Rabu, 29 Januari 2025
Sabda Kehidupan
Rabu 29 Januari 2025
Tahun Baru Imlek
Markus 4:3-4 (Mrk 4:1-20)
”Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis…”
Semua Mendapat Berkat
Yesus menggambarkan Allah Bapa sebagai seorang penabur. Tapi anehnya, si Penabur ini kelihatan bukan ahli dalam memilih tempat untuk menabur. Bukankah Ia harus memilih tanah yang baik baru benih ditabur? Mengapa sampai ada benih yang jatuh di pinggir jalan, di tanah yang berbatu, bahkan di tengah semak berduri?
Kalau kita simak lebih dalam, ternyata apa yang aneh dan ganjil dalam sebuah perumpamaan Yesus, di situlah justru letak pesan perumpamaan itu, yakni keistimewaan Allah kita yang bertindak jauh melampaui daya nalar dan kebiasaan manusia.
Berbeda dengan kita, Allah tidak membeda-bedakan anak-anakNya. Allah menabur benih sabdaNya kepada semua orang tanpa peduli jenis karakternya, apakah ia orang baik atau tidak, pandai atau bodoh, kaya atau miskin, tua atau muda, dari mana ia berasal. Sama halnya hujan tidak jatuh hanya bagi orang baik, dan matahari tidak bersinar hanya bagi orang suci.
Siapapun kita, benih kasih Allah terus dianugerahkan. Mari terus benahi diri, mengolah budi dan hati, membersihkan hati, menyingkirkan kerikil-kerikil yang mengganjal relasi, mengeluarkan duri-duri dosa, bekerjasama dengan rahmat Allah agar hati kita menjadi tanah yang subur untuk tempat benih Firman dan kasih Allah ditabur, dan kita dapat berakar, bertumbuh dan berbuah, di tempat di mana kita ditanam.
Tak perlu menyesali diri dan melihat apa yang kurang dalam diri kita. Tak perlu juga membedakan diri dengan berkat yang diterima orang lain. Mari mengandalkan Tuhan, dan terus menyadari bahwa tanpa rahmat dan belas kasih Allah, kita tak berdaya apa-apa.
Selamat Hari Baru. Selamat Tahun Baru. Bahagianya kita semua diberkati Tuhan dengan hidup baru. Gong Xi Fa Cai, Selamat dan Sejahtera dalam Tuhan.❤️
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 29 Jan 2025
Rabu Pekan Biasa III
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan Injil: Mrk 4:1-20
*************
Bacaan Injil
Mrk 4:1-20
Seorang penabur keluar untuk menabur.
Inilah Injil Suci menurut Markus:
Pada suatu hari Yesus mengajar di tepi danau Galilea.
Maka datanglah orang yang sangat besar jumlahnya
mengerumuni Dia,
sehingga Ia terpaksa naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh,
lalu duduk di situ,
sedangkan semua orang banyak itu ada di darat,
di tepi danau itu.
Dan Yesus mengajarkan banyak hal kepada mereka
dalam bentuk perumpamaan.
Dalam ajaran-Nya itu Yesus berkata kepada mereka,
“Dengarlah! Ada seorang penabur keluar untuk menabur.
Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan,
lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.
Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu,
yang tidak banyak tanahnya,
lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.
Tetapi sesudah matahari terbit,
layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.
Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri,
lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati,
sehingga benih itu tidak berbuah.
Dan sebagian jatuh di tanah yang baik,
lalu tumbuh dengan subur dan berbuah,
hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat,
ada yang enam puluh kali lipat,
ada yang seratus kali lipat.”
Dan Yesus bersabda lagi,
“Siapa mempunyai telinga untuk mendengar,
hendaklah ia mendengar!”
Ketika Yesus sendirian,
pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid
menanyakan arti perumpamaan itu.
Jawab-Nya, “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah,
tetapi kepada orang-orang luar
segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan,
supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menangkap,
sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti,
biar mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.”
Lalu Yesus berkata kepada mereka,
“Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini?
Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami
semua perumpamaan yang lain?
