Senin, 18 November 2024
Sabda Kehidupan
Senin 18 November 2024
Lukas 18:41 (Luk 18:35-43)
”Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu: “Tuhan, supaya aku dapat melihat!”
Menyadari Kebutaan Kita
Pada tahun 1955, dua psikolog Amerika, Joseph Luft dan Harry Ingham mengembangkan sebuah konsep psikologis yang digunakan untuk memahami dan meningkatkan kesadaran diri serta hubungan antara individu. Konsep ini mereka namakan ‘Johari Window’ (singkatan nama mereka Joseph dan Harry) atau ‘Jendela Johari’
Jendela Johari ini terdiri dari 4 jendela atau kuadran untuk menggambarkan kesadaran diri kita. Jendela pertama, ‘saya tahu (atau saya lihat) dan orang lain tahu (lihat).’ Karena sama-sama tahu dan melihat, maka kita dapat saling berkomunikasi dan berbagi pengetahuan agar saling memperkaya pemahaman.
Jendela ke dua ‘saya tidak tahu (lihat) tapi orang lain tahu (lihat).’ Dalam hal ini saya mesti rendah hati mengakui kebutaan saya dan meminta bantuan orang lain untuk membantu saya.
Jendela ke tiga, ‘saya tahu (lihat) tapi orang lain tidak tahu (lihat).’ Di sini saya tergerak untuk membantu orang lain meningkatkan kesadaran diri, dari apa yang saya tahu dan saya lihat tapi tidak dilihatnya.
Jendela ke empat, ‘saya tidak tahu (lihat) dan orang lain juga tidak tahu (lihat).’ Dalam hal ini harus kita akui ada banyak misteri kehidupan yang tidak kita lihat dengan mata biasa. Ada begitu banyak realitas kehidupan yang tidak kita pahami atau mengerti. Maka dengan rendah hati kita datang pada Tuhan Yesus dan berseru seperti si buta dari Yeriko, “Tuhan tolong aku, tolong kami, supaya dapat melihat.”
Yesus menolong kita untuk melihat dengan ‘mata iman’. Firman Tuhan membantu kita untuk memahami misteri kasih Allah di balik salib derita untuk melihat pengorbanan dan kasih Tuhan bagi kita.
Yesus sanggup memulihkan penglihatan kita untuk melihat karya Allah, pun dalam segala keterbatasan penglihatan kita atau dalam duka nestapa kehidupan.
Sadarilah kebutaan kita dan memohon Yesus untuk membuka mata kita. Dengan mata iman, muliakanlah Tuhan, dan jadilah saksi kebaikan dan kemuliaan Allah.
Semangat Senin. Yesus ada di setiap jendela hidup kita membantu kita melihat kebaikan Tuhan.❤
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 18 Nov 2024
Senin Pekan Biasa XXXIII
PF Gereja Basilik S. Petrus dan Paulus, Rasul
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Yoh 8:12
Bacaan Injil: Luk 18:35-43
**********************************
Bait Pengantar Injil
Yoh 8:12
Akulah terang dunia.
Barangsiapa mengikuti Aku, ia akan mempunyai terang hidup.
Bacaan Injil
Luk 18:35-43
Apa yang kau inginkan Kuperbuat bagimu?
Tuhan, semoga aku melihat.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Ketika Yesus hampir tiba di Yerikho,
ada seorang buta duduk di pinggir jalan dan mengemis.
Karena mendengar orang banyak lewat, ia bertanya,
“Ada apa itu?”
Kata orang kepadanya, “Yesus, orang Nazaret, sedang lewat.”
Maka si buta itu berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”
Orang-orang yang berjalan di depan menyuruh dia diam.
Tetapi semakin kuat ia berseru,
“Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”
Maka Yesus pun berhenti
dan menyuruh orang mengantar dia kepada-Nya.
Ketika si buta itu sudah dekat, Yesus bertanya kepadanya,
“Apa yang kauinginkan Kuperbuat bagimu?”
Jawab orang itu, “Tuhan, semoga aku melihat!”
Maka Yesus berkata,
“Melihatlah, imanmu telah menyelamatkan dikau!”
Pada saat itu juga ia melihat,
lalu mengikuti Yesus sambil memuliakan Allah.
Seluruh rakyat menyaksikan peristiwa itu dan memuji-muji Allah.
Demikianlah sabda Tuhan.
**************************************
ℍ
”Tuhan, supaya aku dapat melihat!” (Luk 18: 41)
Sebuah artikel mengatakan bahwa 80% dari aktivitas kita tergantung pada mata kita. 80% itu bukan jumlah yang kecil. Maka orang yang buta secara total hanya mempunyai 20% sisanya. Mereka tidak dapat main sepak bola, bahkan hanya nonton pun tidak bisa. Lapangan kerja mereka terbatas, tidak bisa nonton film, tidak menikmati jalan-jalan di mall, dsb.
Injil hari ini berkisah tentang penyembuhan seorang buta. Orang buta itu memohon kepada Yesus untuk disembuhkan. Tetapi orang-orang di sekitarnya menyuruhnya diam: “Mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam.” Tetapi semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!”
Orang buta itu menyebut Yesus: “Anak Daud.” Ia melihat jauh melebihi orang-orang sezamannya. Memanggil-Nya dengan gelar kehormatan “Anak Daud” menunjukkan imannya kepada Yesus. Dengan memanggil-Nya “anak Daud,” maka ia telah mengakui-Nya sebagai Mesias, Sang Juruselamat.
Yesus mungkin terkejut si buta itu memanggil-Nya dengan sebutan itu. Ia menyuruh agar orang itu dibawa kepada-Nya. “Apa yang kaukehendaki Aku perbuat bagimu?” tanyanya. “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” pintanya. Melihat iman orang buta itu, Yesus berkata: “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Seorang yang buta tidak dapat melihat adalah sebuah fakta. Namun ia yang tidak dapat melihat dengan matanya itu dapat melihat dengan mata iman, dengan mata hati. Acap kali, kita yang mempunyai mata yang lengkap untuk melihat, tidak ingin melihat. Kita menjadikan diri kita buta karena tidak ingin melihat kebutuhan sesama, seperti orang-orang lain dalam Injil hari ini. Kita melihat anak-anak kecil mengemis untuk bertahan hidup tapi kita berkata, “Ah..mereka itu toh ada yang mengorganisir…buat apa kita memberi.” Kita melihat orang mengalami kecelakaan tetapi kita berkata, “Itu urusan polisi. Buat apa merepotkan diri?” Seorang saudara datang tetapi dia belum minta maaf atas kesalahannya, maka saya tidak mau melihatnya.
Jadi, siapa yang ingin tidak kita lihat? Kepada siapa kita menutup mata? Tuhan memberi kita mata agar kita dapat melihat. Tuhan juga memberi kita hati agar dapat melihat dengan lebih baik.
Tuhan, semoga aku dapat melihat. Amin.
Selamat beraktivitas di pekan yang baru. ⒿⓁⓊ! ❤
RP Joni Astanto MSC