Katekese Kitab Suci Masa Adven 2025: “Pengharapan Mesianik Dalam Kitab Yesaya” Oleh RD Josep Gultom
Katekese Kitab Suci Masa Adven 2025: “Pengharapan Mesianik Dalam Kitab Yesaya” Oleh RD Josep Gultom
“Pengharapan Mesianik dalam kitab Yesaya”
Istilah “Messias” sering digunakan dalam ungkapan dan diskusi teologsi merujuk pada yang dijanjikan dalam pengharapan Yahudiah. Istilah mashiakh dalam bahasa Ibrani (Yunani: christos) secara sederhana merujuk pada “yang dipilih”. Bisa jadi “yang dipilih itu raja, imam, atau nabi. Akar dari penggunaan bisa jadi ada Mzm 2:2, yang berbunyi: “Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bersekongkol melawan TUHAN dan yang diurapi-Nya, dan harapan dari raja yang idela dalam Yer. 23:5-6, menggambarkan janji akan raja dari garis keturunan Daud dalam 2 Sam. 7:11-17.
Dalam masa Adven ini, kepada kita dikumandangkan pengharapan mesianik ini. Bacaan I dalam masa Adven sering kita dengar berasal dari kitab Yesaya. Bagaimana gambaran kitab Yesaya tentang pengharapan mesianik itu?
Yesaya berarti “keselamatan dari Yahwe”. Yesaya memberi 3 gambaran mesias, yakni sebagai raja (1-37), hamba (38-55), pemenang yang diurapi (56-66). Ketiga gambaran itu menyatu dalam kesatuan kitab dan ketiganya adalah segi kepribadian mesias. Gambaran raja, hamba, penakluk yang terpilih membentuk gambaran sederhana dimana masing-masing membutuhkan yang lain.
Raja (9:1-5) dan hamba yang menderita (53:12) adalah pemenang, tetapi tanpa penakluk yang terpilih, kemenangan tak dapat dijelaskan atau disempurnakan.
Dalam setiap gambaran itu dinyatakan bahwa mesias diberkahi dengan Roh Tuhan dan Sabda-Nya (11:1-2,4). Konsep “kebenaran” berulangkali disebut melalui tahta dan raja (9:7) dan merupakan kodrat dari hukumnya (11:4). Kebenaran hidup merupakan isi dari karya hamba itu (53:11; 54:17), karakter dari penguasa yang terpilih (61:10; 63:1). Setiap representasi mesianik mencakup Israel dan dunia non Yahudi.
Penyebaran membentang dari Kerajaan Daud atas seluruh dunia (13-27) mencakup keanggotan yang setara dari orang-orang buangan dan orang asing.
Teka-teki menonjol dalam ketiga gambaran ini karena seorang mesias digambarkan sungguh manusia dan sungguh Tuhan. Raja mesias lahir dari keturunan Daud (11:1), memiliki akar dari mana Daud muncul (11:10) sekaligus “Allah yang Perkasa” (9:6). Hamba memiliki keturunan dan penampilan manusia (53:2) dan memiliki pengalaman penolakan yang umum dialami manusia (53:3) dan ujian penderitaan yang melebihi apa pun (50:6; 52:14).
Tetapi ia juga “tangan Tuhan”, Tuhan sendiri berdiri secara kasat mata dalam tindakan penyelamatan (53:1). “Tangan Tuhan” muncul lagi di awal rangkaian “penakluk yang diurapi” (59:16): Tuhan sendiri mengenakan pakaian, yakni lambang kemampuan dan komitmen mewujudkan kebenaran-Nya dan mengajarkan keselamatan.
Pakaian itu diberikan kepada “yang diurapi” (61:10) dan kebenaran, pembalasan serta penebusan-Nya akhirnya yang terlaksana (63:1,4). Tangan Tuhan berakhir dengan tangan sang penakluk yang diurapi (63:5).
Melalui “tangan dari yang terurapi” Allah akan membawa hukuman bagi orang berdosa dan keselamatan bagi orang saleh. Ia akan menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru.
Sumber Komisi Kerasulan Kitab Suci KAM