KATEKESE I BULAN JUNI 2025: Kepedulian Sosial dalam Terang Kitab Suci
KATEKESE I BULAN JUNI 2025: Kepedulian Sosial dalam Terang Kitab Suci
Kepedulian Sosial dalam Terang Kitab Suci
Katekese Kitab Suci tentang Hidup Bermasyarakat
Apakah kepedulian sosial itu?
Sobat Komisi KKS KAM, kepedulian sosial bukan sekadar tindakan sukarela atau amal sesaat. Kepedulian sosial adalah panggilan mendasar bagi setiap umat Allah. Dalam Imamat 19:18 dikatakan, “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah Tuhan”. Perintah ini ditegaskan Yesus dalam hukum terutama yang kedua. ”Hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini” (Mrk 12:31). Ada 4 makna pokok dari sikap “kepedualian sosial” yaitu:
1. Kepedulian sosial adalah sikap belas kasih yang nyata untuk memperhatikan, membela, dan menolong sesama. Allah tegas menyatakan, “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes 58:6-7).
2. Perbuatan peduli kepada sesama merupakan wujud iman. Surat Rasul Yakobus mengatakan, “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: ‘Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!’ tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati” (Yak. 2:14-17).
3. Bersikap peduli kepada sesama merupakan sebuah kewajiban etis sebagai orang beriman. Kita tidak punya pilihan lain. Syarat dan ketentuan tidak berlaku. Bukan karena orang lain berbuat baik kepada kita, maka kita menaruh rasa peduli kepadanya. Yesus berkata, “apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?” (Mat 5:46). Kepedulian sosial tidak mengenal balas-membalas. Akan tetapi, “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu” (Amsal 19:17). Kita wajib peduli pada sesama.
4. Kepedulian sosial merupakan ekspresi ritual dan penyembahan kepada Allah. Kita tidak cukup rajin berdoa dan beribadah, menerima sakramen dan melakukan banyak devosi, tetapi minus belas kasih. Dalam Yak 1:27 dikatakan, “Ibadah yang murni dan tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia”. Orang yang memberi persembahan di atas altar sambil melupakan mereka yang hidup menderita dan kehilangan kebahagiaan sejujurnya justru menyakiti hati nurani Allah.
Mengapa Allah Memerintahkan Kepedulian Sosial?
Sahabat Komisi KKS KAM, Tuhan memerintahkan umat-Nya mengasihi sesama. Sebagaimana Yesus mengasihi murid-murid, Ia pun dengan tegas berkata kepada mereka, “Inilah perintah-Ku kepadamu: kasihilah seorang akan yang lain” (Yoh 15:17). Mengapa peduli kepada sesama menjadi perintah atau hukum yang mengikat? Bukankah setiap umat Allah ciptakan dengan kemampuan masing-masing sehingga sanggup memenuhi semua kebutuhan dirinya? Ada beberapa alasan yang kita temukan dalam Kitab Suci, mengapa kepedulian sosial bukan hanya penting, melainkan menjadi kewajiban :
Pertama, kepedulian sosial berkaitan dengan keadilan. Allah kita adalah Allah yang adil. Adil artinya memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya. Sejak Perjanjian Lama, Allah telah menuntut umat-Nya untuk mempraktikkan keadilan dengan menunjukkan belas kasih kepada sesama. Mik 6:8, misalnya, “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”
Tidak adil orang yang menimbun harta untuk dirinya. Kekayaannya sesungguhnya milik orang miskin yang mampir di kantongnya. Ia tidak boleh berdalih harta yang ia miliki hasil kerja keras dan kecerdasannya.
Allah mengecam mental menumpuk harta. Kepada pesohor dan penguasa, Ia berkata, “Kamulah yang merusak kebun anggur-Ku; hasil rampasan dari orang miskin ada di rumahmu! Mengapa kamu menginjak-injak umat-Ku dan menggiling wajah orang-orang miskin?” (Yes 3:14-15). “Camkanlah ini, hai kamu orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu!” (Yak 5:1).
Sumber Komisi Kerasulan Kitab Suci KAM