Minggu, 30 Maret 2025
Sabda Kehidupan
Minggu 30 Maret 2025
Hari Minggu Prapaskah ke IV
Hari Minggu Laetare
Lukas 15:31-32 (Luk 15:1-3, 11-32)
”Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”
Bersukacita Oleh Kasih Bapa Surgawi
Hari Minggu Prapaskah ke IV disebut hari Minggu Laetare atau Minggu Sukacita, karena Paskah, Hari Penebusan kita sudah dekat. Liturgi hari ini ditandai dengan Antifon Pembukaan yang diambil dari Kitab Yesaya, 66:10, “Bersukacitalah Hai Yerusalem!” dan Bacaan Injil tentang Kasih Bapa yang tak terhingga melalui kisah Yesus dalam Perumpamaan anak yang hilang.
Perumpamaan Yesus tentang ‘anak yang hilang’ adalah pesan Yesus yang sangat indah dan membawa sukacita tentang siapakah Allah kita yang sebenarnya. Allah adalah Bapa yang kasihNya tak terhingga bagi putra-putriNya yang durhaka.
Dikisahkan Yesus mengenai dua karakter anak si Bapa yang bertentangan satu sama lain. Si bungsu dengan begitu menyakitkan memutuskan ikatan bapa-anak, kakak-adik dan memilih hidup terpisah dari keluarganya untuk mengejar ambisinya sendiri. Dengan sombongnya ia merasa mampu mengatur hidupnya tanpa perlu hidup bersama dengan keluarganya. Betapa menyakitkan hati seorang bapa, bila anaknya tidak lagi membutuhkannya apalagi tidak menghargainya sebagai bapa.
Di pihak lain, anak yang satunya, yang sulung, ia tinggal serumah dengan bapanya, tapi ternyata hanya seatap tapi tidak sehati. Memang ia kelihatan dengar-dengaran tapi tidak bahagia dengan semua yang ada padanya. Ia lebih peduli dengan dirinya daripada ikut prihatin dengan kesedihan hati ayahnya karena kehilangan adiknya. Ia tetap menyimpan dendam pada saudaranya, karena itu ia tidak setuju bila bapanya berbaik hati dan mengampuni adiknya.
Betapa sedih dan terkuka hati si bapa. Anaknya yang satu memisahkan diri dan meninggalkannya dan yang satu tetap tinggal dan hidup bersamanya tapi dengan kedekatan semu dan tak mendalam.
Di sinilah Yesus menunjukkan betapa Allah Bapa kita begitu mengasihi kita, apapun karakter dan keberadaan diri kita. Bapa merangkul semua anakNya dalam pelukan kasihNya, tak peduli seberapa besar anak-anakNya telah menyakiti hatiNya. KasihNya jauh melampaui dosa dan pelanggaran kita.
RangkulanNya jauh mengatasi baik buruknya kepribadian kita. Rekonsiliasi, berdamai kembali, bertobat, pulang kembali, itulah jalan untuk bersatu lagi, melekat di hati Allah Bapa kita dan mengalami sukacita sejati, diampuni dan dicintai oleh Bapa Surgawi dan berkenan tinggal bersamaNya.
Mari menyesali dosa kita dan pulang kembali. Bapa tetap setia menanti kita, Ia ingin agar kita bahagia hidup bersamaNya.
Selamat Hari Minggu Prapaskah ke IV. Betapa bahagia dan bersukacita kita punya Bapa seperti Allah kita.❤️
Ps Revi Tanod Pr
ℍ
Minggu, 30 Maret 2025, Minggu Prapaskah IV Tahun C
Bacaan: Yos. 5:9a,10-12; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7; 2Kor. 5:17-21; Luk. 15:1-3,11-32.
“Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.” (Luk 15: 20)
Pada hari Minggu Laetare ini, kita diundang untuk merenungkan belas kasihan Allah yang lembut dan melimpah ruah melalui perumpamaan tentang Anak yang Hilang. Dalam kisah yang sudah tidak asing lagi ini, Yesus mengungkapkan hati Bapa – hati yang mengampuni tanpa ragu-ragu dan bersukacita menyambut kepulangan anak-anak-Nya. Anak bungsu itu kembali bukan karena pertobatan yang mendalam, melainkan didorong oleh rasa lapar dan putus asa. Namun, ayahnya berlari memeluknya, mengenakan pakaian yang terhormat padanya, dan merayakan kepulangannya. Begitulah belas kasihan Allah. Dia tidak mengukur kelayakan kita, tetapi menyambut kita kembali hanya karena kita adalah anak-anak-Nya.
Tetapi kisah ini juga menampilkan anak sulung, yang bergumul untuk memahami belas kasihan ini. Meskipun ia tetap setia dan taat, hatinya dikeraskan oleh kebencian. Ia tidak dapat bersukacita atas kepulangan adiknya karena ia melihat hubungan mereka dari segi tugas dan jasa, bukan kasih. Seberapa sering kita, seperti anak sulung itu, menghidupi iman kita seolah-olah itu hanyalah kewajiban, dan sulit untuk menyambut mereka yang kita anggap kurang layak? Betapa mudahnya kita menjauhkan diri dari saudara-saudari kita, lupa bahwa kita semua adalah bagian dari keluarga Allah yang sama.
Bapa dalam perumpamaan ini mengundang kedua anaknya untuk masuk ke dalam sukacita-Nya. Allah tidak menginginkan hamba-hamba yang enggan, tetapi anak-anak yang bersukacita yang merayakan belas kasihan-Nya bersama-sama. Dia merindukan kita untuk bersukacita ketika seorang pendosa kembali, untuk merangkul dan bukannya mengucilkan, dan untuk melihat setiap orang melalui kacamata cinta dan pengampunan.
Marilah kita membuka hati kepada belas kasih Allah, sehingga kita dapat memberikan belas kasih yang sama kepada orang lain. Marilah kita bergabung dalam perjamuan Bapa dengan hati yang penuh belas kasih dan sukacita.
“Bersukacitalah, hai Yerusalem, dan berhimpunlah, kamu semua yang mencintainya; bergembiralah dengan sukacita, hai kamu yang dulu berduka, agar kamu bersorak-sorai dan dipuaskan dengan kelimpahan penghiburanmu!” (Yes 66: 10 – 11).
Tuhan, puji syukur atas belas kasih dan pengampunan-Mu. Semoga kami juga berbelas kasih dan mengampuni satu sama lain. Amin.
Selamat hari Minggu. Rengkuhlah pelukan kasih dan pengampunan Bapa. ⒿⓁⓊ! ❤️
RP Joni Astanto MSC