Minggu, 02 Februari 2025
Sabda Kehidupan
Minggu 02 Februari 2025
Pesta Yesus dipersembahkan di Bait Allah
Lukas 2:28-32 (Luk 2:22-40)
Simeon menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”
Yesus Terang Dunia
Hari ini, tanggal 2 Februari, adalah 40 hari sesudah hari kelahiran Yesus, 25 Desember. Sesuai tradisi Yahudi, pada hari ke 40 orangtua Yesus, Yosep dan Maria membawaNya ke Bait Allah untuk dipersembahkan kepada Allah dan untuk pentahiran ibuNya, Maria. Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam hukum Taurat, yakni dalam Keluaran 13 dan Kitab Imamat 12.
Adalah di Bait Allah pada hari itu, seorang bernama Simeon dan yang lainnya Hana. Mereka berdua dengan rindu menantikan kedatangan Mesias yang dijanjikan Allah. Oleh bisikan Roh Kudus Simeon maupun Hana mengenali dalam bayi Yesus, Dia-lah Mesias, Sang Terang dunia. Segala doa, harapan dan kerinduan hati mereka terpenuhi. Bagi Simeon dan Hana, tak ada lagi yang mereka nantikan dan harapkan selain berjumpa dengan Yesus Sang Mesias.
Sesungguhnya pengabulan doa kita yang sebenarnya bukan hanya terpenuhinya permintaan-permintaan yang kita ajukan, tapi lebih dari itu yakni pengenalan akan kehadiran Allah, dan perjumpaan kita secara sakramental dalam setiap Sakramen yang kita ikuti serta dalam setiap perjumpaan dengan Tuhan melalui berbagai peristiwa hidup kita, entah suka maupun duka.
Perjumpaan kita dengan Yesus memberi kita cahaya untuk melihat dengan iman, bagaimana Allah hadir dan menolong kita, menemani kita, dan kita mampu membaca pesan-pesan Allah melalui berbagai peristiwa yang kita alami. Bahkan dalam peristiwa sedih, bencana dan malapetaka, ada cahaya ilahi yang menerangi hati kita untuk melihat ada berkat terselubung di balik peristiwa itu, agar kita percaya, Allah Bapa, Yesus Tuhan kita, dan Allah Roh Kudus tak pernah meninggalkan kita.
Dalam terang iman, mari kita melihat tanda-tanda kehadiran Yesus yang turut berjalan dan menerangi jalan hidup kita. Bersatu dengan Yesus semua yang kita lakukan menjadi begitu berarti teristimewa ketika kita lakukan semuanya untuk Tuhan.
Selamat hari Minggu, selamat beribadah. Mari membawa persembahan kepada Tuhan, yang terbaik dari diri kita❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 02 Feb 2025
Minggu Pekan Biasa IV
Warna Liturgi: Putih
Bait Pengantar Injil: Luk 2:32
Bacaan Injil: Luk 2:22-40
*************
Bait Pengantar Injil
Luk 2:32
Dialah terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain
dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.
Bacaan Injil
Luk 2:22-40
Mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat Musa,
Maria dan Yosef membawa Anak Yesus ke Yerusalem
untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,
seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan,
“Semua anak laki-laki sulung
harus dikuduskan bagi Allah.”
Juga mereka datang untuk mempersembahkan kurban
menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan,
yaitu sepasang burung tekukur
atau dua ekor anak burung merpati.
Waktu itu adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon.
Ia seorang yang benar dan saleh hidupnya,
yang menantikan penghiburan bagi Israel.
Roh Kudus ada di atasnya,
dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus,
bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias,
yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
Atas dorongan Roh Kudus, Simeon datang ke Bait Allah.
Ketika Anak Yesus dibawa masuk oleh orang tua-Nya,
untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,
Simeon menyambut Anak itu
dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya,
“Sekarang Tuhan,
biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera,
sesuai dengan firman-Mu,
sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain
dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”
Yusuf dan Maria amat heran akan segala sesuatu
yang dikatakan tentang Anak Yesus.
