Senin, 04 Agustus 2025
Sabda Kehidupan
Senin 04 Agustus 2025
Peringatan St Yohanes Maria Vianney
Matius 14:19 (Mat 14:13-21)
Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.
Hidup Ekaristi Yang Melimpah
Ada 4 kata kunci dalam mujizat perbanyakan roti dan ikan, yakni Yesus “mengambil-mengucap berkat-memecah-mecahkan-membagi-bagikan.”
Tindakan Yesus ini, kiranya menjadi bagian dari sikap hidup kita.
Semua yang ada pada kita adalah pemberian Tuhan. Kita tinggal mengambilnya. Semua semata karena kasih karunia Tuhan, bukan oleh jasa dan kehebatan kita.
Untuk itu jangan lupa mengucap berkat atau mengucap syukur. Ketika kita mengucap syukur maka semua yang ada di depan mata kita menjadi melimpah. Kita menengadah ke langit sebagai tanda terima kasih, karena yang ada di tangan kita turun dari surga. Sekalipun kita katakan itu adalah hasil usaha kita, ingatlah kemampuan kita berusaha adalah tanda Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan-kebaikan dalam hidup kita.
Anugerah Tuhan baik secara jsmani maupun rohani mesti kita bagi-bagikan kepada orang lain. Untuk itu harus dipecahkan. Kita berbagi pikiran, berbagi hati dan perhatian, berbagi kasih dan pengorbanan. Seringkali tangan kanan kita sementara bekerja, tangan kiri kita sudah ditarik untuk pekerjaan lain. Sementara kaki melangkah ke utara, kita sudah ditarik ke selatan. Begitulah gambaran hidup yang terpecah-pecah karena kasih sayang.
Sementara ibu memperhatikan anak yang satu, anak yang lain sudah minta perhatian. Seringkali melelahkan untuk berbagi waktu, berbagi kasih dan perhatian, tapi sesudahnya kita mengalami hati yang penuh sukacita karena hidup kita begitu berarti bagi banyak orang.
Inilah hidup yang berkelimpahan dalam Tuhan, hidup ekaristi, yaitu “mengambil-mengucap syukur-memecah-mecahkan-terus berbagi.
Biarlah nama Tuhan dipuji dan dimuliakan melalui hidup dan karya kita, yang tak menjadi perpanjangan tangan Tuhan.
Semangat Senin! Selalu bersyukur dan bahagia.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 04 Agt 2025
Senin Pekan Biasa XVIII
PW S. Yohanes Maria Vianney, Imam
Warna Liturgi: Putih
Bait Pengantar Injil: Mat 4:4b
Bacaan Injil: Mat 14:13-21
************
Bait Pengantar Injil
Mat 4:4b
Manusia hidup bukan saja dari makanan,
melainkan juga dari setiap sabda Allah.
Bacaan Injil
Mat 14:13-21
Sambil menengadah ke langit Yesus mengucapkan doa berkat;
dibagi-bagi-Nya roti itu, dan diberikan-Nya kepada para murid.
Lalu para murid membagi-bagikannya kepada orang banyak.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Sekali peristiwa,
setelah mendengar berita pembunuhan Yohanes Pembaptis,
menyingkirlah Yesus;
dengan naik perahu
Ia bermaksud mengasingkan diri ke suatu tempat yang sunyi.
Tetapi orang banyak mendengarnya
dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat,
dari kota-kota mereka.
Ketika Yesus mendarat,
Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya,
maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka
dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.
Menjelang malam para murid Yesus datang kepada-Nya dan berkata,
“Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam.
Suruhlah orang banyak itu pergi
supaya dapat membeli makanan di desa-desa.”
Tetapi Yesus berkata kepada mereka,
“Mereka tidak perlu pergi. Kalian saja memberi makan mereka.”
Jawab mereka,
“Pada kami hanya ada lima buah roti dan dua ekor ikan.”
Yesus berkata, “Bawalah ke mari.”
Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput.
Setelah itu Ia mengambil kelima buah roti dan kedua ekor ikan itu.
