Selasa, 11 Februari 2025
Sabda Kehidupan
Selasa 11 Februari 2025
Hari Orang Sakit Sedunia
Markus 7:6b (Mrk 7:1-13)
”Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.”
Selaras Yang Di Luar Dan Di Dalam
Yesus menegur orang-orang Farisi dan ahli Taurat karena hanya mementingkan hal-hal yang luaran, namun tidak peduli dengan apa yang di dalam. Seperti kata pepatah, lain di bibir lain di hati.
Yesus-pun mengingatkan mereka agar jangan melakukan sesuatu dengan alasan yang dangkal yakni hanya sekedar mengikuti kebiasaan atau hanya sekedar mengikuti perintah tanpa mendalaminya.
Apapun yang kita lakukan untuk Tuhan maupun sesama, mari melakukannya dengan setulus hati dan dengan sepenuh hati.
Apabila hidup rohani terasa kering dan hampa, mengikuti ibadah atau misa tanpa makna, itulah tandanya kita melakukan rutinitas ibadah hanya sekedar menuruti perintah dan tradisi. Orang bisa saja hadir dan terlibat, tapi hati dan pikirannya tidak tertuju kepada Tuhan. Badannya ada di gereja tapi pikirannya sudah di tempat lain.
Orang kehilangan gairah dan semangat untuk berdoa dan beribadah bila hatinya jauh dari Tuhan. Mari mendorong hati kita untuk melekat di hati Tuhan. Alami dan rasakan kasih setiaNya di setiap tarikan nafas hidup kita. Hanya oleh kasihNya kita masih bisa bernafas dan hidup. Kesadaran ini menumbuhkan rasa syukur selalu dalam hati dan kerinduan untuk berdoa menyampaikan terimakasih.
Mari memperdalam motivasi kita dalam melakukan sesuatu, seperti kata Paulus, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kol 3:24)
Selamat Hari Orang Sakit sedunia. Mari mendoakan semua yang sakit baik fisik maupun batin. Tuhan Yesus menjamah dan menyembuhkan kita semua.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 11 Feb 2025
Selasa Pekan Biasa V
PF S.P. Maria dari Lourdes
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Mzm 119:36a.29b
Bacaan Injil: Mrk 7:1-13
**************
Bait Pengantar Injil
Mzm 119:36a.29b
Condongkanlah hatiku kepada perintah-Mu, ya Allah,
dan kurniakanlah hukum-Mu kepadaku.
Bacaan Injil
Mrk 7:1-13
Kamu mengabaikan perintah Allah
untuk berpegang pada adat istiadat manusia.
Inilah Injil Suci menurut Markus:
Pada suatu hari
serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat
dari Yerusalem datang menemui Yesus.
Mereka melihat beberapa murid Yesus makan dengan tangan najis,
yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.
Sebab orang-orang Farisi
– seperti orang-orang Yahudi lainnya –
tidak makan tanpa membasuh tangan lebih dulu,
karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang.
Dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan
kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya.
Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang,
umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas tembaga.
Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu
bertanya kepada Yesus,
“Mengapa murid-murid-Mu
tidak mematuhi adat istiadat nenek moyang kita?
Mengapa mereka makan dengan tangan najis?”
Jawab Yesus kepada mereka,
“Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu,
hai orang-orang munafik!
Sebab ada tertulis:
Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya,
padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
Percuma mereka beribadah kepada-Ku,
sebab ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.
Perintah Allah kamu abaikan
untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”
Yesus berkata kepada mereka,
“Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah,
supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.
Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu!
Dan: ‘Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati.’
Tetapi kamu berkata:
Kalau seorang berkata kepada bapa atau ibunya:
‘Apa yang ada padaku,
yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu,
sudah digunakan untuk kurban, yaitu persembahan kepada Allah,’
maka kamu membiarkan dia
untuk tidak lagi berbuat sesuatu pun bagi bapa atau ibunya.
Dengan demikian sabda Allah kamu nyatakan tidak berlaku
demi adat istiadat yang kamu ikuti itu.
Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan!”
Demikianlah sabda Tuhan.
**************
ℍ
“Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” [Mrk 7: 6]
Hari ini, kita kenangkan Penampakan Bunda Maria kepada St Bernadette di Lourdes. Dalam kesederhanaan dan imannya, Santa Bernadette mengajarkan kepada kita bagaimana menanggapi panggilan Tuhan dengan kerendahan hati dan cinta.
Tanggapan kita terhadap undangan Tuhan untuk mendekatkan diri kepada-Nya merupakan bagian dari iman kita. Ini adalah sebuah cara hidup – sebuah perjalanan kembali kepada Tuhan, bukan sekadar serangkaian praktek kesalehan. Perjumpaan dengan Yesus mengubah diri kita dan memampukan kita untuk menyentuh kehidupan orang-orang di sekitar kita. Menghidupi iman kita berarti terus menerus terikat dengan Tuhan, yang merupakan sumber kasih dan pengharapan.
Dalam hubungan dengan Allah ini, aturan dan norma memiliki makna yang sebenarnya. Seperti sepasang kekasih yang mengungkapkan cinta mereka melalui tindakan, demikian juga kita menunjukkan cinta kita kepada Allah melalui doa, sakramen-sakramen, dan devosi seperti Rosario. Semua itu bukanlah beban, melainkan tindakan kasih yang memperkuat ikatan kita dengan-Nya. Coba bandingkan dengan pernikahan: tanpa tindakan-tindakan cinta yang kecil, hubungan dapat menjadi renggang. Hal yang sama berlaku untuk hubungan kita dengan Tuhan.
Namun, kita harus berhati-hati untuk tidak membiarkan praktik keagamaan menjadi sekadar kewajiban. Agama dimaksudkan untuk menuntun kita kepada Tuhan, bukan untuk membebani kita. Inti dari iman adalah relasi yang dekat dengan Tuhan, berbagi sukacita, pergumulan, dan kerinduan kita dengan-Nya. Struktur yang dibuat untuk mengatur itu baik ketika membimbing kita, tetapi tidak boleh menutupi kebebasan yang kita nikmati sebagai anak-anak Allah yang terkasih.
Marilah kita belajar dari Bunda Maria dari Lourdes untuk membawa orang lain kepada Tuhan, bukan melalui kekakuan, tetapi melalui cinta, kelembutan, dan kebebasan. Di Hari Orang Sakit Sedunia ini mari mohon juga kepada Bunda Maria agar membantu kita dalam usaha untuk menjadi tanda dan sarana kehadiran Allah yang dekat dengan mereka yang menderita, melalui perjumpaan, anugerah, dan berbagi.
Bunda Maria, bawalah kami lebih dekat kepada Putera-Mu. Ajarlah kami untuk mencintai-Nya melalui doa, tindakan bakti, dan hidup yang berakar dalam iman. Amin.
Selamat beraktivitas. Mari doakan dan perhatikan saudara-saudari kita yang sakit. ⒿⓁⓊ! ❤
RP Joni Astanto MSC