Minggu, 19 Januari 2025
Sabda Kehidupan
Minggu 19 Januari 2025
Hari Minggu Biasa II
Yohanes 2:3 (Yoh 2:1-11)
Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.”
Yesus Sumber Anggur Sukacita Kita
Anggur adalah minuman utama untuk suatu pesta di Israel. Apalagi pesta perkawinan. Tanpa anggur bukan pesta namanya. Bila pesta masih sementara berjalan dan keluarga atau tuan pesta kehabisan anggur, tentu saja akan membuat keluarga malu.
Maria ibu Yesus sangat menyadarinya. Ia barangkali ikut membantu di dapur. Betapa panik dan gelisah tuan pesta saat persediaan anggur makin menipis. Bunda Maria tahu kepada siapa ia harus meminta pertolongan. Ia tahu Yesus pasti tidak tinggal diam. 30 tahun Yesus bersamanya. Sebagai Mama, Bunda Maria yang paling tahu karakter Yesus. Apalagi sejak sebelum dikandung, ia tahu bahwa Yesus sesungguhnya adalah Putra Allah.
Kini Yesus telah berumur 30 tahun, umur yang ditetapkan di Israel sebagai syarat minimum untuk menjadi guru dan merekrut murid-murid. Yesus sudah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, dan Ia sudah memulai karyaNya dengan memilih murid-muridNya. Bunda Maria tahu bahwa sekarang-lah saatnya bagi Yesus untuk menunjukkan jati diriNya, dan agar supaya Yesus menunjukkan kewibawaanNya di hadapan murid-muridNya, bahwa yang mereka ikuti ini adalah sesungguhnya Penguasa Alam Semesta, yang bisa melakukan mujizat sesuai yang dikehendakiNya. Maka Bunda Maria menggunakan kewibawaan keibuannya untuk “memaksa” Yesus menyatakan diriNya yang sebenarnya dan menunjukkan kemuliaanNya.
Kata-kata Bunda Maria, “Mereka kehabisan anggur!” sesungguhnya adalah “perintah” seorang Ibu, sebagaimana misalnya seorang ibu meminta anaknya menimba air. Oleh permintaan BundaNya, Yesus lalu bertindak dan mujizatpun terjadi, Ia mengubah air menjadi anggur.
Murid-muridNya pun percaya padaNya. Kini kita juga tahu kepada siapa hendak meminta tolong, sebagaimana ditunjukkan oleh Bunda Maria.
Anggur adalah lambang kehangatan, bahkan lambang cintakasih. Mari datang kepada Yesus saat kehangatan dalam keluarga mulai menghilang karena rutinitas dan pelbagai persoalan relasi. Dengan berjalannya waktu, cinta menjadi hambar, komitmen menjadi luntur karena tak diperbaharui.
Mintalah Yesus hadir dan menghangatkan kembali relasi kasih suami istri, orangtua anak-anak, kakak beradik. Jangan biarkan rutinitas pekerjaan dan kesibukan keseharian membuat orang hanya tertuju pada diri sendiri dan tak peduli dengan anggota keluarga lainnya. Cinta mesti terus dihangatkan, komitmen perlu terus diperbaharui. Undanglah Yesus selalu hadir dalam keluarga. Dia-lah sumber kasih dan kehangatan kita.
”Ya Yesus kami kehabisan semangat. Cinta kami semakin berkurang karena kelemahan dan ketidakpedulian kami. Limpahkanlah kasihMu kepada kami, kobarkanlah semangat kami untuk terus mencintai dengan tulus.”
”Bunda Maria, Bunda kami doakanlah kami. Mintalah kepada Yesus Puteramu untuk menolong kami. Amin.”
Selamat Hari Minggu, hari keluarga. Mari beribadah, bersyukur dan memohon pertolongan Yesus.❤
Ps Revi Tanod Pr
ℍ
Minggu, 19 Januari 2025, Minggu Biasa II Tahun C
Bacaan: Yes. 62:1-5; Mzm. 96:1-2a,2b-3,7-8a,9-10ac; 1Kor. 12:4-11; Yoh. 2:1-11
Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.” Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” [Yoh 2: 3 – 5]
Sebagai Peziarah Harapan di Tahun Yubileum ini, kita memandang kepada Maria, Bunda yang penuh perhatian di Kana, yang menuntun kita untuk mengenali tanda-tanda kasih Allah yang tak terbatas. Injil hari ini menceritakan tanda pertama Yesus pada pesta perkawinan di Kana, di mana, dengan perantaraan Maria, Dia mengubah air menjadi anggur, memulihkan sukacita pada perayaan yang dapat menjadi masalah. Gerakan yang bijaksana ini mengungkapkan kasih Allah yang dekat, lembut, dan penuh belas kasihan yang bekerja secara diam-diam di saat-saat biasa dalam kehidupan.
Peran Maria sangat penting. Dengan intuisi keibuannya, ia melihat kebutuhan sebelum orang lain melihatnya dan dengan lembut membawanya kepada Yesus. Perintahnya yang sederhana, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”, mengundang kita untuk percaya kepada kuasa Yesus untuk mengubah pergumulan kita menjadi berkat. Cara yang tenang dari mukjizat ini mengingatkan kita tentang bagaimana Tuhan sering bekerja-dengan cara yang tersembunyi dan tak terduga, menunjukkan kepedulian-Nya melalui tanda-tanda yang halus dan bukan dengan pertunjukan yang megah.
Bagi kita sebagai peziarah, tanda di Kana ini berbicara tentang pengharapan. Tanda ini meyakinkan kita bahwa Allah menginginkan kebahagiaan kita dan memberikan “anggur terbaik” bahkan ketika kehidupan tampak suram. Pengantaraan Maria mendorong kita untuk tetap memperhatikan tanda-tanda kehadiran Allah – saat-saat ketika kasih-Nya mengangkat kita, menyembuhkan kita, atau memenuhi kita dengan damai sejahtera.
Dalam perjalanan iman kita, marilah kita meluangkan waktu untuk merenungkan tanda-tanda ini dalam hidup kita. Ingatlah saat-saat ketika kelembutan Tuhan paling nyata, ketika kepekaan keibuan Maria membimbing kita, atau ketika kasih karunia-Nya mengubah momen-momen biasa menjadi perjumpaan yang luar biasa. Marilah kita menghargai pengalaman-pengalaman ini, karena mereka adalah penampakan sekilas dari Kerajaan-Nya.
Semoga Maria, Bunda Para Peziarah, menginspirasi kita untuk berjalan dengan penuh keyakinan, siap untuk menyaksikan dan berbagi sukacita kasih Allah dengan orang lain saat kita melakukan perjalanan bersama dalam pengharapan dan iman.
Tuhan, curahkanlah anggur persatuan dan persahabatan kepada komunitas dan keluarga kami, agar kami dapat menjadi satu di dalam Engkau dan bersama-sama menjadi tubuh-Mu yang melayani satu sama lain dengan semangat berbagi dan peduli satu sama lain. Amin.
Selamat Hari Minggu. ⒿⓁⓊ! ❤
PEZIARAH HARAPAN: BERJALAN BERSAMA MARIA, MENYAKSIKAN TANDA-TANDA KASIH ALLAH
RP Joni Astanto MSC