Kamis, 31 Juli 2025
Sabda Kehidupan
Kamis 31 Juli 2025
Peringatan St Ignatius dari Loyola
Matius 13:52 (Mat 13:47-53)
Maka berkatalah Yesus kepada mereka: “Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”
Lama Tapi Selalu Baru
Kita mengenal adanya Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bukan berarti yang lama sudah usang dan tak terpakai, tapi menjadi dasar bagi kita untuk memahami karya keselamatan Allah sejak dunia dijadikan hingga kini dan sampai selamanya.
Sejak Allah menciptakan dunia dan manusia, Allah menghendaki agar Kerajaan Allah, yakni Kerajaan Cinta Kasih hadir di dunia ini. Atas berbagai cara Allah hadir dalam perjalanan sejarah alam semesta dan umat manusia sepanjang zaman dan memulai sejarah keselamatanNya dengan memanggil Abraham agar manusia mengenal Allah pencipta dan kita umat gembalaanNya.
Karena dosa telah merasuk kehidupan manusia dan alam semesta, maka Allah membaharui perjanjianNya dengan mengutus Yesus PuteraNya untuk menebus dan menyelamatkan seluruh bangsa manusia, serentak menyempurnakan karya keselamatanNya bagi dunia.
Yesus datang agar semua kepenuhan Allah tinggal dalam diri kita, seluruh muka bumi dibaharui dengan hikmat Allah dan cahaya Allah dalam Kristus terus bersinar dalam hidup kita.
Setiap hari kasih Allah selalu baru sekalipun Allah tetap sama dahulu dan sekarang serta selamanya. Yesus juga tetap sama sampai selamanya namun kasihNya selalu baru dan menakjubkan. Untuk itu kita tak pernah berhenti menyelami dan mendalami, serta memaknai atas cara baru, cinta Tuhan yang telah lama ada, tapi selalu baru di hati.
Mari terus belajar dan mendalami, agar kita tetap dibaharui, dan tetap segar dan tetap berseri serta penuh semangat menjalani hidup yang melimpah berkat.
”St Ignatius doakanlah kami. Amin.”
Selamat hari baru dengan semangat baru dan harapan baru!❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 31 Jul 2025
Kamis Pekan Biasa XVII
PW S. Ignasius dari Loyola, Imam
Warna Liturgi: Putih
Bait Pengantar Injil: Kis 16:14b
Bacaan Injil: Mat 13:47-53
************
Bait Pengantar Injil
Kis 16:14b
Tuhan, bukalah hati kami,
supaya kami memperhatikan sabda Putera-Mu.
Bacaan Injil
Mat 13:47-53
Ikan yang baik dikumpulkan ke dalam pasu, yang buruk dibuang.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada orang banyak,
“Hal Kerajaan Surga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut,
lalu mengumpulkan pelbagai jenis ikan.
Setelah penuh, pukat itu pun diseret orang ke pantai.
Lalu mereka duduk dan dipilihlah ikan-ikan itu,
ikan yang baik dikumpulkan ke dalam pasu, yang buruk dibuang.
Demikianlah juga pada akhir zaman.
Malaikat-malaikat akan datang
memisahkan orang jahat dari orang benar.
Yang jahat lalu mereka campakkan ke dalam dapur api.
Di sana ada ratapan dan kertak gigi.
Mengertikah kalian akan segala hal ini ?”
Orang-orang menjawab, “Ya, kami mengerti.”
Maka berkatalah Yesus kepada mereka,
“Karena itu
setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran hal Kerajaan Allah
seumpama seorang tuan rumah
yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama
dari perbendaharaannya.”
Setelah selesai menyampaikan perumpamaan itu,
Yesus pergi dari sana.
Demikianlah sabda Tuhan.
**************
ℍ
“Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi,” (Mat 13: 47 – 50)
Yesus melanjutkan perumpamaan tentang Kerajaan – dan hari ini Ia berbicara tentang pukat yang ditebarkan ke laut dan menangkap segala jenis ikan. Ketika pukat penuh, hasil tangkapan disortir—yang baik disimpan, dan yang tidak baik dibuang. Ini adalah pemandangan yang biasa bagi Yesus, yang sebagian karyanya dilakukan di tepi Danau Tiberias. Namun, pesannya jauh lebih dalam daripada sekadar pukat dan ikan.
Perumpamaan ini bukan hanya tentang memisahkan orang baik dan jahat. Perumpamaan ini tentang diri kita masing-masing. Di dalam setiap orang—bahkan mereka yang ditarik ke dalam pukat Kristus—ada keindahan, dan ada keterpecahan, keretakan. Ada saat-saat kasih yang dipimpin Roh dan saat-saat kita kompromi yang didorong oleh cinta diri.
Sebagaimana diajarkan Ignatius Loyola dalam Latihan Rohaninya, kita dipanggil untuk membedakan (discernment), untuk memperhatikan apa yang menuntun kita kepada Tuhan dan apa yang menjauhkan kita. Proses kedewasaan Kristiani adalah pemurnian hati kita—membiarkan Roh membakar habis segala sesuatu yang menuntun pada kebinasaan agar keindahan Kristus tetap ada.
Matius Sang Penginjil, seorang pemungut cukai yang bertobat, mengakhiri bagian ini dengan gambaran seorang ahli Taurat yang bijaksana yang membawa harta, baik yang baru maupun yang lama. Hal ini juga berbicara tentang perjalanan iman kita. Ignatius, seorang prajurit yang beralih menjadi seorang mistikus, menunjukkan bagaimana Allah mengubah bahkan ambisi dan hasrat menjadi semangat untuk Injil. Ia tidak membuang masa lalu, tetapi membiarkan Allah memurnikannya.
“Dapur api” dalam perumpamaan ini bukanlah ancaman, melainkan sebuah janji: bahwa kerusakan dan keburukan kita tidak akan menjadi penentu. Pada akhirnya, hanya apa yang indah dalam diri kita—apa yang telah dibentuk oleh kasih karunia—yang akan tetap ada. Panggilannya untuk kita adalah membiarkan Allah melakukan pekerjaan ini dalam diri kita, untuk bekerja sama dengan Roh-Nya, dan untuk menjadi “malaikat” bagi satu sama lain—menjadi utusan yang menunjukkan kebaikan dan membimbing orang lain menuju kehidupan.
Tuhan Yesus, terima kasih atas anugerah hidup Santo Ignatius. Semoga aku belajar untuk menjadi bijaksana dan taat seperti saat ia bertemu dengan-Mu dalam hidupnya. Amin.
Selamat beraktivitas. Tuhan senantiasa bersertamu. JLU! [❤.] ❤️
RP Joni Astanto MSC