Kamis Putih, 17 April 2025
Sabda Kehidupan
Kamis 17 April 2025
Kamis Putih: Mengenang Perjamuan Malam Terakhir
Yohanes 13:1 (Yoh 13:1-15)
Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.
Three In One
Hari ini kita memulai Tri Hari Suci (Kamis Putih-Jumat Agung-Sabtu Suci Vigili Paskah). Pada hari Kamis Putih kita mengenangkan Perjamuan Malam terakhir. Para penginjil Synoptik (Matius, Markus, Lukas) telah mencatat peristiwa Perjamuan Terakhir Yesus dengan mengambil roti dan anggur dan memberikannya kepada para murid sebagai Tubuh dan DarahNya sendiri.
Penginjil Yohanes menambahkan kisah pembasuhan kaki yang terjadi saat itu sebagai ungkapan cinta Yesus bagi mereka sampai sehabis-habisnya.
Yesus lebih dahulu membasuh kaki murid-muridNya, termasuk Yudas yang akan mengkhianatiNya. Sebagai Tuhan dan Guru, tidak pantas Ia membasuh kaki murid-muridNya. Seharusnya murid-muridNya yang membasuh kakiNya. Tapi bagi Yesus cinta yang tulus dan total tidak ditentukan oleh status dan kedudukan. Ia menanggalkan semuanya itu dan menjadikan diriNya hamba bagi murid-muridNya.
Tidak berhenti sampai di situ, Yesus bukan saja melayani sampai tuntas, Ia-pun memberikan tubuh dan darahNya menjadi santapan jiwa, menjadi roti dan anggur pemuas lapar dan dahaga bagi jiwa untuk dapat hidup bersama Yesus selamanya di surga.
Mulanya pengorbanan Yesus sebagai Domba Paskah dirayakannya dalam bentuk sakramental dalam perjamuan malam terakhir. Lalu keesokan harinya Ia mengorbankan diriNya melalui derita sengsara, penyaliban dan kematianNya di atas kayu salib.
Itulah sebabnya, perjamuan malam terakhir (ekaristi – Kamis Putih) tidak bisa dipisahkan dengan Jumat Agung kematianNya.
Kebangkitan Yesus pada Hari Raya Paskah, memahkotai semua peristiwa Kamis Putih dan Jumat Agung, sehingga Perjamuan Malam terakhir menjadi perayaan kenangan pemyelamatan Tuhan seumur hidup, sepanjang masa, dan menjadi perjamuan surgawi. Roti dan anggur telah menjadi Tubuh dan Darah Yesus yang dikorbankan sebagai Domba Paskah demi penebusan dosa dan keselamatan manusia. Tiga peristiwa mulia itu menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, tritunggal.
Maka setiap kali kita merayakan Perjamuan Tuhan, kita mengenangkan wafat dan kebangkitan Kristus hingga kedatanganNya kembali. Ekaristi menjadi saat terindah, Yesus hadir memberikan diriNya dan menyatukan hidupNya dengan hidup kita.
”Terimakasih ya Yesus, Engkau mencintai kami sampai sehabis-habisnya. Perkenankan kami membalas kasihMu dengan memberikan seluruh hidup kami menjadi roti yang dipecah-pecah dan anggur yang diperas untuk berbagi kasih bersamaMu bagi sesama kami. Semoga hidup kami menjadi ungkapan syukur dan pujian serta persembahan bagi kemuliaanMu. Amin.”
Selamat merayakan Trihari Suci dengan penuh syukur dan sukacita!❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 17 Apr 2025
Kamis Pekan Suci
Warna Liturgi: Putih
Bait Pengantar Injil: Yoh 13:34
Bacaan Injil: Yoh 13:1-15
*************
Bait Pengantar Injil
Yoh 13:34
Aku memberikan perintah baru kepadamu,
yaitu supaya kamu saling mengasihi.
Seperti Aku telah mengasihi kamu,
demikian pula kamu harus saling mengasihi.
Bacaan Injil
Yoh 13:1-15
Ia mengasihi mereka sampai saat terakhir.
Inilah Injil Suci menurut Yohanes:
Sebelum hari raya Paskah mulai,
Yesus sudah tahu bahwa saatnya sudah tiba
untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa.
Sebagaimana Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya,
demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai saat terakhir.
Ketika mereka sedang makan bersama,
Iblis membisikkan dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon,
rencana untuk mengkhianati Yesus.
Yesus tahu,
bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya
dan bahwa Ia datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah.
Maka bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya.
Ia mengambil sehelai kain lenan
dan mengikatkannya pada pinggang-Nya,
kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi,
dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya,
lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.
Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus.
Kata Petrus kepada-Nya,
“Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?”
Jawab Yesus kepadanya,
“Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang,
tetapi engkau akan memahaminya kelak.”
Kata Petrus kepada-Nya,
“Selama-lamanya Engkau tidak akan membasuh kakiku!”
Jawab Yesus, “Jikalau Aku tidak membasuh engkau,
engkau tidak akan mendapat bagian bersama Aku.”
Kata Simon Petrus kepada-Nya,
“Tuhan, jangan hanya kakiku saja,
tetapi juga tangan dan kepalaku!”
Kata Yesus kepadanya,
“Barangsiapa sudah mandi, cukuplah ia membasuh kakinya,
karena ia sudah bersih seluruhnya.
Kamu pun sudah bersih, hanya tidak semua!”
Yesus tahu siapa yang akan menyerahkan Dia;
karena itu Ia berkata, “Tidak semua kamu bersih.”
Sesudah membasuh kaki mereka,
Yesus mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya.
Lalu Ia berkata kepada mereka,
“Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu?
Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan,
dan katamu itu tepat,
sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.
Nah, jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu,
maka kamu pun wajib saling membasuh kaki.
sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepadamu,
supaya kamu juga berbuat seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”
Demikianlah sabda Tuhan.
***************
EMBUN ROHANI PAGI DARI KOTA AMBON MANISE
MEWARTAKAN DAN MENJADIKAN DIRI SEBAGAI KABAR BAIK
”Tidak cukup bagi seseorang untuk mewartakan kabar gembira, tetapi ia harus menjadi kabar gembira itu sendiri.”
Model terbaik mewartakan dan menjadikan diri sebagai kabar gembira adalah Yesus yang kita temukan peranan-Nya dalam injil hari ini: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku.”( ayat 18 )
Pelajaran penting bagi kita di hari ini adalah:
1) Berpikirlah positif selalu kepada orang-orang di sekitarmu;
2) Berusahalah agar semua kata yang terucapkan dari mulutmu adalah kata-kata yang memberi inspirasi dan memberkati;
3) Perdengarkanlah Firman Tuhan sebagai kabar gembira kepada sesama yang mendengarkanmu.
Akhirnya, jika kehidupan hanya bisa terberi sekali saja maka marilah kita menjadikan hidup, kata dan perbuatan kita sebagai kabar gembira bagi sesama.
Selamat beraktivitas untuk para sahabat.
Salam, doa dan berkatku ( + ) untuk semua.
( Dari: Mgr. Inno Ngutra : Minnong – Duc in Altum )