Jumat, 15 Agustus 2025
Sabda Kehidupan
Jumat 15 Agustus 2025
Matius 19:5-6 (Mat 19:3-12)
”Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
Teruslah Bersatu Dan Bahagia
Atas pertanyaan orang-orang Farisi mengenai perceraian, Yesus mengajak mereka untuk kembali pada hakekat perkawinan yakni kesatuan cinta suami istri sebagai anugerah Allah untuk membahagiakan mereka selamanya.
Janganlah melihat keputusan untuk menikah hanya sebagai pilihan pribadi belaka, atau panggilan kodrati semata. Perkawinan adalah panggilan Allah untuk suami istri agar mengalami kesatuan kasih yang berasal dari Allah Bapa.
Perkawinan bukan hanya bersifat kodrati karena keinginan daging, tapi lebih dalam lagi untuk mengalami kasih Allah dalam relasi yang saling menyempurnakan antara suami istri. Yakni memberi diri satu sama lain.
Teruslah bersatu, saling setia dalam suka dan duka, dalam keadaan sehat maupun sakit, saling mengampuni dan saling mencintai sekalipun terluka.
Ketika Allah menganugerahkan anak-anak sebagai buah kasih suami istri, kasih Allah berlanjut dan kini dialami oleh putra-putri mereka. Demikianlah kasih sayang Allah kepada umatNya menjadi nyata dalam kasih sayang orangtua bagi anak-anaknya.
Panggilan dan perutusan ini sungguh luhur dan mulia karena itu layak diperjuangkan dan dipertahankan sampai mati.
Doa kami untuk semua suami istri, untuk orangtua dan anak-anak yang sedang bergumul mempertahankan keutuhan rumahtangganya. Jangan menyerah! Bila Yesus ada dalam bahtera rumahtangga kita, Ia pasti menolong. Yesus menjadi pemersatu dan teman yang setia. Bila pasangan hidup sudah dipanggil Tuhan, tetaplah berdoa baginya sebagai tanda cinta yang abadi.
Doakan kami juga yang memilih hidup selibat, tidak menikah demi Kerajaan Allah, agar kami tetap setia memberi diri seutuhnya. Persatuan kita dengan Allah Tritunggal Mahakudus dan orang-orang yang Tuhan hadirkan dalam perjalanan hidup kita di dunia ini itulah arti sesungguhnya dari keselamatan. Dan serentak persekutuan ini adalah inti kebahagiaan kita.
Selamat Hari Jumat! Teruslah bersatu dan bahagia. Tuhan Yesus memberkati.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 15 Agt 2025
Jumat Pekan Biasa XIX
PF S. Tarsisius, Martir Ekaristi. Pelindung putra-putri altar dan penerima komuni pertama.
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: 1Tes 2:13
Bacaan Injil: Mat 19:3-12
*************
Bait Pengantar Injil
1Tes 2:13
Sambutlah pewartaan ini sebagai sabda Allah,
bukan sebagai perkataan manusia.
Bacaan Injil
Mat 19:3-12
Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kalian menceraikan isterimu,
tetapi semula tidaklah demikian.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Pada suatu hari
datanglah orang-orang Farisi kepada Yesus, untuk mencobai Dia.
Mereka bertanya,
“Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya
dengan alasan apa saja?”
Yesus menjawab, “Tidakkah kalian baca,
bahwa Ia yang menciptakan manusia,
sejak semula menjadikan mereka pria dan wanita?
Dan Ia bersabda,
‘Sebab itu pria akan meninggalkan ayah dan ibunya,
dan bersatu dengan isterinya,
sehingga keduanya itu menjadi satu daging.’
Demikianlah mereka itu bukan lagi dua, melainkan satu.
Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah,
tidak boleh diceraikan manusia.”
Kata mereka kepada Yesus,
“Jika demikian,
mengapa Musa memerintahkan untuk memberi surat cerai
jika orang menceraikan isterinya?”
Kata Yesus kepada mereka,
“Karena ketegaran hatimu
Musa mengizinkan kalian menceraikan isterimu,
tetapi sejak semula tidaklah demikian.