Penabur itu menaburkan sabda.
Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat sabda itu ditaburkan,
ialah mereka yang mendengar sabda,
lalu datanglah Iblis dan mengambil sabda
yang baru ditaburkan di dalam mereka.
Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu,
ialah orang-orang yang mendengar sabda itu
dan segera menerimanya dengan gembira,
tetapi sabda itu tidak berakar dan tahan sebentar saja.
Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan
karena sabda itu, mereka segera murtad.
Dan yang lain, yang ditaburkan di tengah semak duri,
ialah yang mendengar sabda itu,
tetapi sabda itu lalu dihimpit oleh kekuatiran dunia,
tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain
sehingga sabda itu tidak berbuah.
Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik,
ialah orang yang mendengar dan menyambut sabda itu lalu berbuah,
ada yang tiga puluh kali lipat,
ada yang enam puluh kali lipat,
dan ada yang seratus kali lipat.”
Demikianlah sabda Tuhan.
************
ℍ ?
”Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur….. sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat,” (Mrk 4: 3 – 8 )
Biasanya, permenungan atas perumpamaan tentang seorang penabur kita pandang dari sudut kita sebagai tanah di mana benih ditabur. Kali ini saya ajak anda memandang dari sudut kita sebagai mitra Allah dalam menabur benih Kerajaan Allah.
Perumpamaan ini menunjukkan kepada kita bagaimana Allah memperlakukan kita dalam membangun Kerajaan-Nya di antara kita. Perumpamaan itu menyadarkan kita, bahwa untuk bekerja bagi Allah, dan bekerja dengan semangat Allah maka:
* Kita harus bekerja dengan sabar. Menabur benih adalah pekerjaan yang melelahkan punggung. Penabur harus membungkuk dan menaburkan/menanam benih yang baik dekat dengan tanah yang baik. Jika kita sekadar menyebarkan benih tanpa membungkuk dekat dengan tanah, maka risiko bahwa banyak benih yang jatuh di pinggir jalan, di tanah berbatu atau di tengah semak duri menjadi lebih besar. Dengan membungkuk dekat dengan tanah yang baik, maka benih yang ditabur tidak akan terbuang percuma.
* Benih Kerajaan bukan tanpa tantangan. Dalam banyak kasus, benih tidak bertunas, yang bertunas tidak bertumbuh, yang bertumbuh menjadi layu. Mengapa hal ini terjadi? Jika Allah itu baik, mengapa Kerajaan-Nya tidak bertumbuh tanpa tantangan? Sang Penabur itu tampaknya bekerja dengan sia-sia dan membuang-buang benih dan tenaganya. Yesus sendiri, Sang Penabur Agung, di Nazaret ditolak, di Kapernaum dianggap gila, orang-orang Farisi ingin membunuh-Nya, dan para murid meninggalkan-Nya. Ia menghadapi banyak tantangan. Dengan perumpamaan ini, Ia ingin menyampaikan pesan kepada murid-murid-Nya yang patah semangat dan meragukan manfaat dari karya yang Ia lakukan. Terlepas dari semua tantangan dan rintangan yang ada, firman-Nya akan menghasilkan buah yang berlimpah karena firman itu sendiri memiliki kekuatan kehidupan yang tak tertahankan.
* Kita harus bekerja dengan murah hati. Hanya seperempat dari benih yang ditaburkan itu menghasilkan buah, tetapi sang penabur tak pernah berhenti menabur benih. Hasil yang sedikit tak boleh membuat kita putus asa.
Semoga kita tidak hanya menjadi tanah yang menerima benih, tetapi kita juga menjadi rekan kerja SANG PENABUR yang baik, yang bekerja dengan tekun dan tanpa kenal lelah.
Tuhan, meski banyak tantangan, kuatkan kami dalam usaha kami menjadi rekan-rekan kerja-Mu untuk menabur benih-benih Kerajaan-Mu dengan tekun dan tanpa kenal lelah. Amin.
Selamat beraktivitas. Tanpa lelah tabur cinta kasih! ⒿⓁⓊ! ❤
RP Joni Astanto MSC