Beberapa Potret Di Mappipost – Kab. Mappi – Papua Selatan Tempo Dulu. Foto Pada Tahun 1940
Beberapa Potret Di Mappipost – Kab. Mappi – Papua Selatan Tempo Dulu. Foto Pada Tahun 1940.
Kompleks Mappi Pos Di Zaman Pemerintahan Belanda – Sekarang Dikenal Juga Sebagai Cabang Tiga Mappi Pos.
(Suatu Catatan Sejarah)
______________________________________________
Pada tahun 1936, Kapten Wiarda (yang pada saat itu kepala Bestuur (Pemerintah) Belanda di Tanah Merah) mendirikan pos jaga militer di lokasi strategis ini untuk mencegah orang dari daerah kali Mappi (yang bermuara di Kawarga tidak jauh dari kali Digul) datang memburu kepala manusia di daerah kali Digul. Pada waktu itu, suku – suku tersebut saling bermusuhan.
Mappi-Pos tidak banyak berpengaruh. Para prajurit tidak diizinkan bertindak keras tetapi harus mencoba membujuk para pengayu untuk menyadari bahwa berburu kepala manusia tidaklah sesuai dengan kehidupan manusia, singkat kata tidak baik. Tetapi biasa pada malam hari, orang dari daerah kali Mappi dengan diam-diam berdayung di sekitar pos Mappi untuk pergi mengayau di kali Digul atas dan terkadang penjaga (tentara ataupun polisi pemerintah Belanda di Mappi pos, tidak mengetahuinya). Setelah beberapa tahun, sebagian dari tentara itu dipindahkan ke Tanah Merah; mereka ditempatkan di sana untuk melindungi eksplorasi minyak di hulu Digul. Akibatnya, Mappi-pos kekurangan tenaga sehingga tindakan yang dapat diambil masih kurang efektif lagi. Orang di daerah kali Mappi memanfaatkan kesempatan itu: “Para prajurit tidak bisa menangkap kita, ayo kita pergi berburu kepala manusia,” kata mereka.
Pada awal tahun 1941, sisa tentara juga pergi dan pos jaga itu diserahkan kepada polisi. Sementara itu, telah ditempatkan seorang petugas Bestuur di sini. Perang Dunia II pecah, dan pada tanggal 12 Mei 1943 Mappi-pos dibom oleh Jepang. Semua orang yang masih ada di situ mengungsi ke Yodom (di kali Digul). Pada bulan Juni tahun 1944, tentara Australia mendirikan stasiun radar di sini agar mereka dapat sinyalir dini kedatangan pesawat Jelang yang mau menyerang Merauke. Enam bulan kemudian, pos radar ini dibongkar dan mereka pergi lagi. Setelah itu, bukit ini ditinggalkan menjadi tempat yang sepi.
Pada awal tahun 1955, seorang pastor muda sedang dalam perjalanan dari Tanah Merah melalui kali Digul ke tempat tugas pertamanya di Kepi. Di muara Kawarga kapal berlabuh di tepi sungai. Mereka harus menunggu kepala arus lewat dulu. Itulah gelombang pasang yang menerjang kali Digul dari laut Arafura setiap bulan purnama. Semua penumpang diminta untuk turun. Pastor muda itu mendaki bukit Tamao, yang pernah diberi nama Bukit Juliana oleh Kapten Wiarda.
Pastor muda itu sudah tiba di atas bukit itu dan berjalan-jalan di antara sisa-sisa bekas pos jaga lama ini. Dia mencoba membayangkan apa yang pernah terjadi di tempat ini. Di sini pernah bertugas orang Belanda dan orang Hindia Belanda. Ada yang membawa istri dan anak-anak. Beberapa telah mati di sini, kuburan mereka sudah ditutup dengan rumput. Siapa yang masih ingat laki-laki dan perempuan yang mati karena malaria atau karena dikena anak panah dan yang dikubur di bukit yang terlupakan ini?
Pastor muda itu mencari tempat untuk duduk dan menulis di buku hariannya. Tulis dalam buku hariannya: “Di sini para prajurit berjuang melawan penduduk asli, siang dan malam. Orang-orang di Mappi-pos berdiri di depan orang pengayau untuk mencegah mereka pergi berburu kepala manusia. Sekarang saya bisa berdiri di samping orang Papua untuk berusaha menarik mereka untuk ikut di jalan yang benar. Mappi-pos mengajarkan kenisbian jerih payah kita. Mungkin itu sebabnya saya orang yang tidak sabar ini harus tunggu sebentar di bekas Mappi-pos.”
Diterjemahkan dari artikel, “Den Haan, Rapport: Toestanden in ongecontroleerd gebied in Zuid Nieuw Guinea, Collectie Moll, D H 1430-6, gedateerd 15 juli 1948”.
Oleh, Pace Berto Namsa Bade
Sumber Pace Berto Namsa