Kamis, 14 Agustus 2025
Sabda Kehidupan
Kamis 14 Agustus 2025
Peringatan St Maksimilianus Maria Kolbe
Matius 18:21-22 (Mat 18:20 – 19:1)
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali..”
Mengampuni Seperti Allah Mengampuni Kita
Sesungguhnya mengampuni sampai 7 kali sudah sangat lengkap. Bila seminggu ada 7 hari, maka setiap hari ada pengampunan. Tapi berhitung seperti ini tidaklah cukup. Apalagi kita akui dengan jujur, hitungan normal kita dalam mengampuni hanyalah 3 kali. Pada hitungan ke 2 kita sudah berkata: last one! Terakhir! Jangan lagi mengulangi kesalahan yang sama!
Berhitung seperti ini dalam hal berbelaskasih kepada sesama tentu bukanlah sifat Allah, yang selalu mengampuni kita setiap kali kita mohon pengampunanNya.
Apalagi ketika kita berdoa “Bapa Kami” kita telah berjanji, “ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami.”
Yesus mengajak kita untuk menjadikan sifat belaskasih Allah menjadi sifat kita. Kata Yesus, “haruslah kamu sempurna seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Mat 5:48).
Tentu hal ini sangatlah tidak mudah mengingat keterbatasan manusiawi kita dalam hal mengampuni. Oleh begitu banyaknya pengalaman luka batin dengan orang yang terus melukai kita, sangat sulit bagi kita untuk mengampuni.
Oleh sebab itu ketika berat hati dalam mengampuni, datanglah pada Yesus memohon padaNya agar hati kita menjadi seperti hatiNya yang penuh belaskasih.
”Ya Yesus beri aku kekuatan yang sama ketika di atas kayu salib Engkau rela mengampuniku sekalipun aku telah ikut menyalibkanMu karena dosa-dosaku. Hanya oleh rahmatMu aku mampu mengampuni. Bantu aku untuk tidak berhitung dalam mengampuni. CintaMu untuk memgampuni kiranya menjadi cintaku juga. Amin.”
Selamat hari baru. Semoga rahmat pengampunan Allah selalu menguatkan kita dalam mengampuni sesama.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 14 Agt 2025
Kamis Pekan Biasa XIX
PW S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam dan Martir
Warna Liturgi: Merah
Bait Pengantar Injil: Mzm 119:135
Bacaan Injil: Mat 18:21-19:1
************
Bait Pengantar Injil
Mzm 119:135
Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu,
dan ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.
Bacaan Injil
Mat 18:21-19:1
Aku berkata kepadamu,
‘Bukan hanya sampai tujuh kali,
melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali
kalian harus mengampuni.’
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Sekali peristiwa datanglah Petrus kepada Yesus dan berkata,
“Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku
jika ia berbuat dosa terhadap aku?
Sampai tujuh kalikah?”
Yesus menjawab,
“Bukan hanya sampai tujuh kali,
melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”
Sebab hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja
yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
Setelah ia mulai mengadakan perhitungan,
dihadapkanlah kepadanya
seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
Tetapi karena orang itu tidak mampu melunasi utangnya,
raja lalu memerintahkan,
supaya ia beserta anak isteri dan segala miliknya dijual
untuk membayar utangnya.
Maka bersujudlah hamba itu dan menyembah dia, katanya,
“Sabarlah dahulu, segala utangku akan kulunasi.”
Tergeraklah hati raja oleh belas kasihan akan hamba itu,
sehingga hamba itu dibebaskannya, dan utangnya pun dihapuskannya.
Tetapi ketika hamba itu keluar,
ia bertemu dengan seorang hamba lain
yang berutang seratus dinar kepadanya.
Kawan itu segera ditangkap dan dicekik, katanya,
“Bayarlah hutangmu!
Maka sujudlah kawan itu dan minta kepadanya,
“Sabarlah dahulu, utangku itu akan kulunasi.
Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya ke dalam penjara
sampai semua utangnya ia lunasi.
Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih,
lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
Kemudian raja memerintahkan memanggil orang itu
dan berkata kepadanya,
“Hai hamba yang jahat! Seluruh utangmu telah kuhapuskan
karena engkau memohonnya.
Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu
seperti aku telah mengasihani engkau?”
Maka marahlah tuannya
dan menyerahkan dia kepada algojo-algojo,
sampai ia melunasi seluruh utangnya.
Demikian pula Bapa-Ku yang di surga akan berbuat terhadapmu,
jika kalian tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”
Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya
berangkatlah Ia dari Galilea,
dan tiba di daerah Yudea, di seberang sungai Yordan.
Demikianlah sabda Tuhan.
**************
ℍ
“Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Mat 18: 21 – 22).
Kita baca dan dengarkan Petrus yang bertanya kepada Yesus dalam Injil hari ini, “Berapa kali aku harus mengampuni? Tujuh kali?” Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, tetapi sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22) — cara Yahudi untuk mengatakan: “selalu.” Pengampunan bukanlah suatu aturan yang perlu diikuti sesekali; tetapi adalah denyut nadi kehidupan Kristiani.
Namun, bagaimana kita dapat sungguh mengampuni ketika luka yang ditimbulkan begitu dalam? Yesus menyadari kesulitan panggilan ini. Itulah sebabnya Ia memberikan perumpamaan tentang hamba yang tidak mau mengampuni — untuk menunjukkan bahwa pengampunan bukanlah pilihan. Jika kita ingin menerima belas kasih, kita juga harus memberikannya. Ketika kita berenang atau menyelam dalam air, kita pasti basah. Saat Tuhan membenamkan kita dalam anugerah pengampunan, kita pasti diliputi oleh rahmat pengampunan itu, dan kita harus membagikannya.
Kebenaran ini dijalani secara heroik oleh Santo Maksimilianus Maria Kolbe, yang kita peringati hari ini. Seorang biarawan dan misionaris Fransiskan, Kolbe ditangkap oleh Nazi dan dipenjara di Auschwitz. Ketika seorang tahanan lain dijatuhi hukuman mati, seorang asing yang tidak dikenalnya, Kolbe dengan sukarela menggantikannya. Ia melakukannya bukan karena amarah atau balas dendam, tetapi karena cinta. Di neraka kebencian itu, ia memilih Injil pengampunan dan pengorbanan.
Bahkan di bunker di mana ia dijebloskan, Kolbe berdoa dan memimpin para terpidana dalam nyanyian hingga akhir hidup mereka. Ia tidak membenci mereka yang menangkap dan melemparkannya ke kamp konsentrasi. Tindakan-tindakannya mengingatkan kita bahwa pengampunan bukanlah kelemahan — itu adalah bentuk cinta yang paling kuat. Kolbe mengampuni dengan hidupnya.
Yesus berkata kepada kita: sebelum kamu mendekati altar, berdamailah dengan saudaramu. Ekaristi tidak sejalan dengan dendam. Pengampunan adalah pintu menuju persekutuan dengan Allah dan sesama.
Jadi sebelum kita mencari pengampunan dalam pengakuan dosa, kita harus bertanya: Apakah aku mengampuni? Jawabannya menentukan kekekalan kita.
Semoga Santo Maksimilianus Maria Kolbe, yang meneladani belas kasih Kristus hingga kematian, berdoa untuk kita. Dan semoga Maria, Bunda Belas Kasih, membantu kita memilih pengampunan ketimbang kebencian, cinta daripada balas dendam — setiap saat.
Ya Hati Yesus yang Mahapengampun, jadikan hati kami seperti hati-Mu.
Selamat beraktivitas hari ini. Selamat mengasihi, selamat mengampuni. ⒿⓁⓊ! ❤️
[♡.]
RP Joni Astanto MSC