Kamis, 07 Agustus 2025
Sabda Kehidupan
Kamis 07 Agustus 2025
Matius 16:23 (Mat 16:13-23)
Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”
Arti Seorang Sahabat Sejati
Baru saja Yesus memuji Petrus karena pengakuan imannya akan Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup. Bahkan Yesus kemudian memberikan kepercayaan yang luar biasa besar kepada Petrus: ia menjadi pondasi dasar Gereja dan pemegang kunci Kerajaan Surga.
Tapi tidak lama kemudian Yesus menegur Petrus bahkan marah besar dan menyebutnya ‘Iblis’ karena Petrus menggoda Yesus untuk menghindari derita dan jalan salib yang harus dilalui Mesias.
Iblis selalu menggoda manusia agar tidak mengambil jalan salib, dan selalu memilih cara yang gampang dan menyenangkan.
Sikap Yesus kepada Petrus adalah sikap seorang sahabat sejati. Di satu pihak Yesus mengakui dan memuji apa yang baik dalam diri Petrus, di pihak lain Ia berani menegur dan meluruskan Petrus ketika salah dan menjerumuskan.
Sebagaimana bagi Petrus, demikian juga Yesus bagi kita. Ia adalah sahabat sejati kita. Yesus melihat apa yang baik dalam diri kita dan menarik kebaikan itu keluar agar kita menjadi seperti yang dikehendaki Tuhan.
Sama seperti Ia melihat ada ‘batu karang yang kokoh’ dalam diri Simon yang rapuh dan lemah. Yesus lalu menyebutnya Petrus, sang batu karang!
Yesus juga tak segan-segan menegur kita ketika kita salah memilih jalan, lalai untuk setia, lari dari kenyataan, atau menjauhkan diri dari tanggungjawab yang harus kita pikul.
Yesus sangat peduli jangan sampai kita terpengaruh dan terjebak oleh tipu daya Iblis. Lebih baik Ia menegur dan memarahi kita, daripada membiarkan kita terjerumus dan jatuh.
Belajar dari persahabatan Yesus dan Petrus, mari menjadi sahabat sejati satu sama lain. Melihat apa yang baik dalam diri sahabat, pasangan, dan orang yang kita cintai. Mengangkat dan meneguhkan kebaikan itu.
Tapi berani menegur dan menyampaikan apa yang kurang dan perlu diperbaiki, bukan karena merasa diri benar, melainkan oleh niat yang tulus dan kasih yang sejati demi kebaikan sahabat yang kita cintai.
Sikap ABS (Asal Bapak Senang) atau adal orang lain senang, bukanlah sikap seorang sahabat sejati.
“Ya Yesus, Engkaulah sahabat sejatiku. Angkatlah aku saat aku jatuh, dan tegurlah aku saat aku lengah dan salah jalan. Kuatkanlah aku saat memikul salib hidupku dan berjalan bersamaMu. Amin.”
Selamat hari baru. Yesus setia menemani kita❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 07 Agt 2025
Kamis Pekan Biasa XVIII
PF S. Kayetanus, Imam
PF S. Sistus II, Paus, dkk. Martir
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Mat 16:18
Bacaan Injil: Mat 16:13-23
************
Bait Pengantar Injil
Mat 16:18
Engkaulah Petrus,
dan di atas batu karang ini akan Kudirikan Jemaat-Ku.
Dan alam maut takkan menguasainya.
Bacaan Injil
Mat 16:13-23
Engkaulah Petrus, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Sekali peristiwa Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi.
Ia bertanya kepada murid-murid-Nya,
“Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?”
Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis;
ada juga yang mengatakan: Elia,
dan ada pula yang mengatakan: Yeremia
atau salah seorang dari para nabi.”
Lalu Yesus bertanya kepada mereka,
“Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”
Maka jawab Simon Petrus,
“Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!”
Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau, Simon anak Yunus,
sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu,
melainkan Bapa-Ku yang di sorga.
Dan Aku pun berkata kepadamu,
‘Engkaulah Petrus,
dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku,
dan alam maut tidak akan menguasainya.
Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga.
Apa saja yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga,
dan apa saja yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.”
Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya memberitahukan kepada siapa pun,
bahwa Dialah Mesias.
Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya
bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem,
dan menanggung banyak penderitaan
dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat,
lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur Dia, katanya,
“Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu!
Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.”
Tetapi Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus,
“Enyahlah Iblis! Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku,
sebab engkau memikirkan bukan yang dipikirkan Allah,
melainkan apa yang dipikirkan manusia.”
Demikianlah sabda Tuhan.
**************
ℍ
“Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16: 15-16).
Bacaan Injil hari ini, menampikan Yesus yang mengajukan pertanyaan yang sangat pribadi: “Apa katamu, siapakah Aku?” Ini bukan ujian teologi; ini adalah pertanyaan seorang kekasih kepada seorang yang dikasihinya: “Siapakah Aku bagimu? Di mana tempatku dalam hidupmu?” Pertanyaan ini menembus rutinitas harian dan ibadah kita, dan menantang kita untuk memeriksa dasar iman kita. Apakah kita mengikuti Yesus sekadar untuk menjadi “orang yang lebih baik”? Atau kita siap menyerahkan seluruh hidup kita bagi visi radikal-Nya tentang kemanusiaan yang diperbarui?
Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Jawabannya benar, tetapi pemahamannya masih terhalang oleh gagasan duniawi tentang Mesias yang berkuasa. Ia melihat seorang pahlawan penakluk, bukan Hamba yang menderita. Namun Yesus memberkati dia —bukan karena ia memahami segalanya dengan sempurna, tetapi karena hatinya terbuka terhadap wahyu Bapa.
Yesus lalu menamainya “Petrus” dan berbicara tentang membangun Gereja-Nya bukan atas kekuatan manusia, tetapi atas dasar iman yang diwahyukan. Kristus adalah batu karang yang sejati (Yunani: petra); Petrus adalah batu fondasi (petros) yang ditempatkan dalam struktur hidup ini. Gereja dibangun atas iman kepada Yesus, bukan atas kekuatan duniawi.
Yesus juga berbicara tentang gerbang alam maut, menggambarkan kerajaan kejahatan — korupsi, kekerasan, dan keputusasaan — yang tampaknya tak tertembus. Namun Injil memiliki kuasa. Jika kita percaya pada Kristus, kita menjadi pembawa kabar tentang cinta yang menghancurkan gerbang-gerbang itu. Namun kita harus membuka lebar pintu, seperti yang dipercayakan kepada Petrus — bukan untuk mengontrol siapa yang masuk, tetapi untuk membawa semua orang kepada Kristus.
Yesus mempercayakan Gereja, Tubuh-Nya, kepada kita. Ia mengundang kita tidak hanya untuk mengaku dengan kata-kata, tetapi untuk membedakan dengan kebijaksanaan, hidup dengan keberanian, dan dengan setia mengikuti-Nya bahkan ketika jalan itu sulit. Siapakah Yesus bagi Anda? Jawabannya mengubah segalanya.
Tuhan Yesus Kristus, semoga Engkau tetap menjadi batu penjuru, fondasi bangunan kehidupan kami, dan semoga kami dapat membangun Gereja melalui pelayanan yang penuh kasih dan pengabdian. Amin.
Selamat beraktivitas. Nyatakan iman kita kepada Yesus dalam tindakan nyata! ⒿⓁⓊ! ❤️
[♡.]
RP Joni Astanto MSC