Sambil menengadah ke langit diucapkan-Nya doa berkat,
dibagi-bagi-Nya roti itu dan diberikan-Nya kepada para murid.
Para murid lalu membagi-bagikannya kepada orang banyak.
Mereka semua makan sampai kenyang.
Kemudian potongan-potongan roti yang sisa dikumpulkan
sampai dua belas bakul penuh.
Yang ikut makan kira-kira lima ribu orang pria,
tidak termasuk wanita dan anak-anak.
Demikianlah sabda Tuhan.
************
ℍ
Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” (Mat 14: 15 – 16).
Melalui kisah yang kita baca dalam Injil hari ini, kita diajak untuk menemukan kembali makna sebuah perikop yang terkenal — bukan sebagai mukjizat penggandaan roti saja, melainkan sebagai perumpamaan tentang belas kasih, berbagi, dan awal dari sebuah dunia baru. Yesus, tergerak oleh belas kasih yang mendalam bagi umat manusia yang sakit dan hancur di hadapan-Nya, mengajak para murid untuk berbuat lebih dari sekadar bersimpati. Ia mengajak mereka untuk bertindak. “Kamu harus memberi mereka makan.”
Perintah sederhana ini menantang logika dunia lama, di mana orang-orang lapar diminta untuk mengurus diri sendiri, di mana hanya mereka yang mampu yang dilayani, dan di mana kebutuhan mereka yang paling lemah diabaikan. Yesus mengusulkan sesuatu yang baru: sebuah dunia yang tidak dibangun di atas prinsip jual beli, melainkan di atas pemberian diri dan berbagi. Ketika para murid mempersembahkan sedikit yang mereka miliki, Yesus memberkatinya dan mengembalikannya, bukan langsung memberikannya kepada orang banyak, melainkan kepada para murid untuk dibagikan. Mukjizat itu bukanlah penciptaan roti dari ketiadaan, melainkan transformasi hati dari kekhawatiran menjadi kemurahan hati, dari keegoisan menjadi persekutuan.
St. Yohanes Maria Vianney, yang peringatannya kita rayakan hari ini, menghayati Injil ini dengan kesederhanaan dan keyakinan. Di sebuah paroki kecil di Ars, ia memecah-mecah roti belas kasih Kristus setiap hari, melalui pengakuan dosa, Ekaristi, dan kasih yang tak kenal lelah. Seperti para murid dalam Injil, ia mempersembahkan sedikit yang ia miliki, dan Allah menjadikannya berbuah limpah. Tak jarang kita terkungkung oleh keterbatasan kita seperti para murid, namun jika yang sedikit dan terbatas itu dipersembahkan kepada Tuhan, akan menghasilkan mukjizat yang berlimpah-limpah. St. Yohanes Maria Vianney saat akan ditahbiskan diragukan karena kurang cemerlang kepandaiannya, bahkan sering dihina sebagai seekor keledai. Menanggapi hal itu ia berkata, “Jika Simson dapat mengalahkan dan membunuh seribu orang Filistin dengan rahang keledai, siapa yang tahu apa yang dapat dilakukan Tuhan dengan seekor keledai utuh sepertiku?”
Dalam setiap Ekaristi, Yesus mengambil hidup kita, memberkatinya, dan mengembalikannya kpeada kita agar kita dapat berbagi dengan sesama. Ketika kita mengikuti teladan-Nya — hidup bukan untuk diri sendiri melainkan untuk kebaikan sesama — kita melihat fajar dunia baru yang dibawa oleh Yesus. Roti itu sungguh dipecah-pecahkan untuk semua. Semoga kita, seperti St. Yohanes Vianney, menjadi roti di tangan Kristus, yang dipecah-pecahkan dan dibagikan untuk kehidupan dunia.
Tuhan, kupersembahkan diriku kepada-Mu, untuk diberkati, dipecah-pecahkan dan dibagikan bagi kehidupan dunia. Amin.
Selamat beraktivitas di pekan yang baru. Bagikan dirimu untuk hidup dunia. JLU!
[♡.] ❤️
RP Joni Astanto MSC