Sabtu, 29 Maret 2025
Sabda Kehidupan
Sabtu 29 Maret 2025
Lukas 18:13-14a (Luk 18:9-14)
”Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak.”
”Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”
Yesus selalu mengingatkan kita betapa Allah Bapa selalu tergerak hatiNya ketika anakNya yang Ia cintai datang dengan penuh kerendahan hati mengakui dosanya dan memohon belaskasih pengampunanNya.
Yesus telah datang ke dunia mencari anak-anak Allah yang tersesat dan hilang. Ia tidak berdiam diri menanti kita pulang. Ia terus mencari kita dengan cara berdiam di hati kita dalam RohNya.
Yesus terus mengetuk pintu hati kita agar ada rasa sesal di hati saat berbuat dosa. Ia menyadarkan kita betapa Allah tak pernah lelah mengampuni kita.
Datanglah dengan penuh kerendahan hati. Seperti si pemungut cukai, mari kita tundukkan kepala menepuk dada tanda sesal dan tobat, karena tak layak berdiri di hadapan Allah. Jangan seperti si orang Farisi yang merasa benar dan sombong. Biarlah semangat tobat si pemungut cukai menjadi semangat tobat kita dan doanya menjadi doa kita: ”Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”
Rasakanlah rangkulan kasih Allah yang penuh pengampunan, memberi kehangatan dan damai di hati, memulihkan hidup kita untuk tegak berdiri sebagai anak-anak Allah.
Selamat berakhir pekan. Kasih Yesus menguatkan kita.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 29 Mar 2025
Sabtu Prapaskah III
Warna Liturgi: Ungu
Bait Pengantar Injil: Mzm 95:8ab
Bacaan Injil: Luk 18:9-14
*************
Bait Pengantar Injil
Mzm 95:8ab
Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara Tuhan,
janganlah bertegar hati.
Bacaan Injil
Luk 18:9-14
Pemungut cukai ini pulang ke rumahnya,
sebagai orang yang dibenarkan Allah.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Sekali peristiwa,
Yesus menyatakan perumpamaan ini
kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar
dan memandang rendah semua orang lain:
“Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa;
yang satu adalah orang Farisi dan yang lain pemungut cukai.
Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini:
Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu,
karena aku tidak sama seperti semua orang lain,
aku bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah,
dan bukan juga seperti pemungut cukai ini.
Aku berpuasa dua kali seminggu,
aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh,
bahkan ia tidak berani menengadah ke langit,
melainkan ia memukul diri dan berkata,
Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
Aku berkata kepadamu:
Orang ini pulang ke rumahnya
sebagai orang yang dibenarkan Allah,
sedang orang lain itu tidak.
Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan,
dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”
Demikianlah sabda Tuhan.
**************
ℍ
“Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk 18: 14)
Injil hari ini berkisah tentang orang Farisi dan pemungut cukai, menggambarkan dua sikap yang sangat kontras dalam doa. Orang Farisi, yang yakin akan kebenarannya, meninggikan diri dengan merapalkan daftar perbuatan-perbuatan baiknya, mencari pembenaran dan menempatkan dirinya di atas orang lain. Sebaliknya, si pemungut cukai dengan rendah hati mengakui dosa-dosanya dan memohon belas kasihan Allah.
Doa melibatkan dua gerakan: naik dan turun. Naik mengangkat hati kita kepada Allah, melepaskan diri kita dari sikap mementingkan diri sendiri dan gangguan-gangguan duniawi. Ini adalah keinginan untuk mencari Tuhan dan mempersembahkan hidup kita di hadapan-Nya. Namun, naik kepada Tuhan hanya mungkin terjadi ketika kita pertama-tama turun ke dalam lubuk hati kita. Turun ke dalam hati menuntut ketulusan dan kerendahan hati – pengakuan yang jujur akan kelemahan dan kebutuhan kita akan belas kasihan Allah.
Pemungut cukai mencontohkan kerendahan hati ini, berdiri di kejauhan, merasa tak pantas namun jujur di hadapan Allah. Dalam kerendahan hatinya, ia membuka hatinya kepada kasih Allah yang menyembuhkan dan mengubahkan. Sementara itu, kesombongan orang Farisi membutakannya, membuat doanya berkisar pada dirinya sendiri dan bukan pada Allah. Kesombongan rohani membuat kita menghakimi orang lain dan memuliakan diri kita sendiri, menjauhkan kita dari kasih karunia Allah.
Apakah kita mencari pujian atas perbuatan baik kita, atau apakah kita datang ke hadapan Allah dengan kerendahan hati, percaya pada belas kasihan-Nya?
Marilah kita teladani Bunda Maria, hamba Tuhan yang rendah hati, yang mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan meninggikan orang-orang yang rendah hati dan memenuhi hati orang-orang yang percaya kepada-Nya. Semoga kita selalu menghampiri Tuhan dengan kerendahan hati, karena kita tahu bahwa belas kasihan-Nya saja yang dapat memulihkan dan mengubah kita.
Tuhan, jadikanlah aku hamba-Mu yang rendah hati dan tulus. Amin.
Selamat berakhir pekan. ⒿⓁⓊ! ❤️
RP Joni Astanto MSC