Senin, 02 September 2024
Sabda Kehidupan
Senin 02 September 2024
Lukas 4:24 (Luk 4:24-30)
Dan kata-Nya lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.”
Tetap Mencintai Sekalipun Ditolak
Betapa sedih hati Yesus, ketika ditolak oleh orang-orang sekampungNya di Nazareth. Mereka lebih melihat latar belakang keluargaNya yang sederhana, daripada melihat semua tanda-tanda heran yang dibuat Yesus sebagai tanda bahwa janji para nabi telah terpenuhi dalam diriNya.
Memang betapa sulit menerima dan menghargai apa yang datang dari kalangan sendiri. Mantan presiden Habibi merasa sedih karena tekadnya menjadikan Indonesia hebat dengan membuat pesawat terbang sendiri, ternyata tidak dihargai di negaranya sendiri. Orang lebih tertarik dengan merk luar negri daripada buatan negri sendiri. Lucunya cepatu Nike dibuat di Tangerang, fashion terkenal Zara diproduksi di Sukoharjo, Hugo Boss di Bandung, termasuk Uniqlo dan H&M. Para Insinyur pesawat yang mendesain pesawat Boeing ternyata para insinyur Indonesia. Tetaplah bangga dengan buatan dalam negeri.
Penolakan Yesus oleh keluarga sekampungNya, sahabat kenalanNya sendiri, mengingatkan kita pentingnya menerima dan menghargai semua anggota keluarga kita, orang-orang sederhana di sekitar kita.
Sekalipun ditolak manusia, Yesus tak pernah menolak kita. Ia mencintai kita apa adanya. Ia ikut menanggung beban derita kita karena Ia mengerti kesulitan kita sebagai manusia biasa.
Yesus meminta kita untuk melakukan yang sama, mencintai semua orang yang Yesus cintai, bahkan musuh sekalipun.
Nasehat Rasul Paulus ini sangat indah: “Jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” (Rom 12:20-21)
Tetaplah baik sekalipun diperlakukan tidak baik!
Semangat Senin, Yesus selalu menerima dan menemani kita.❤
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 02 Sep 2024
Senin Pekan Biasa XXII
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Luk 4:18
Bacaan Injil: Luk 4:16-30
*************************************
Bait Pengantar Injil
Luk 4:18
Roh Tuhan menyertai aku;
Aku diutus Tuhan mewartakan kabar baik
kepada orang-orang miskin.
Bacaan Injil
Luk 4:16-30
Aku diutus menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin.
Tiada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Sekali peristiwa datanglah Yesus di Nazaret, tempat Ia dibesarkan.
Seperti biasa, pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat.
Yesus berdiri hendak membacakan Kitab Suci.
Maka diberikan kepada-Nya kitab nabi Yesaya.
Yesus membuka kitab itu dan menemukan ayat-ayat berikut,
“Roh Tuhan ada pada-Ku.
Sebab Aku diurapi-Nya
untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin.
Dan Aku diutus-Nya
memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan,
penglihatan kepada orang-orang buta,
serta membebaskan orang-orang yang tertindas;
Aku diutus-Nya memberitakan
bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang.”
Kemudian Yesus menutup kitab itu
dan mengembalikannya kepada pejabat;
lalu Ia duduk
dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.
Kemudian Yesus mulai mengajar mereka, kata-Nya,
“Pada hari ini genaplah ayat-ayat Kitab Suci itu
pada saat kalian mendengarnya.”
Semua orang membenarkan Yesus.
Mereka heran akan kata-kata indah yang diucapkan-Nya.
Lalu kata mereka, “Bukankah Dia anak Yusuf?”
Yesus berkata,
“Tentu kalian akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku,
‘Hai Tabib, sembuhkanlah dirimu sendiri.
Perbuatlah di sini, di tempat asal-Mu ini,
segala yang kami dengar telah terjadi di Kapernaum!”
Yesus berkata lagi, “Aku berkata kepadamu:
Sungguh, tiada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar,
‘Pada zaman Elia terdapat banyak wanita janda di Israel
ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan
dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.
Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka,
melainkan kepada seorang wanita janda di Sarfat, di tanah Sidon.
Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel
tetapi tiada seorang pun dari mereka yang ditahirkan,
selain Naaman, orang Siria itu.”
Mendengar itu sangat marahlah semua orang di rumah ibadat itu.
Mereka bangkit lalu menghalau Yesus ke luar kota,
dan membawa Dia ke tebing gunung tempat kota itu terletak,
untuk melemparkan Dia dari tebing itu.
Tetapi Yesus berjalan lewat tengah-tengah mereka, lalu pergi.
Demikianlah sabda Tuhan.
***************************************
ℍ
*“Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab,” (Luk 4: 16)*
Mulai hari ini hingga akhir tahun liturgi bacaan Injil untuk misa harian diambil dari Injil Lukas. Perikope hari ini menceriterakan Yesus yang kembali ke kampung halaman-Nya dan pada saat ibadah di Sinagoga, Ia memaklumkan karya-Nya.
Ada satu hal yang menarik dalam perikope itu. Lukas memberi tahu kita bahwa Yesus pergi ke rumah ibadat “menurut kebiasaan-Nya.” Kita tahu bahwa Yesus sering tidak setuju dengan semua yang terjadi dan diajarkan di rumah-rumah ibadat. Dia sering melanggar aturan yang berlaku di sana, seperti ketika Dia menyembuhkan pada hari Sabat di dalam rumah ibadat. Namun, Ia tetap pergi ke rumah ibadat “menurut kebiasaan-Nya.”
Tak jarang saya jumpai beberapa umat Katolik yang mengatakan kepada saya bahwa mereka tidak pergi ke gereja lagi. Beberapa tidak suka dengan apa yang diajarkan oleh Gereja. Yang lain, tidak suka dengan pastornya. Yang lain lagi merasa gereja terlalu berisik dan lebih suka mengikuti Misa online di TV atau YouTube, apalagi sudah keenakan dengan praktek itu selama masa pandemi (tapi perlu diingat bahwa dengan “menonton” Misa di TV atau mengikuti live-streaming, mereka belum memenuhi kewajiban mereka di hari Minggu). Mereka memberikan banyak alasan untuk tidak pergi ke gereja, tetapi apakah alasan-alasan itu valid?
Fakta bahwa Yesus pergi ke rumah ibadat, “menurut kebiasaan-Nya,” menunjukkan bahwa Yesus melihat lebih jauh dari apa yang tidak dapat Ia setujui. Ia melihat bahwa ibadah di sinagoga, pertama-tama, adalah pertemuan umat Allah. Kemudian Firman Allah diberitakan dan dijelaskan di sana. Ini adalah waktu untuk berdoa dan bersatu sebagai sebuah komunitas dengan Tuhan.
Itulah yang terjadi ketika kita merayakan Ekaristi, bahkan lebih dari itu, karena Kristus sendiri selalu hadir.
Adakah sesuatu yang menghalangi Anda untuk pergi ke gereja? Apakah Anda menyadari bahwa Kristus selalu hadir di sana meskipun ada hal-hal lain yang tidak anda sukai?
Tuhan, tak jarang ada pelbagai alasan yang membuat aku tidak mengikuti perayaan Ekaristi pada hari Minggu dan hari raya yang diwajibkan. Jangan biarkan hal-hal itu menjauhkan aku dari-Mu. Amin.
Selamat beraktivitas dalam pekan dan bulan yang baru. ⒿⓁⓊ! ❤
RP Joni Astanto MSC