Tetapi Aku berkata kepadamu,
‘Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah,
lalu kawin dengan wanita lain, ia berbuat zinah.’
Maka murid-murid berkata kepada Yesus,
“Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri,
lebih baik jangan kawin.”
Akan tetapi Yesus berkata kepada mereka,
“Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu,
hanya mereka yang dikaruniai saja.
Ada orang yang tidak dapat kawin
karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya;
dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain;
dan ada orang yang membuat dirinya demikian
karena kemauannya sendiri, demi Kerajaan Surga.
Siapa yang dapat mengerti, hendaklah ia mengerti.”
Demikianlah sabda Tuhan.
**************
ℍ
“Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mat 19: 6)
Di masa kini sering muncul pertanyaan, dapatkah dua orang benar-benar hidup bersama satu sama lain sebagai suami dan istri sampai mati? Melihat banyaknya perpisahan dan pernikahan yang gagal, generasi masa kini banyak yang mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin. Karena itu, banyak negara yang melegalkan perceraian. Permintaannya terlalu banyak. Tapi apakah ini sekadar masalah angka? Bagaimana dengan mereka yang tetap bersama dan dapat dikatakan “berhasil” dalam pernikahan mereka? Pada kenyataannya, jumlah mereka jauh lebih banyak daripada yang telah berpisah.
Sebagai seorang imam selama dua puluh lima tahun, memang tidak banyak pasangan yang saya berkati pernikahannya. Mungkin karena saya tidak berkarya di paroki. Dari semua yang saya berkati tak ada yang memberi kabar bahwa mereka sudah berpisah. Ada beberapa pasangan yang datang mengeluh tentang hidup perkawinan mereka, sejauh ini belum ada juga yang datang kembali dan mengatakan sudah berpisah.
Apa yang bisa kita katakan tentang mereka yang telah menikah selama dua puluh lima, tiga puluh, empat puluh, dan lima puluh tahun atau bahkan lebih? Mereka adalah orang-orang biasa yang saling mengasihi dan menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan pernikahan mereka. Sayangnya, saat ini, pernikahan yang baik dianggap sebagai pengecualian. Kenyataannya, masih banyak orang yang tetap menikah. Hanya sedikit yang bercerai atau berpisah, hanya mereka lebih berisik dan lebih heboh saja. Pernikahan, seperti yang diajarkan oleh Kitab Kejadian dan Injil, adalah hal yang suci dan tidak dapat dibubarkan dengan cara hukum atau cara manusiawi apa pun.
Pasangan dapat menjalani pernikahan mereka – bukan tanpa banyak kesulitan tetapi dengan banyak bantuan dari Tuhan. Mungkin ada pasangan yang pada dasarnya tidak dapat didamaikan. Tetapi itu sangat jarang dan seharusnya menjadi pengecualian. Menyetujui perceraian sebagai jalan keluar nampaknya jadi jalan pintas. Walau demikian, kita berempati juga kepada mereka yang telah berpisah atau bercerai. Nasihat apostolik mendiang Paus Fransiskus tentang cinta dalam keluarga, Amoris Laetitia, membantu kita untuk memahami tantangan yang dihadapi pasangan yang sudah menikah dan bagaimana pernikahan mereka dapat hancur karena berbagai alasan.
Pernikahan bukan hanya sebuah persatuan sekuler yang menghiasi keluarga dengan anak-anak, tetapi juga sebuah persatuan rohani yang memperkaya Gereja dengan para anggotanya. Ini adalah sebuah panggilan untuk melayani umat manusia melalui keluarga. Ini adalah sebuah tindakan penyelamatan yang dihasilkan dari ketaatan pada perintah-perintah Allah.
Apa peran Tuhan dalam pernikahan dan kehidupan keluarga Anda? Apakah Tuhan menjadi pusat hidup keluarga anda?
Tuhan, lindungilah pernikahan dan keluarga-keluarga kami dari segala serangan jahat. Amin.
Selamat hari Jumat penuh berkat. ⒿⓁⓊ! ❤️
[♡.]
RP Joni Astanto MSC