Senin, 24 Maret 2025
Sabda Kehidupan
Senin 24 Maret 2025
Lukas 4:24 (Luk 4:24-30)
Dan kata-Nya lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.”
Menghargai Kalangan Sendiri
Betapa sedih hati Yesus, ketika ditolak oleh orang-orang sekampungNya di Nazareth. Mereka lebih melihat latar belakang keluargaNya yang sederhana, daripada melihat semua tanda-tanda heran yang dibuat Yesus sebagai tanda bahwa janji para nabi telah terpenuhi dalam diriNya.
Memang begitu sulit menerima dan menghargai apa yang datang dari kalangan sendiri. Mantan presiden Habibi merasa sedih karena tekadnya menjadikan Indonesia hebat dengan membuat pesawat terbang sendiri, ternyata tidak dihargai di negaranya sendiri. Orang lebih tertarik dengan merk luar negri daripada buatan negri sendiri. Lucunya cepatu Nike dibuat di Tangerang, fashion terkenal Zara diproduksi di Sukoharjo, Hugo Boss, Uniqlo dan H&M dibuat di Bandung. Para Insinyur pesawat yang mendesain pesawat Boeing ternyata adalah para insinyur Indonesia. Mari bangga dengan “Made in Indonesia”.
Penolakan Yesus oleh keluarga sekampungNya, sahabat kenalanNya sendiri, mengingatkan kita untuk menerima dan menghargai semua anggota keluarga kita, orang-orang sederhana di sekitar kita, orang-orang sekampung kita.
Ingatlah bahwa sekalipun ditolak manusia, Yesus tak pernah menolak kita. Ia mencintai kita apa adanya. Ia ikut menanggung beban derita kita karena Ia mengerti kesulitan kita sebagai manusia biasa. Lembutkan hati, murahkan hati, cintailah semua orang yang Yesus cintai, bahkan musuh sekalipun. Itulah yang diminta Yesus. Mendoakan mereka dan jangan mengutuk!
Tetaplah baik sekalipun diperlakukan tidak baik!
Semangat Senin, Semangat saling menghargai. Yesus setia menerima dan menemani kita.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 24 Mar 2025
Senin Prapaskah III
Warna Liturgi: Ungu
Bait Pengantar Injil: Mzm 130:5.7
Bacaan Injil: Luk 4:24-30
***************
Bait Pengantar Injil
Mzm 130:5.7
Aku menanti-nantikan Tuhan,
dan mengharapkan firman-Nya,
sebab pada Tuhan ada kasih setia,
dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan.
Bacaan Injil
Luk 4:24-30
Yesus seperti Elia dan Elisa,
diutus bukan kepada orang-orang Yahudi.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Ketika Yesus datang ke Nazaret,
Ia berkata kepada umat di rumah ibadat,
“Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
Tetapi Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar:
Pada zaman Elia terdapat banyak janda di Israel,
ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan,
dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.
Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka,
melainkan kepada seorang janda di Sarfat, di tanah Sidon.
Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel,
tetapi tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan,
selain dari pada Naaman, orang Siria itu.”
Mendengar itu,
sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.
Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota
dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak,
untuk melemparkan Dia dari tebing itu.
Tetapi Yesus berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.
Demikianlah Sabda Tuhan.
*************
ℍ
“Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.” [LUK 4: 28 – 29]
Di dekat Nazaret, menghadap ke Lembah Yizreel, terdapat sebuah tebing curam dengan pemandangan indah Gunung Tabor. Tempat menarik ini dikenal sebagai Mons Saltus Domini dalam bahasa Latin, atau Gunung “Lompatan Tuhan”. Tradisi mengatakan bahwa ini adalah tebing gunung di mana Tuhan melompat ketika orang-orang Nazaret hendak melemparkan-Nya. Ada tradisi apokrif yang mengatakan bahwa di sana kita dapat menemukan batu tempat Yesus mendarat, di mana Dia meninggalkan jejak tangan dan kaki-Nya. Tradisi ini menunjuk pada perikope Injil hari ini.
Kita temukan peristiwa ini pada awal pelayanan Yesus. Saat Ia kembali ke Nazaret setelah pembaptisan dan pencobaan-Nya di padang gurun, Ia berkhotbah di rumah ibadat di mana semua orang terkesima dengan perkataan-Nya. Tetapi kesadaran bahwa Dia hanyalah salah satu dari mereka, dan perkataan-Nya bahwa tidak ada nabi yang diterima di tempat asalnya, membuat penduduk kota itu marah sehingga mereka ingin melemparkan-Nya dari atas tebing.
“Tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya,” kata Yesus. Dalam pelayanan-Nya, Yesus mengalami penolakan: tidak hanya dari orang-orang yang menentang-Nya, tetapi juga dari keluarga-Nya sendiri dan orang-orang dekat-Nya. Injil Yohanes mengatakan, “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya,” (Yoh 1: 11).
Kita mungkin berada dalam posisi yang sama, ditolak oleh orang-orang terdekat kita karena keyakinan kita yang berakar pada ajaran Kristus. Saat kita melakukan tindakan kenabian, kita mesti siap menghadapi penolakan, pengkhianatan, ketidakpercayaan atau bahkan pelecehan dari orang-orang yang kita kenal: keluarga, teman, kerabat dst. Akankah kita “kalah” terhadap penolakan mereka?
Injil hari ini menantang kita untuk memiliki keberanian atas keyakinan Kristiani kita dalam kehidupan kita sehari-hari ketika kita menghadapi kebencian dan penolakan karena iman dan kebenaran yang kita pegang.
Tuhan, semoga kami berani berpegang pada kebenaran sejati, apapun risikonya. Jadikan kami nabi-nabi masa kini.
Selamat beraktivitas di pekan yang baru. Perjuangkan kebenaran! ⒿⓁⓊ! ❤️
RP Joni Astanto MSC