Minggu, 06 April 2025
Sabda Kehidupan
Minggu 06 April 2025
Hari Minggu Prapaskah V
Yohanes 8:7-8 (Yoh 8:1-11)
Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
Pentingnya Berefleksi
Yohanes mengangkat kisah seorang perempuan yang kedapatan berzinah dan dibawa ke hadapan Yesus oleh para ahli Taurat dan orang Farisi untuk dimintai pendapatNya. Menarik bila kita simak alasan mereka membawa perempuan itu ke hadapan Yesus, sebenarnya bukan untuk mencari keadilan tapi untuk menjebak dan menyalahkan Yesus. Dikatakan dalam ayat 6, “Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya.”
Menurut Hukum Taurat hukumannya sudah jelas yakni, seorang wanita yang kedapatan berbuat zinah harus dilempari dengan batu sampai mati! (Lihat Ulangan 22:22-24).
Betapa dilematis bagi Yesus. Bila Yesus mengatakan ‘ya silahkan merajam dia’ itu berarti Yesus setuju dengan pembunuhan dan Ia melawan hukum Romawi, penguasa Israel yang berwenang menjatuhkan hukuman. Bila Yesus mengatakan tidak boleh merajam perempuan itu, berarti Ia melawan hukum Taurat Musa.
Betapa agung kebijkasanaan Yesus menghadapi dilema ini. Ia tidak mengatakan ya atau tidak. Pertama Ia menulis di tanah. Tindakan Yesus ini seakan mengajak orang-orang yang sudah emosi dan tak tahan diri ini untuk tenang dulu, diam sejenak, merenung dan berefleksi.
Kita tidak tahu apa yang ditulis Yesus di tanah. Tapi bisa saja Ia menulis kembali 10 perintah Allah. Dengan menulis angka 1 sampai 10 saja, mereka sudah tahu apa maksud Yesus.
Karena itu Yesus mengetuk hati nurani orang-orang yang sudah siap dengan batu di tangan untuk dilemparkan. ‘Coba lihatlah ke dalam diri, apakah engkau lebih suci, lebih benar, lebih baik dari perempuan itu.’ ‘Coba lihat 10 perintah Allah. Apakah kamu tidak pernah melanggarnya?’ Bukankah tindakan mereka menjebak Yesus di Bait Allah dengan memanfaatkan kesalahan si perempuan adalah juga perbuatan dosa?
Kesadaran diri ketika menghakimi orang lain, sangatlah penting dan mendasar, jangan sampai jatuh pada kesombongan rohani, merasa lebih suci dari yang lain. Malah, hukumannya akan berbalik saat hati nurani berbicara jujur bahwa ternyata sayapun tidak lebih baik dari orang lain, bahkan sudah banyak kali melanggar hukum Tuhan.
Syukurlah para perajam itu sadar diri, dan tidak ada yang menghukum perempuan itu.
Yesus sangat tidak kompromi dengan dosa. Ia membenci dosa tapi tetap mencintai si pendosa. Ada kesempatan untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Yesus mengampuni perempuan itu dengan permintaan yang tegas: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Ayat 11).
Belaskasih dan pengampunan adalah isi hati Yesus, biarlah penyesalan dan pertobatan menjadi isi hati kita.
Mari selalu merenung dan berefleksi, menyadari kedosaan kita, menyesalinya dan bertobat membaharui diri. Yesus selalu terbuka hati mengampuni dan menerima kita kembali. Kita-pun pada gilirannya harus mengampuni orang yang bersalah pada kita.
Selamat Hari Minggu Prapaskah V. Selamat melanjutkan permenungan hidup di masa tobat ini.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 06 Apr 2025
Minggu Prapaskah V
Warna Liturgi: Ungu
Bait Pengantar Injil: Yl 2:12-13
Bacaan Injil: Yoh 8:1-11
************
Bait Pengantar Injil
Yl 2:12-13
Sekarang juga, sabda Tuhan, berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu,
sebab Aku pengasih dan penyayang.
Bacaan Injil
Yoh 8:1-11
Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa,
hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini.
Inilah Injil Suci menurut Yohanes:
Sekali peristiwa Yesus pergi ke bukit Zaitun.
Pagi-pagi benar Ia berada di Bait Allah,
dan seluruh rakyat datang kepada-Nya.
Ia duduk dan mengajar mereka.
Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya
seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.
Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah
lalu berkata kepada Yesus,
“Rabi, perempuan ini tertangkap basah
ketika ia sedang berbuat zinah.
Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita
untuk melempari dengan batu perempuan-perempuan yang demikian.
Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?”
Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Yesus,
supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya.
Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis di tanah dengan jari-Nya.
Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya,
Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka,
“Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa,
hendaklah ia yang pertama melemparkan batu
kepada perempuan itu.”
Lalu Yesus membungkuk lagi dan menulis di tanah.
Tetapi setelah mendengar perkataan itu,
pergilah mereka seorang demi seorang,
mulai dari yang tertua.
Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu,
yang tetap di tempatnya.
Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya,
“Hai perempuan, di manakah mereka?
Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”
Jawab perempuan itu, “Tidak ada, Tuhan.”
Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau.
Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”
Demikianlah sabda Tuhan.
**************
ℍ
“Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” [Yoh 8: 11]
Dalam Injil hari ini, kita saksikan sebuah perjumpaan luar biasa antara belas kasih dan penghakiman. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa seorang perempuan yang tertangkap basah berzinah ke hadapan Yesus. Mereka datang dengan batu di tangan, siap untuk menghukum. Tetapi Yesus tidak langsung menanggapi. Dia membungkuk dan menulis di tanah – Santo Agustinus mengatakan bahwa Dia mungkin sedang menulis dosa-dosa para penuduh. Satu demi satu, mereka pergi, menyadari keberdosaan mereka sendiri.
Seberapa sering kita bertindak seperti para penuduh itu? Kita menuding, menghakimi, dan lupa bahwa kita juga adalah orang berdosa yang membutuhkan belas kasihan. Dalam keluarga, komunitas, dan bahkan di dunia maya, kita mudah sekali mengutuk orang lain, bersembunyi di balik ilusi kebenaran. Namun, Yesus mengundang kita untuk melepaskan batu-batu yang kita genggam – penghakiman, gosip, dan ketidakpedulian.
Kita semua diundang masuk ke keheningan lubuk hati kita, di mana kita dapat mendengar Tuhan mengingatkan kita bahwa kita dikasihi dan diampuni. Dan ketika kita menyadari betapa kita telah diampuni, kita dipanggil untuk mengampuni.
“Akupun tidak menghukum engkau,” kata Yesus kepada perempuan itu. Kata-kata ini dapat mengubah hidup seseorang. Masa Prapaskah adalah kesempatan kita untuk mendengar kata-kata ini diucapkan kepada kita secara pribadi. Yesus mengangkat kita dari rasa malu dan kesalahan masa lalu kita dan memanggil kita untuk berjalan dengan bermartabat dan penuh pengharapan.
Tuhan, ajar kami saling menerima dengan hati berbelas kasih. Amin.
Selamat Hari Minggu. Mari saling mengampuni. ⒿⓁⓊ! ❤️
RP Joni Astanto MSC