Selasa, 14 Januari 2025
Sabda Kehidupan
Selasa 14 Januari 2025
Markus 1:22 (Mrk 1:21-28)
Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.
Masih Takjub-kah Aku?
Sehebat apapun seorang ahli Taurat mengajar tentang Firman Allah, ia hanya bisa mengutip salah satu ayat Taurat dan mengajarkannya. Sementara Yesus adalah Firman itu sendiri. Ia tidak perlu mengutip apapun dari Taurat atau kitab para nabi karena semua kitab itu menunjuk pada diri Yesus sebagai pemenuhan janji Allah. Dialah Sabda yang menjadi manusia. Oleh karena itu sabdaNya penuh kuasa dan membuat orang takjub mendengarnya.
Berbahagialah kita karena semua sabda Yesus telah dituliskan oleh para penginjil dan terus menjadi Sabda Kehidupan yang terus menggemakan kuasaNya yang menakjubkan, menggetarkan dan mempesonakan.
Sekalipun Injil sudah ditulis ribuan tahun lalu, Sabda Yesus tetap hidup selamanya. Pertanyaannya: ketika membaca Injil, masihkah sabda Yesus membuat kita takjub, tergerak dan terpesona olehNya? Masihkah sapaan Yesus menyentuh hati kita? Masihkah Sabda Bahagia Yesus membawa rasa damai, bahagia dan sukacita di hati?
Oleh karena itu, ketika kita membaca dan merenungkan Injil Tuhan, masuklah lebih dalam untuk berjumpa dengan Yesus secara pribadi, bertemu denganNya dari hati ke hati. InjilNya adalah surat cinta Yesus bagi kita. Sambil membuka Alkitab, dalam doa kita menyapaNya, “Selamat pagi Yesus, bahagia hatiku berjumpa denganMu saat Engkau menyapaku lewat Firman yang kubaca hari ini. Berjalanlah bersamaku, peganglah tanganku, tuntunlah langkahku. BersamaMu hatiku tenang, jiwaku tenteram dan bahagia.”
Selamat mengagumi keagungan kasih Tuhan di hari baru ini.❤
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 14 Jan 2025
Selasa Pekan Biasa I
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: 1Tes 2:13
Bacaan Injil: Mrk 1:21b-28
**************************************
Bait Pengantar Injil
1Tes 2:13
Sambutlah sabda Tuhan, bukan sebagai perkataan manusia,
melainkan sebagaimana sebenarnya, sebagai sabda Allah.
Bacaan Injil
Mrk 1:21b-28
Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa.
Inilah Injil Suci menurut Markus:
Pada suatu malam Sabat
Yesus masuk ke dalam rumah ibadat di kota Kapernaum
dan mengajar di sana.
Orang-orang takjub mendengar pengajaran-Nya,
sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa,
tidak seperti ahli-ahli Taurat.
Dalam rumah ibadat itu
ada seorang yang kerasukan roh jahat.
Orang itu berteriak,
“Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret?
Engkau datang hendak membinasakan kami?
Aku tahu siapa Engkau: yakni Yang Kudus dari Allah.”
Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya,
“Diam, keluarlah dari padanya!”
Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu,
dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar dari padanya.
Mereka semua takjub,
sehingga mereka memperbincangkannya, katanya,
“Apa ini? Suatu ajaran baru?
Guru ini berkata-kata dengan kuasa.
Roh-roh jahat pun Ia perintah, dan mereka taat kepada-Nya.”
Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Yesus
ke segala penjuru di seluruh daerah Galilea.
Demikianlah sabda Tuhan.
*****************************************
ℍ
“Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.” [Mrk 1: 22]
Injil hari ini menceriterakan Yesus yang mengajar dengan kuasa yang menakjubkan orang banyak, yang membedakan-Nya dari para ahli Taurat dan orang Farisi, yang memaksakan hukum tanpa benar-benar menyentuh hati. Mencermati kuasa Yesus itu, ada beberapa hal yang dapat kita renungkan:
• Kuasa Yesus yang rendah hati. Dia tidak memerintah seperti seorang penguasa, tetapi melayani sebagai penuntun, berbicara dengan cara yang dapat dimengerti oleh banyak orang. Ajaran-Nya bukan tentang dominasi tetapi mengangkat orang lain, menjadikan yang terakhir sebagai yang pertama. Kerendahan hati ini secara langsung menantang kecenderungan masa kini untuk mempromosikan diri sendiri dan berebut kekuasaan. Seberapa sering kita, sebagai orang Kristen, memprioritaskan pelayanan ketimbang pengakuan?
• Kuasa Yesus ditandai dengan kedekatan. Dia berjalan di antara umat manusia, menyentuh yang sakit, menghibur yang menderita, dan mendobrak batasan-batasan sosial. Saat ini, kita dipanggil untuk memiliki kedekatan yang sama – menjangkau mereka yang paling rentan. Apakah kita mendekat kepada mereka yang membutuhkan, atau tetap menjauh, sibuk dengan kenyamanan kita sendiri?
• Yesus konsisten. Hidup-Nya adalah keselarasan yang sempurna antara apa yang Dia ajarkan, rasakan, dan lakukan. Konsistensi ini merupakan pengingat yang kuat bagi kita untuk menyelaraskan tindakan dengan iman kita. Kemunafikan, baik dalam kepemimpinan maupun kehidupan sehari-hari, mengikis kepercayaan dan kredibilitas. Apakah kita mempraktikkan apa yang kita katakan dan khotbahkan?
Dalam dunia kita yang terpolarisasi dan sibuk ini, kuasa Yesus tetap menjadi model untuk mengubah hati. Di tengah dunia yang merindukan keaslian, teladan Yesus menantang kita untuk merangkul kerendahan hati, pelayanan, dan kedekatan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan hidup dalam kerendahan hati, mendekatkan diri kepada sesama, dan tetap setia pada keyakinan kita, kita dapat memancarkan kasih Kristus dalam segala hal yang kita lakukan dan dunia pun akan takjub karenanya.
Tuhan, bantulah kami untuk hidup dalam kesejatian, menghidupi apa yang kami katakan dan mewartakan kebenaran. Amin.
Selamat beraktivitas. Hidup dalam kesejatian dan kebenaran! ⒿⓁⓊ! ❤
RP Joni Astanto MSC