas kita, itu semua belumlah cukup. Apalagi ketika semua itu menghambat atau menghalangi kita untuk mengikuti Yesus, maka itu semua akan berakhir sia-sia alias hampa.
Banyak orang setelah banyak berbuat baik, masih merasa kecewa dan tak berarti, karena merasa tidak dihargai, tak ada yang berterimakasih padanya. Itulah tanda bahwa ia masih punya pamrih, tidak sepenuhnya ikhlas, masih mengharapkan pujian.
Biarlah kepenuhan hidup dalam Yesus menjadi sukacita dan kebahagiaan kita. Dialah harta kita yang sejati. Melepaskan segalanya untuk mengikuti Yesus, itulah kepenuhan hidup kita. Lepaskanlah segala sesuatu yang menghalangi kita mengikuti Dia. Mengosongkan diri dari kepentingan diri dan mengisi kekosongan hati kita dengan cinta Yesus.
Semangat Senin! Mari persembahkan semua karya kita untuk kemuliaan Tuhan.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 18 Agt 2025
Senin Pekan Biasa XX
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Mat 5:3
Bacaan Injil: Mat 19:16-22
*************
Bait Pengantar Injil
Mat 5:3
Berbahagialah yang hidup miskin terdorong oleh Roh Kudus,
sebab bagi merekalah kerjaan Allah.
Bacaan Injil
Mat 19:16-22
Jika engkau hendak sempurna,
juallah segala milikmu dan berikanlah kepada orang-orang miskin.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Pada suatu hari ada seorang datang kepada Yesus dan berkata,
“Guru, perbuatan baik apakah yang harus kulakukan
untuk memperoleh hidup yang kekal?”
Yesus menjawab,
“Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku
tentang apa yang baik?
Hanya Satu yang baik!
Jika engkau ingin masuk ke dalam hidup,
turutilah segala perintah Allah.”
Kata orang itu kepada Yesus, “Perintah yang mana?”
Kata Yesus, “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri,
jangan mengucapkan saksi dusta,
hormatilah ayah dan ibumu,
dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Kata orang muda itu,
“Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?”
Lalu Yesus berkata,
“Jika engkau hendak sempurna,
pergilah, juallah segala milikmu,
dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin,
maka engkau akan memperoleh harta di surga.
Kemudian datanglah ke mari dan ikutilah Aku.”
Ketika mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih,
sebab hartanya banyak.
Demikianlah sabda Tuhan.
*************
ℍ
“Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Mat 19: 21)
Kisah tentang orang yang bertanya kepada Yesus tentang bagaimana memperoleh hidup yang kekal terdapat dalam Injil Matius, Markus, dan Lukas. Tetapi hanya Matius yang menyebutkan bahwa orang yang bertanya itu masih muda. Bahkan dua kali Matius menyebut: “orang muda itu….”
Orang muda biasanya memiliki banyak pertanyaan, antara lain pertanyaan tentang nilai dan idealisme dalam hidup. Bahkan pertanyaan tentang idealisme bukan hanya menyangkut sukses saat ini dan di sini, bukan hanya menyangkut prospek bisnis, atau soal politik dan sosial, tetapi menyangkut hal yang sangat rohani: hidup kekal.
Pertanyaan orang muda ini mengundang kita untuk bersama orang-orang muda tetap semangat mengejar cita-cita, bukan hanya bagi kehidupan yang fana, tetapi juga untuk kehidupan kekal. Semoga idealisme kita juga mencakup soal spiritualitas!
Namun ada sisi lain yang ditunjuk oleh Matius dengan mengatakan: “orang muda itu…” Yaitu sikap belum dewasa, belum matang, dengan penilaian yang sempit.
Apa tandanya belum dewasa? Pertama, terlalu bangga tentang apa yang dilakukan. Ketika ia diminta untuk menuruti segala perintah Allah, ia berkata: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” (Mat 19: 20). Kita acap kali terlalu cepat merasa puas dengan yang kita lakukan.
Kedua, tanda bahwa orang muda kaya itu belum dewasa adalah bahwa perintah Yesus untuk menjual harta miliknya dilihatnya hanya sebagai sesuatu yang menyakitkan. Tanda belum dewasa adalah ketika seorang anak menangis ketika ia harus merelakan mainannya…. Orang Kristen yang dewasa memandang tindakan “melepaskan” atau “merelakan” sebagai kesempatan untuk mendapatkan Kristus. Seorang Kristen yang dewasa memandang tindakan melepaskan harta milik sebagai kesempatan mengikuti Kristus secara lebih penuh. Sebagai orang Kristen kita diukur berdasarkan seberapa baik kita mengikuti Yesus Kristus dan Injil, bukan berdasarkan ide-ide dan kemandirian kita sendiri,” kata mendiang Paus Fransiskus.
Sudah dewasakah kita? Tanda kedewasaan antara lain adalah kesadaran bahwa kita belum sempurna…. Usaha mengikuti Yesus, tidak untuk ditakar-takar dengan ukuran tertentu. Total, meninggalkan segala-galanya dan mengikuti Dia.
Tuhan, janganlah aku dibutakan oleh harta benda. Berikanlah aku semangat lepas bebas untuk mengikuti Engkau secara lebih sungguh. Amin.
Selamat beraktivitas di pekan yang baru. ⒿⓁⓊ! ❤️
[♡.]
https://sacerdos2000.com/menjadi-dewasa-dan-lepas-bebas/
RP Joni Astanto MSC