Sabtu, 15 Februari 2025
Sabda Kehidupan
Sabtu 15 Februari 2025
Markus 8:5-6 (Mrk 8:1-10)
Yesus bertanya kepada mereka: “Berapa roti ada padamu?” Jawab mereka: “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan dan mereka memberikannya kepada orang banyak.
Bersyukur, Berbagi Dan Bahagia
Secara matematis 7 roti untuk 4000 orang tentulah tidak akan mencukupi. Namun berhitung seperti ini adalah perhitungan manusia secara kuantitatif terkait angka.
Yesus datang dan membuka perspektif baru bagi kita untuk mempergunakan prinsip lain yang kualitatif dan ilahi. Bukan hanya melihat angka tapi nilai atau makna di balik angka itu. Yakni memandang jumlah yang sekalipun kecil itu sebagai anugerah pemberian Tuhan yang patut disyukuri. Maka terjadilah perbanyakan.
Sekecil apapun yang ada pada kita akan menjadi begitu bernilai dan berharga bila kita sendiri menghargainya sebagai pemberian Tuhan. Dan mengucap syukur adalah awal perbanyakan.
Dorongn hati yang tergerak oleh belaskaihan membuat apa yang disyukuri itu menjadi banyak untuk dibagi-bagikan. Tapi harus didahului dengan pemecahan. Yesus mengajak kita untuk berani memecah-mecahkan apa yang kita syukuri ini agar dibagikan kepada orang lain.
Betapa berartinya hidup ini ketika kita jalani dengan penuh syukur, dan dengan ikhlas hati kita pecagkn dan bagikan demi kebaikan sesama. Begitulah cara kita memuliakan Tuhan yang mencipta kita.
Hidup ini menjadi tak ternilai indahnya, tak terukur maknanya, tak terkirakan bahagianya, ketika kita selalu bersyukur dan berbagi. Yesus telah melakukannya bagi kita. Ia telah menjadi Roti Hidup yang terpecah bagi hidup kita. Mari jangan berhitung atas cara manusia, tapi atas cara Tuhan: Datang selalu pada Tuhan membawa apa yang ada pada kita, menghargai berkat Tuhan, mengucap syukur lalu kita mengosongkan diri, terpecah dan terbagi bagi rencana Tuhan yang indah yang telah mengutus kita ke dunia ini untuk menjadi berkat bagi dunia.
Selamat berakhir pekan dengan penuh syukur dan bahagia❤️
Ps Revi Tanod Pr
ℍ
Sabtu 15 Februari 2025, Sabtu Pekan Biasa V
Bacaan: Kej. 3:9-24; Mzm. 90:2,3-4, 5-6,12-13; Mrk. 8:1-10.
“Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang,” (Mrk 8: 6 – 9).
Melihat banyak orang yang tidak mempunyai makanan Hati Yesus tergerak oleh belas kasih dan terjadilah penggandaan roti. Kisah penggandaan roti ini mengajak kita untuk merenungkan beberapa poin berikut:
* Jangan cari aman ketika menjumpai sesama berkebutuhan. Ketimbang cari aman dan mengeluh: “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” (Mrk 8:4) Yesus mengajak para murid melihat sumber daya mereka: “Berapa roti ada padamu?” Jawab mereka: “Tujuh.” (Mrk 8: 5) Dan dari sumber daya yang kita miliki, kita berbagi. “Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak,” (Mrk 8: 6). Dari yang sedikit, dipersembahkan kepada Tuhan dan dibagikan, mereka berkelimpahan. “Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul, “ (Mrk 8: 8 ).
* Kelimpahan pada suatu waktu di masa lalu. Peristiwa penggandaan roti itu terjadi di “tempat yang sunyi”. Ini mengingatkan kita bagaimana Allah memberi makan umat-Nya dengan manna di padang gurun yang sunyi.
* Kelimpahan selamanya. Kisah penggandaan roti ini diakhiri dengan orang yang mengumpulkan sisa-sisa roti sebanyak tujuh bakul setelah semua orang makan sampai kenyang. Ini merupakan jaminan bahwa berkat Allah tak pernah habis. Akan selalu ada anugerah, akan selalu ada berkat-Nya, sekarang, esok hari, dan di hari-hari mendatang.
Ia telah menyelenggarakan hidup kita dan mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua secara berlimpah, memberi makan dan memuaskan kebutuhan-kebutuhan kita. Pada gilirannya, kita mengucap syukur atas hidup kita, mempersembahkannya kepada Tuhan, memecah-mecahkannya, dan membagi-bagikannya kepada sesama.
Tuhan, jadikanlah kami tanda dan sarana kemurahan-Mu. Ajarlah kami untuk melihat dan percaya pada kelimpahan-Mu, serta membagikan-Nya kepada yang berkebutuhan. Amin.
Selamat berakhir pekan dan selamat berbagi hidup. ⒿⓁⓊ! ❤️