SAKRAMEN REKONSILIASI | Misi Umat Vinsensian Paroki St Pius X Blora, Keuskupan Surabaya
SAKRAMEN REKONSILIASI | Misi Umat Vinsensian Paroki St Pius X Blora, Keuskupan Surabaya
/ yakobistv / iamcm_indo
/ @salamvinsensian
/ @congregatiomissionis
/ @puterikasihindonesia_promo3554
https://cm-indonesia.org/ – https://famvin.org/ – https://cmglobal.org/en/
Sejarah Singkat Misi Umat Vinsensian pada tanggal November 20, 2017
MUV muncul dari sebuah kesadaran akan perlunya pembaharuan diri dalam Gereja Katolik pada abad 15 – 17. Pada saat itu Gereja Katolik mengalami kemerosotan, misalnya hal-hal rohani diperjual-belikan, umat Katolik di pedesaan mengalami kemiskinan jasmani dan rohani karena tidak terlayani, kualitas petugas gereja yang amat buruk, para klerus yang lebih senang bekerja di kota-kota besar karena mendapatkan banyak fasilitas, kekayaan, dan kehormatan. Pembaharuan gereja dihembuskan oleh tokoh-tokoh Gereja. Salah satu tokohnya ialah St. Vinsensius. Pembaharuan Gereja dilakukan dengan berbagai metode. Salah satu metodenya adalah MISI UMAT (mission populaire). Misi umat dijalankan oleh berbagai kongregasi dan serikat imam. Selama kegiatan misi umat, para imam berkotbah, mengajar katekismus, dan mendengarkan pengakuan dosa. Misi umat itu dijalankan dari paroki ke paroki secara rutin. Misi umat yang dilakukan Santo Vinsensius bermula pada tahun 1617 di sebuah desa yang bemama Foleville. Vinsensius tergerak untuk melakukan misi umat karena dipicu oleh pengalamannya bergaul dengan orang miskin.
Pada suatu hari, Vinsensius mendengarkan pengakuan dosa dari seorang yang cukup terpandang kesalehannya yang sedang sakit parah. Ternyata orang itu penuh dengan dosa berat yang tak pernah diakukan dalam pengakuan dosa. Setelah pengakuan, karena merasa sangat bergembira, orang itu kemudian bercerita kepada Madame de Gondi: “Ibu, jika saya tadi tidak mengatakan dosa seluruh hidupku, maka saya akan binasa selamanya karena sebelumnya saya tidak berani mengatakan dosa-dosa tersebut dalam pengakuan dosa”. Setelah orang saleh itu meninggal, Madame de Gondi memberi usul agar Vinsensius berkotbah dari desa ke desa mengenai pentingnya pertobatan dan pengakuan dosa. Tanggal 25 Jarruari 1617, tepat pada Pesta Bertobatnya Rasul Paulus, Vinsensius berkotbah di Foleville. Ternyata banyak umat yang tergerak oleh kotbah tersebut dan berduyun-duyun meminta pengakuan dosa. Karena Vinsensius tidak sanggup melayani seorang diri, dia meminta bantuan dua imam Yesuit untuk membantunya dalam pengakuan dosa, berkotbah dan mengajar katekismus. Inilah cikal bakal misi umat yang selanjutnya akan dijalankan oleh imam-imam, dan bruder CM. Berkat pengalaman tersebut Vinsensius diminta untuk melakukan kegiatan yang sama di paroki-paroki yang ada di daerah kekuasaan keluarga Gondi. Santo Vinsensius mulai mengumpulkan beberapa orang imam yang bersedia menjalankan misi umat ini. Kelompok yang dibentuk itu nantinya menjadi Kongregasi Misi atau CM. Kekhasan misi umat yang dilakukan Vinsensius terletak pada sasarannya yakni umat yang paling membutuhkan. Pada waktu itu 80-85% warga Perancis adalah petani yang hidup di pedesaan. Kondisi perekonomian mereka sangat menyedihkan. Selain miskin dalam materi, mereka juga miskin rohani karena sedikit imam yang mau melayani mereka. Karena itu misi umat diarahkan Vinsenius ke pedesaan. Meskipun demikian Vinsensius tidak menutup kemungkinan mengadakan misi umat di daerah perkotaan. Pada tahun 1641, Vinsensius mengadakan misi umat di wilayah kota Paris, di Faubourg Saint-Germain.
MISI UMAT VINSENSIAN DI INDONESIA
MUV di Indonesia bermula dari kegiatan-kegiatan lain yang diadakan oleh para frater Novisiat CM pada tahun 1980-an di Philipina. kemudian, semangat misi yang dialami oleh para frater tersebut terus berkobar hingga para frater pulang kembali ke Indoneisa. kemudian sebagai tindak lanjut, para frater CM mulai mengadakan kegiatan live-in yang diawali di Paroki Pare pada tahun 1987. Tahun-tahun berikutnya dengan berbagai penyempurnaan kegiatan live-in tersebut diubah menjadi Misi Umat Vinsensian yang dilaksanakan di berbagai paroki di Keuskupan Surabaya, Malang, dan Banjarmasin. Pada tahun 2002, MUV bukan hanya menjadi program kegiatan tahunan dari para frater, tetapi sungguh-sungguh dijadikan sebagai program CM Propinsi Indonesia dan sebagai konsekuensi selanjutnya, pada tahun 2011, MUV Indonesia mendirikan pusat kegiatan pembinaan dan sekretariat di Kediri. MUV di Indonesia dijalankan sepenuhnya untuk mengambil bagian dalam usaha Gereja Indonesia dalam melaksanakan visi dan misinya. Kerena itu, sampai sekarang ini MUV diselenggarakan dalam kerja sama dengan umat setempat dan pastor paroki serta pengurus paroki yang bersangkutan.
Sumber: Purwanto, Yustinus Edi. Misi Umat Vinsensian: Dokumen Sejarah Singkat Misi Umat Vinsensian Indonesia.
Sumber Yakobis TV