Lalu Simeon memberkati mereka,
dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu,
“Sesungguhnya Anak ini ditentukan
untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel
dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
– dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri -,
supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”
Ada juga disitu seorang nabi perempuan,
anak Fanuel dari suku Asyer, namanya Hana.
Ia sudah sangat lanjut umurnya.
Sesudah menikah, ia hidup tujuh tahun bersama suaminya,
dan sekarang ia sudah janda,
berumur delapan puluh empat tahun.
Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah,
dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.
Pada saat Anak Yesus dipersembahkan di Bait Allah
Hana pun datang ke Bait Allah,
dan bersyukur kepada Allah
serta berbicara tentang Anak Yesus kepada semua orang
yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.
Setelah menyelesaikan semua
yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan,
kembalilah Maria dan Yusuf serta Anak Yesus
ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.
Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat,
penuh hikmat,
dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan.
**************
ℍ
“Ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah.” (Luk 2: 22 – 23)
Hari ini kita rayakan Pesta Yesus Dipersembahkan di kenisah. Dalam Injil hari ini, Yusup dan Maria membawa Yesus ke Yerusalem dan mempersembahkan Dia kepada Allah. Beberapa hal dapat kita renungkan:
Pertama, belajar dari ketaatan Yusuf sebagai kepala keluarga dan kesederhanaan keluarga Nazareth, marilah kita juga untuk menjadi pribadi yang taat kepada Allah. Bagaimana itu kita wujudkan? Sejak dini, kita telah mengantar pribadi dalam keluarga untuk dekat dan mengenal Tuhan. Ketika orang tua taat dan hidup beriman keluarga terjamin, maka anak-anak kitapun akan tumbuh dalam iman.
Kedua, hidup kita, keluarga, anak, dan apa pun yang kita miliki adalah anugerah pemberian Allah yang diserahkan kepada kita. Semua itu harus kita syukuri. Ungkapan syukur yang terbaik dan terindah adalah mempersembahkan kembali diri kita, keluarga dan anak-anak kita kepada Tuhan. Itu berarti membaktikan hidup kita bagi kemuliaan Tuhan melalui karya dan tugas kita sehari-hari. Karena seluruh hidup kita haruslah dipersembahkan bagi Allah. Apakah kita telah sungguh-sungguh membaktikan hidup bagi kemuliaan Tuhan? Apa yang telah kita lakukan?
Ketiga, dalam nubuat Simeon, dinyatakan Siapa Yesus: “Sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” Dialah sang Terang. Mengingatkan kita juga akan panggilan kita menjadi terang! Tetapi sekaligus juga menjadi perbantahan. “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan!” Siapkah menghidupi iman Katolik kita secara konsekuen, walau dengan resiko menjadi perbantahan?
Keempat, harapan yang hidup. Pada tokoh Simeon dan Hana dalam diri mereka saya menemukan contoh dan teladan orang-orang yang memiliki kesetiaan dan harapan yang tidak pernah pudar. Meskipun menunggu dalam waktu yang cukup lama mereka tetap setia dan memiliki ketangguhan hati yang tidak berubah. Meneladani sikap kedua tokoh ini kita juga diundang untuk menumbuhkan harapan itu dalam setiap tantangan hidup, percaya bahwa Allah selalu pasti akan menepati janji-Nya. Kita adalah para peziarah harapan.
Tuhan Yesus Kristus, tanpa Engkau kami berjalan dalam kegelapan. Biarlah terang-Mu bersinar terang di dalam diri kami, sehingga kami dapat memantulkan terang-Mu itu bagi dunia, kendati keterbatasan kami. Amin.
Selamat hari Minggu. Mari persembahkan hidup kita kepada Allah. ⒿⓁⓊ! ❤
RP Joni Astanto MSC