Kamis, 12 Juni 2025
Sabda Kehidupan
Kamis 12 Juni 2025
Matius 5:23-24 (Mat 5:20-26)
”Jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”
Rekonsiliasi Adalah Persembahan Terindah Untuk Tuhan
Yesus meminta kita agar relasi kita dengan Bapa di surga tak terlepas dari relasi kita dengan orang lain. Untuk apa membawa persembahan kepada Tuhan bila hati masih penuh dengan rasa marah, dendam dan benci serta pelbagai pikiran negatif terhadap orang lain. Hati yang damai jauh lebih berarti dari melimpahnya persembahan.
Menganggap semua baik-baik saja padahal ada ganjalan di hati, berarti orang itu berpura-pura. Tuhan yang tahu isi hati manusia tentu saja kecewa. Rasul Yohanes berkata, “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1 Yoh 4:20).
Rekonsiliasi atau berdamai kembali itulah persembahan terindah untuk Tuhan. Tidak perlu merasa benar sendiri. Cinta yang dalam selalu mampu memaafkan.
”Ya Yesus, anugerahkanlah kami semangat rendah hati agar kami selalu mau berdamai, berani meminta maaf dan rela mengampuni orang yang telah melukai hati kami. Sembuhkanlah hati kami yang terluka dengan jamahan kasihMu. Semoga kami juga dapat saling menyembuhkan. Amin.”
Selamat hari Kamis. Syalom, damai selalu di hati.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 12 Jun 2025
Kamis Pekan Biasa X
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Mat 13:34
Bacaan Injil: Mat 5:20-26
*************
Bait Pengantar Injil
Mat 13:34
Perintah baru Kuberikan kepada kalian, sabda Tuhan;
yaitu supaya kalian saling mengasihi,
sebagaimana Aku telah mengasihi Tuhan.
Bacaan Injil
Mat 5:20-26
Barangsiapa marah terhadap saudaranya, harus dihukum.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Dalam khotbah di bukit, berkatalah Yesus,
“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar
daripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi,
kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Kalian telah mendengar
apa yang disabdakan kepada nenek moyang kita:
Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.
Tetapi Aku berkata kepadamu:
Setiap orang yang marah terhadap saudaranya, harus dihukum!
Barangsiapa berkata kepada saudaranya: ‘Kafir!’
harus dihadapkan ke Mahkamah Agama,
dan siapa yang berkata: ‘Jahil!’
harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah,
dan engkau teringat akan sesuatu
yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu
dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu,
lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau
bersama-sama dengan dia di tengah jalan,
supaya lawanmu jangan menyerahkan engkau kepada hakim,
dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya,
dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.
Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana,
sebelum engkau membayar utangmu sampai lunas.”
Demikianlah sabda Tuhan.
**************
ℍ
“Orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala,” (Mat 5: 22)
Injil hari ini mengajarkan bahwa siapa pun yang menyimpan kebencian di hatinya adalah seorang “pembunuh” di dalam hati. Itulah tempat Injil selalu dimulai: bukan dari luar, tetapi dari dalam hati. Tetapi di situ jugalah perang dimulai. Di situlah perpecahan berkembang.
Yesus pun sangat jelas: jangan menghina, jangan merendahkan, jangan berbicara buruk tentang saudara atau saudari Anda. Dia tidak hanya berbicara tentang kekerasan fisik, tetapi juga tentang kekerasan lidah — senjata tajam dan cepat yang dengan mudah kita gunakan. Kekerasan verbal sering disamarkan sebagai lelucon, sarkasme, atau sindiran cerdas. Namun di balik itu, ada keinginan untuk merendahkan orang lain agar kita merasa sedikit lebih tinggi.
Mengapa kita melakukan ini? Karena kita lemah dan rapuh. Seperti Kain, ketika kita merasa tidak aman atau terluka, kita lebih mudah tergoda untuk menyerang dengan kata-kata ketimbang membuka hati bagi kebaikan. Lebih mudah bergosip daripada memberkati. Lebih mudah meruntuhkan daripada membangun.
Namun Yesus menawarkan cara yang lain. Cara yang menuntut pertobatan — perubahan hati. Ia memanggil kita kepada “hukum kasih, hukum ketaatan, hukum damai.” Itu dimulai dengan cara sederhana, dengan lidah kita. Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya,” kata kitab Amsal (18: 21)
Mari kita mohon kepada Tuhan karunia untuk mengendalikan lidah kita — mengurangi kepahitan, melunakkan nada, memilih diam daripada memfitnah, memberkati daripada menghina. Ini adalah silih dosa yang kecil, tetapi menghasilkan damai berlimpah.
Semoga kata-kata kita memberi kehidupan, bukan luka. Semoga ucapan mulut kita menguatkan, bukan membebani. Dan semoga kita tidak pernah lupa: kita semua menapaki jalan yang sama — membutuhkan belas kasih, kesabaran, dan cinta.
Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk terus bertumbuh setiap hari dalam kesabaran, dalam kemampuan untuk memaafkan, dan dalam kesediaan kami untuk berkorban. Amin.
Selamat beraktivitas. Jadilah pembawa damai! ⒿⓁⓊ! ❤️
RP Joni Astanto MSC