Jumat, 10 Januari 2025
Sabda Kehidupan
Jumat 10 Januari 2025
Lukas 5:12-13 (Luk 5:12-16)
Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.
Selalu Menaruh Harapan Pada Yesus
Menarik bahwa dalam kisah penyembuhan Yesus bagi si kusta, ia tidak datang untuk meminta tolong Yesus menyembuhkan dia. Ia datang pada Yesus untuk mengungkapkan imannya akan Yesus. Bukanlah permintaan si kusta yang menentukan tapi kemauan Yesus untuk turun tangan. Semuanya memungkinkan bila Yesus mau. Semuanya semata karena kemurahan hati Yesus.
Ungkapan iman ini, sama persis dengan ungkapan iman Yesus akan penyelenggaraan BapaNya. “Bukan kehendakKu melainkan kehendakMu-lah yang terjadi.” Inilah doa yang diajarkan Yesus bagi kita, “jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga.”
Apapun penyakit kita, apapun permasalahan dan beban hidup kita, mari datang pada Yesus, menaruh segala harapan kita padaNya. Entah sembuh seketika, atau selesai seketika, atau harus menunggu lama hingga doa kita terkabul, atau bahkan tidak terkabul sama sekali, tak membuat kita risau, karena kita telah meletakkannya dalam tangan Tuhan.
Biarlah kita selalu tersungkur depan kaki Yesus, sujud menyembah Dia, membawa semua harapan kita padaNya, tunjukkan pada Yesus bahwa kita adalah ‘peziarah pengharapan.’ Kita tetap berharap dan percaya, Tuhan Yesus mendengar semua doa kita, Ia selalu peduli dan segera bertindak. Jangan berhenti berdoa, berharap dan percaya.
Tetap semangat apapun yang kita hadapi, Yesus ada bersama kita❤
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 10 Jan 2025
Jumat Masa Natal
Warna Liturgi: Putih
Bait Pengantar Injil: Mat 4:23
Bacaan Injil: Luk 5:12-16
**************************************
Bait Pengantar Injil
Mat 4:23
Yesus memberitakan Injil Kerajaan Allah
serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.
Bacaan Injil
Luk 5:12-16
Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Sekali peristiwa Yesus berada di sebuah kota.
Ada di situ seorang yang penuh kusta.
Ketika melihat Yesus, tersungkurlah si kusta dan memohon,
“Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”
Maka Yesus mengulurkan tangan-Nya menjamah orang itu,
dan berkata,
“Aku mau, jadilah engkau tahir!”
Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.
Yesus melarang orang itu
memberitahukannya kepada siapa pun juga,
dan Ia berkata,
“Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam,
dan persembahkanlah untuk pentahiranmu
persembahan seperti yang diperintahkan Musa,
sebagai bukti bagi mereka.”
Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar,
dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya
untuk mendengar Dia
dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka.
Akan tetapi Yesus mengundurkan diri
ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.
Demikianlah sabda Tuhan.
*****************************************
ℍ
“Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.” (Luk 5: 13)
Kita baca kisah Yesus yang menyembuhkan seorang kusta dalam Injil hari ini. Untuk menyembuhkan penderita kusta itu, Yesus tidak hanya berbicara kepadanya, namun juga menjamah dia. Yesus menunjukkan kepada kita arah dan komitmen yang harus kita ambil dalam semangat Natal dan Tahun baru:
• Kuasa sentuhan dan peneguhan. Si penderita kusta tidak hanya menderita penyakit secara fisik. Ia secara religius dan sosial terbuang, penyakitnya sering kali dianggap sebagai kutukan dari Allah. Ia “dikarantina” secara ekstrim. Bayangkan efek dari kata-kata Yesus baginya: “Aku mau, jadilah engkau tahir!”. Rasakan betapa ia tergetar karena sukacita dan itu terasa di seluruh tubuhnya, ketika Yesus menjamahnya. Ada banyak orang yang “dikarantina” di sekitar kita, bukan karena sakit, tetapi karena hal-hal lain. Mari kita mengasihi sesama secara nyata. Mari, komunikasikan perhatian kita kepada sesama dengan sentuhan kasih, dan ungkapan-ungkapan lain yang membebaskan dan meneguhkan.
• Tanda dan sarana rekonsiliasi. Dengan sentuhan yang menyembuhkan, Yesus tidak hanya memberikan kesembuhan fisik kepada si kusta. Ia memulihkan hubungan si kusta dengan keluarga, sahabat-sahabatnya dan masyarakat. Si kusta telah menderita karena disingkirkan, dan kini Yesus mendamaikan ia kembali dengan orang lain. Maka ia diminta untuk pergi memperlihatkan diri kepada imam dan memberikan persembahan atas pentahirannya seperti diperintahkan Musa, sebagai bukti secara sosial dan religius. Kita pun diutus untuk menjadi tanda dan sarana persatuan dan rekonsiliasi ketika terjadi intrik-intrik dan pengasingan. Seperti Yesus, kita pun harus bermomitmen untuk membangun jembatan, bukan pemisahan.
• Kuasa doa. Kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka (5: 15). Tetapi Ia tidak mengorbankan waktunya untuk “menyendiri” dan berdoa. Bahkan alam pun perlu kesunyian malam untuk disegarkan kembali bagi hari berikut. Demikian juga kita.
Semoga kita semua mengikuti arah dan komitmen yang telah Yesus tunjukkan kepada kita.
Tuhan, semoga perjumpaan kami satu sama lain juga menjadi “sentuhan” yang menyembuhkan. Amin.
Selamat beraktivitas hari ini. Selamat menyembuhkan. ⒿⓁⓊ! ❤
RP Joni Astanto MSC