Ruang Katekese Awam Komisi KKS KAM: Katekese I Mei 2025 // Bp M. Nainggolan dan Ibu M. Tampubolon
Ruang Katekese Awam Komisi KKS KAM: Katekese I Mei 2025 // Bp M. Nainggolan dan Ibu M. Tampubolon
Hidup Anakmu Bukan Milikmu
Katekese Kitab Suci tentang Pendidikan Anak
Saudara-saudari yang terkasih, baru saja kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Setiap kali hari ini tiba, kita selalu membahas filosofi pendidikan. Kita merefleksikan tentang metode atau cara yang tepat dalam mendidik generasi muda agar mereka dapat tumbuh dengan baik dan mampu beradaptasi dengan situasi dunia saat ini. Pemikiran Ki Hajar Dewantara biasa direfleksikan ulang, terutama terkait bagaimana anak dididik sesuai kodrat alam dan kodrat zaman anak itu. Namun, di sini kita tidak membahas filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara. Kita akan fokus pada pendidikan anak dari sudut pandang Kitab Suci.
Di tengah zaman yang serba cepat dan kompetitif, tak sedikit orang tua yang memandang anak-anak sebagai proyek kehidupan, sebagai kelanjutan mimpi, kehormatan, dan ambisi pribadi. Ada yang sejak dini sudah menentukan jalur studi anaknya, mengatur masa depan karier, bahkan memaksakan pasangan hidup. Sayangnya, niat baik seperti ini sering kali tak diiringi dengan kepekaan terhadap kehendak Allah atas hidup anak. Anak-anak pun akhirnya hidup bukan sebagai dirinya sendiri, melainkan sebagai bayang-bayang dari harapan orang tuanya.
Sebagai umat Katolik, kita perlu kembali bertanya: Siapakah anak itu di mata Allah? Bagaimana seharusnya orang tua memandang dan memperlakukan anak-anak mereka? Apakah orang tua berhak mengatur seluruh kehidupan anak? Apakah benar bahwa mereka memiliki hak mutlak atas anak-anak mereka? Mari kita menelaahnya secara lebih dalam dalam terang Kitab Suci dan ajaran iman dalam katekese yang kami judul: Hidup Anakmu Bukan Milikmu.
Siapa atau apakah anak dalam keluarga?
Sebelum kita berbicara tentang bagaimana anak diperlakukan, kita perlu memahami terlebih dahulu siapa atau apa itu anak dalam keluarga? Anak adalah pribadi yang utuh. Sekali lagi, pribadi yang utuh, bukan setengah manusia. Kitab Suci menyatakan bahwa anak adalah karunia Allah, bukan hasil ciptaan manusia semata. Dalam Maz 127:3 tertulis, “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah.” Kata “milik pusaka” mengungkapkan bahwa anak merupakan warisan yang dipercayakan Allah kepada keluarga. Anak adalah titipan, bukan milik pribadi.
Dalam Kej 1:27, dikatakan bahwa manusia, tentu saja termasuk anak-anak, diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dengan demikian, setiap anak memiliki martabat ilahi sejak awal keberadaannya. Mereka bukan “lembaran kosong” untuk harus ditulis orang tua sesuai selera dan ambisinya, melainkan pribadi unik yang telah dikenal dan dikasihi Allah jauh sebelum mereka lahir. Mereka memiliki potensi dalam diri mereka yang siap tumbuh menjadi aktus. Hal itulah hendaknya yang ditelusuri dan dikenali orang tua dengan berbagai cara agar anak-anak tidak dijauhkan dari kodrat alamnya.
Yeremia 1:5 memberikan gambaran yang kuat tentang kehendak Allah atas seorang anak: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau…” Tuhan punya rencana tebaik atas diri setiap anak, rencana yang jauh melampaui rancangan orang tua. Oleh karena itu, tidak tepat apabila orang tua memaksakan kehendak untuk dijadikan anak-anak sebagai jalan hidup, profesi, atau masa depannya. Anak-anak bukan hak milik pribadi orang tua yang bisa diperlakukan sesuka hatinya, tanpa melihat rencana Allah dalam diri anak itu.
Siapa atau apakah orang tua terhadap anak-anaknya?
Saudara dan saudari yang terkasih, orang tua adalah penjaga dan pendamping, bukan pemilik kehidupan anak. Orang tua diberi kehormatan untuk bekerja sama dengan Allah dalam proses penciptaan, tetapi ini tidak memberi hak absolut atas hidup anak. Dalam Ef 6:4, Rasul Paulus memberikan kita pengingat penting: “Dan kamu, para bapak, jangan bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Tentu saja yang mendidik anak bukan hanya ayah, tetapi dalam kerjasama dengan ibu. Jadi, orang tua adalah pendidik, artinya orang yang membantu anak menarik keluar potensi yang Tuhan berikan kepada anak, bukan pemaksa kehendak kepada anak.
Apa tugas orang tua? Tugas orang tua adalah mendidik anak dalam iman, kasih, dan kebijaksanaan, bukan mendikte seluruh jalan hidup mereka. Sir 7:23 berkata, “Adakah engkau mempunyai anak? Hendaklah kaudidik, tundukkanlah kuduknya sejak masa”. Hendaknya ketundukan anak terhadap orang tua tidak dipahami sebagai sikap otoriter. Memang orang tua harus memiliki otoritas di hadapan anak, tetapi bukan otoriter, bukan hitam putih. Pendidikan menurut Kitab Suci bukanlah penundukan, melainkan pembinaan karakter agar anak tumbuh mengenal kebaikan, kebenaran, dan kehendak Allah.
Dalam Amsal 1:8-9, dikatakan: “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu, sebab hal itu karangan bunga yang indah bagi kepalamu dan suatu kalung bagi lehermu.”
Sumber Komisi Kerasulan Kitab Suci KAM