Minggu, 22 September 2024
Sabda Kehidupan
Minggu 22 September 2024
Markus 9:35 (Mrk 9:30-37)
”Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”
Prinsip Surgawi
Prinsip hidup yang ditawarkan Yesus kepada murid-muridNya adalah prinsip surgawi bukannya duniawi. Di dunia orang berlomba-lomba menjadi yang terbesar, teratas, terhebat.
Orang dunia sekuat tenaga menghindari derita, kesulitan, dan beban sementara itu di pihak lain berusaha mengejar kesenangan dan kenikmatan duniawi.
Yesus menawarkan yang sebaliknya yakni nikmat surgawi di balik salib, sukacita di balik pengorbanan dan derita. Menjadi pemenang sejati dengan jalan mengalah dan merendahkan diri.
Yesus tidak mengajarkan kita mencari susah dan hidup susah. Sebaliknya Ia ingin agar kita bahagia melalui jalan pengosongan diri. Itulah kebahagiaan yang datang dari ketulusan hati untuk memberi diri melayani. Kebahagiaan karena sudi membesarkan hati orang kecil, mengangkat yang terpuruk dan jatuh, mengulurkan tangan untuk menolong dan memberi.
Kata Yesus dalam Lukas 6:38, “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”
Apalagi yang kurang dalam hidup kita? Bukankah dengan memiliki Kristus dan menjadi milik Yesus kita telah mendapatkan segala-galanya? Mengapa ingin menjadi yang terbesar padahal yang kita sembah adalah Allah yang Mahabesar? Mengapa takut menjadi pelayan padahal Yesus telah melayani dan memberi segalanya bagi kita untuk dapat berbagi?
Sesungguhnya martabat kita sebagai putra putri Allah dan saudara Yesus, Tuhan dan Allah kita, itulah kepenuhan hidup kita yang melimpah rahmat dan kasih Tuhan.
Menjadi yang terakhir, yang terkecil, dan menjadi hamba, menunjukkan kepada dunia prinsip surgawi yang kita pegang yakni kita hanya ingin bermegah di dalam Allah. Menjadi seperti Yesus itulah jalan kebahagiaan yang kita tempuh, jalan pengabdian dan pelayanan, pengorbanan dan pemberian diri.
Selamat Hari Minggu. Mari bersyukur kepada Tuhan atas hidup yang penuh arti ini.❤
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 22 Sep 2024
Minggu Pekan Biasa XXV
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: 2Tes 2:14
Bacaan Injil: Mrk 9:30-37
**********************************
Bait Pengantar Injil
2Tes 2:14
Allah telah memanggil kita lewat Injil,
sehingga kita boleh menikmati kemuliaan Yesus Kristus, Tuhan kita.
Bacaan Injil
Mrk 9:30-37
Anak Manusia akan diserahkan…
Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu,
hendaklah ia menjadi pelayan dari semuanya.
Inilah Injil Suci menurut Markus:
Setelah Yesus dimuliakan di atas gunung,
Ia dan murid-murid-Nya melintas di Galilea.
Yesus tidak mau hal itu diketahui orang,
sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya.
Ia berkata kepada mereka,
“Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia,
dan mereka akan membunuh Dia.
Tetapi tiga hari setelah dibunuh, Ia akan bangkit.”
Mereka tidak mengerti perkataan itu,
namun segan menanyakannya kepada Yesus.
Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum.
Ketika sudah di rumah,
Yesus bertanya kepada para murid itu,
“Apa yang kamu perbincangkan tadi di jalan?”
Tetapi mereka diam saja;
sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan
siapa yang terbesar di antara mereka.
Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu.
Kata-Nya kepada mereka,
“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu,
hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya
dan menjadi pelayan dari semuanya.”
Yesus mengambil seorang anak kecil ke tengah-tengah mereka.
Kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka,
“Barangsiapa menerima seorang anak seperti ini demi nama-Ku,
ia menerima Aku.
Dan barangsiapa menerima Aku,
sebenarnya bukan Aku yang mereka terima,
melainkan Dia yang mengutus Aku.”
Demikianlah sabda Tuhan.
*****************************************
ℍ
”Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” [Mrk 9: 31]
“Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Sungguh sebuah gambaran yang indah tentang kasih – Allah yang adalah Kasih menyerahkan diri-Nya ke dalam tangan orang yang dikasihi-Nya, meskipun hal itu berarti penolakan, penyiksaan, dan pembunuhan. Sang pencinta tidak memiliki cara lain untuk mengekspresikan kepenuhan cintanya selain menyerahkan dirinya ke dalam pelukan orang yang dicintai. Inilah yang telah dilakukan Tuhan: Dia menyerahkan diri-Nya ke dalam tangan manusia, dengan mengetahui sepenuhnya bahwa mereka akan melakukan apa yang mereka inginkan.
Para murid tidak dapat memahami kasih Tuhan ini. Bagaimana memahami kekalahan dan bahkan kematian Mesias? Mereka tidak dapat menerima skandal penderitaan Mesias. Namun, mereka tetap mengikuti-Nya ke Yerusalem, tentu saja dengan mimpi-mimpi yang berbeda dengan mimpi-mimpi Yesus. Berabad-abad kemudian, meskipun dengan pemahaman yang lebih besar tentang Misi dan kata-kata Yesus, sayangnya kita terus mempertahankan aspirasi yang sama dengan para murid Yesus dan bertengkar satu sama lain untuk mendapatkan pengakuan, penerimaan dan kekuasaan, posisi dan gengsi.
Panggilan Kristiani kita memanggil kita untuk melayani orang lain. Namun, tak jarang kita tergoda oleh “pelayanan” yang pada kenyataannya adalah “melayani diri sendiri”. Yesus meminta kita untuk saling memperhatikan satu sama lain berdasarkan kasih. Ini adalah sebuah undangan pribadi: “Barangsiapa yang mau menjadi yang terdahulu di antara kamu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dan pelayan bagi semuanya”. Kriteria ini adalah untuk evaluasi pribadi dan bukan untuk menghakimi orang lain.
Paus Fransiskus dalam kunjungan apostoliknya ke Kuba pada September 2015, pernah berkata: “Kepedulian terhadap orang lain berdasarkan kasih ini berarti, menempatkan pertanyaan tentang saudara dan saudari kita sebagai pusat perhatian. Pelayanan selalu melihat ke wajah mereka, menyentuh tubuh mereka, merasakan kedekatan mereka dan bahkan, dalam beberapa kasus, “menderita” bersama mereka. Pelayanan tidak pernah bersifat ideologis, karena kita tidak melayani ide, kita melayani orang.”
Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Apa yang kamu bicarakan di jalan?” (v. 33). Gereja bukanlah sebuah batu loncatan untuk mencapai posisi prestise, untuk menjadi yang terdepan, untuk menguasai orang lain. Gereja adalah tempat di mana setiap orang tunduk pada karunia yang telah diterimanya dari Tuhan, merayakan kebesaran mereka dalam pelayanan yang rendah hati kepada orang lain. Di mata Tuhan, yang terbesar adalah orang yang paling menyerupai Kristus, yang adalah hamba bagi semua orang (Luk. 22:27).
Ya Yesus, semoga aku semakin serupa dengan Engkau. Amin.
Selamat Hari Minggu. Selamat melayani! ⒿⓁⓊ! ❤
RP Joni Astanto MSC