Sabtu, 16 Agustus 2025
Sabda Kehidupan
Sabtu 16 Agustus 2025
Matius 19:14 (Mat 19:13-15)
Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.”
Beriman Seperti Anak Kecil
Ada seorang anak kecil yang baru saja belajar mengenal huruf alfabet, ia belum mampu menyusun doa dengan kata-katanya sendiri. Maka iapun berdoa demikian, “Ya Bapa, saya akan menyebut a,b,c sampai z. Biarlah Bapa yang menyusun kata-katanya untuk saya. Amin.” Pastilah Allah Bapa akan tersenyum mendengar doa seperti itu.
Anak kecil selalu membuat kita tersenyum dan tersentuh. Kepolosan dan spontanitas mereka sungguh alami dan murni. Dari sikap anak-anak inilah terpancar tanda-tanda iman yang kita perlukan untuk mengagumi keagungan dan kasih Allah dan menjalin relasi yang akrab dan mesra dengan Allah Bapa.
Anak kecil sepenuhnya nergantung dan berserah pada Papa Mamanya. Ia percaya sepenuhnya pada kasih sayang orangtua. Sukacita dan kegembiraannya begitu spontan dan tanpa prasangka. Kita selalu tersentuh melihat kemurnian dan kepolosan seorang anak.
Terutama rasa kagum dan heran seorang anak kecil sungguh diperlukan untuk kita dapat selalu mengagumi karya Allah yang heran dan menakjubkan.
Tanpa itu semua, iman kita cenderung kering dan gersang. Itulah sebabnya Yesus menghendaki kita datang kepada Allah sebaga anak. Karena itu Yesus mengajarkan kita doa “Bapa Kami.” Ia ingin agar kita selalu ingat bahwa kita punya Bapa di surga yang sangat mengerti kita, yang tahu mana yang terbaik buat kita.
Allah ingin sukacita seorang anak kecil ada pada kita saat berada di pangkuan Bapa. TanganNya yang kuat menjadi andalan kita. Tak perlu merasa kuat dan hebat hingga tak perlu bersandar pada Allah. Tapi tak perlu juga bersifat kekanak-kanakan, yang suka merajuk dan manja.
Mari tetap menjadi anak Allah, dan sama seperti Yesus, perlakukanlah semua anak kita sebagaimana Yesus mencintai mereka.
Selamat berakhir pekan bersama keluarga tercinta. Tuhan Yesus memberkati❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 16 Agt 2025
Sabtu Pekan Biasa XIX
PF S. Stefanus dari Hungaria
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Mat 11:25
Bacaan Injil: Mat 19:13-15
*************
Bait Pengantar Injil
Mat 11:25
Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi,
sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada kaum sederhana.
Bacaan Injil
Mat 19:13-15
Janganlah menghalang-halangi anak-anak datang kepada-Ku,
sebab orang-orang seperti merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Sekali peristiwa orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus,
supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka
dan mendoakan mereka.
Tetapi murid-murid Yesus memarahi orang-orang itu.
Maka Yesus berkata,
“Biarkanlah anak-anak itu,
janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku.
Sebab orang-orang seperti merekalah
yang empunya Kerajaan Surga.”
Lalu Yesus meletakkan tangan-Nya atas mereka
dan kemudian Ia berangkat dari situ.
Demikianlah sabda Tuhan.
**************
ℍ
”Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga,” (Mat 19: 14)
Dalam Injil hari ini, Yesus menyambut anak-anak dengan tangan terbuka dan meletakkan tangan-Nya ke atas mereka. Tindakan yang lembut namun penuh kuasa ini kaya akan makna: menandakan berkat, pencurahan Roh Kudus, dan pelukan ilahi. Penumpangan tangan menandai setiap sakramen dalam kehidupan Kristiani — dari baptisan hingga tahbisan suci — mengingatkan kita bahwa Roh Allah berdiam di dalam diri kita dan memberi kita kuasa, terutama ketika kita merasa lemah atau tak tentu arah.
Yesus berkata, “Janganlah menghalang-halangi mereka.” Seberapa sering, dengan cara kita sendiri yang halus, kita menjadi penghalang bagi orang lain yang mencari Tuhan? Mungkin karena penghakiman, ketidakpedulian, atau kesombongan, kita mungkin tanpa sadar menghalangi jalan orang lain. Namun Yesus mengingatkan kita bahwa tidak seorang pun terlalu kecil, terlalu berbeda, atau terlalu jauh untuk mengalami kasih-Nya. Peran kita bukanlah menyeleksi siapa yang “layak” menerima Tuhan, tetapi membiarkan semua orang datang kepada-Nya — terutama mereka yang kecil dan terpinggirkan.
Kerajaan Allah adalah milik mereka yang seperti anak kecil. Bukan mereka yang kekanak-kanakan, melainkan mereka yang rendah hati, percaya, dan tidak terbebani oleh ego-nya. Dalam pelayanan, dalam keluarga, atau dalam masyarakat, kita sering dihadapkan pada pilihan: hidup dengan karunia yang Tuhan berikan, sebagai hamba yang rela berkorban, atau membiarkan karunia itu bermutasi menjadi pencarian kendali dan kuasa. Kesederhanaan seorang anak membantu kita tetap berakar dalam kebenaran: kita menerima segala sesuatu dari Tuhan, dan kita memberikan segala sesuatu kembali kepada-Nya.
Marilah kita bertanya pada diri sendiri hari ini: kapan dan di mana hasrat saya untuk berpengaruh telah mengalahkan hasrat saya untuk melayani? Apakah saya masih mendekati Tuhan dan sesama dengan keterbukaan dan kesederhanaan seorang anak kecil?
Semoga Roh Kudus, yang pertama kali diberikan kepada kita saat pembaptisan, memperbarui hati kita. Semoga kita memiliki keberanian untuk menyambut orang lain tanpa hambatan dan kerendahan hati untuk memasuki Kerajaan-Nya, bukan sebagai orang yang berkuasa, melainkan sebagai anak-anak yang digenggam dalam tangan Bapa.
“Tuhan, saat kami menjadi dewasa baik secara fisik maupun rohani, semoga kami tetap seperti anak-anak dalam kesederhanaan dan kerendahan hati, sehingga kami semakin dekat dengan-Mu. Amin.
Selamat berakhir pekan. ⒿⓁⓊ! ❤️
[♡.]
RP Joni Astanto MSC