Jumat, 17 Januari 2025
Sabda Kehidupan
Jumat 17 Januari 2025
Markus 2:3-4 (Mrk 2:1-12)
Ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring.
Arti Cinta Dan Persahabatan Dalam Komunitas
Kisah Injil hari ini begitu indah. Kisah persahabatan 5 orang. Yang satu lumpuh. Lalu ke empat sahabatnya mengusung dia dan membawanya kepada Yesus. Sayang ada begitu banyak orang yang datang hingga mereka tak dapat masuk. Namun mereka tidak putus asa. Cinta pasti dapat menemukan jalan. Love will find the way! Mereka membuka atap rumah dan menurunkan temannya dari atap.
Betapa terkejut semua orang, termasuk Yesus. Tapi melihat ungkapan iman, harap dan cinta yang luar biasa ini, Yesus sangat tersentuh. Yesus langsung bertindak menyembuhkannya lahir dan batin. Dosanya diampuni dan ia sembuh dari kelumpuhannya.
Sungguh sebuah pesan Injil yang indah mengenai arti persahabatan, iman, harap dan kasih yang melahirkan kreatifitas oleh sebuah komunitas kecil yang saling peduli.
Beriman haruslah kreatif. Dipadu dengan cinta yang dalam bagi sahabat atau anggota keluarga yang sakit, serta harapan kesembuhan dan pertolongan dari Yesus, menjadi kisah indah memgenai arti sebuah komunitas atau keluarga.
Si lumpuh sungguh bersyukur karena ia dikelilingi sahabat-sahabat yang baik dan peduli serta siap menolong. Itulah arti persahabatan sejati, arti sebuah keluarga dan arti hidup dalam komunitas. Apalagi ada Yesus yang menjadi sumber pengharapan dan pertolongan serta pemersatu kita.
Hiduplah dalam komunitas, keluarga, persekutuan, jemaat, wilayah rohani, kelompok kecil kategorial, dan temukanlah selalu pelbagai cara agar kita dapat bertemu dengan Yesus. Teruslah membantu sahabat yang kesulitan bertemu Yesus agar mereka dapat berjumpa denganNya. Mari saling membesarkan hati untuk terus beriman dan percaya serta berharap dalam Yesus selalu ada jawaban, ada jalan, ada cinta dan pengampunan.
Selamat hari Jumat. Mari beriman dengan kreatif disertai cinta yang dalam.❤
Ps Revi Tanod Pr
ℍ
Jumat, 17 Januari 2025, Peringatan St. Antonius, Abbas
Bacaan: Ibr. 4:1-5,11; Mzm. 78:3,4bc, 6c-7,8; Mrk. 2:1-12.
Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” [Mrk 2: 5]
Injil Markus yang kita baca hari ini menyajikan kisah tentang Yesus yang menyembuhkan seorang lumpuh, tetapi fokus yang sebenarnya terletak lebih dalam dari sekadar pemulihan fisik. Ketika orang itu diturunkan dari atap oleh teman-temannya, Yesus melakukan hal yang tak terduga: alih-alih menyembuhkan kelumpuhannya, Dia menyatakan, “Dosamu sudah diampuni.” Kita harus menghargai kesehatan fisik kita, namun kesehatan rohani kita, kondisi hati kita di hadapan Allah, yang paling penting.
Dalam pelayanan-Nya, Yesus memprioritaskan aspek mendasar dari kehidupan: hubungan kita dengan Allah. Saat menghibur wanita berdosa dengan kebaikan-Nya, berbicara dengan wanita Samaria untuk mencari kebenaran, atau menjangkau orang di tepi kolam Bethesda yang merindukan kesembuhan, Yesus menekankan kesejahteraan jiwa. Orang banyak dan para ahli Taurat yang heran dan mempertanyakan tindakan Yesus mewakili kecenderungan kita untuk melupakan hal mendasar. Seringkali, kita berfokus pada hal-hal yang dangkal – seperti kesehatan fisik dan kebutuhan sehari-hari – dan melupakan luka-luka emosional, luka hati, yang lebih dalam.
Kata-kata Yesus, “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni,” mengundang kita untuk merenungkan kebutuhan kita akan kesembuhan rohani. Apakah kita mengakui dosa-dosa kita dan mencari pengampunan Tuhan dengan tulus, atau kita menutupinya dengan pembenaran diri yang samar-samar? Pengampunan adalah obat bagi jiwa, dan Yesus, Sang Tabib Ilahi, menawarkannya secara cuma-cuma kepada mereka yang datang kepada-Nya dengan iman dan kerendahan hati.
Dalam dunia yang mengagung-agungkan penampilan fisik dan hal luaran, Injil hari ini menantang kita untuk memperhatikan kesehatan rohani kita dan kebutuhan yang lebih dalam. Apakah kita siap untuk bertemu dengan Tuhan di inti keberadaan kita, di mana kesembuhan sejati terjadi? Mari kita mencari pengampunan dan kasih karunia yang Yesus tawarkan, percaya pada kuasa-Nya untuk memperbarui tubuh dan jiwa.
Tuhan, semoga kami tidak hanya memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan fisik, namun juga memperhatikan yang hakiki: hubungan kami dengan Dikau. Amin.
Selamat beraktivitas. Jangan lupakan yang hakiki. ⒿⓁⓊ! ❤
RP Joni Astanto MSC