CERCA
CERCA Mungkin pernah suatu hari kita dinista, dihina atau pun bahkan dicerca. Memang dalam “Kamus Besar Bahasa Indonesia” kata cerca itu berarti: celaan (ejekan) yang keras, makian, umpatan, cacian. Bagaimana rasa hati ini jika seseorang mencerca kita, “Kamu ini bego dan tidak becus mengurus Rumah Tangga! Kamu manusia tak berguna.” Tentu kata-kata itu menyakitkan hati. Tetapi kita harus ingat bahwa cerca-mencerca ini sudah ada sejak jaman Firaun Ptahotep (Mesir). Ia berkata, “Kalau kita dicerca atau dinista, janganlah membalas dengan perbuatan serupa. Bersikaplah agung. Orang yang bisa mengekang lidahnya saat diprovokasi lebih kuat daripada orang yang memprovokasi. Proses kehidupan bisa terjadi kapan saja. Ada orang yang lebih tahan terhadap pukulan dan siksaan ketimbang hinaan dan cercaan. Kalau dicerca, orang bisa sakit hati sehingga tidak bisa tidur dan makan. Coba kita ingat kembali Mahatma Gandhi (jiwa agung) yang tidak terhina ketika dicerca sedemikian buruk. Ia tetap fokus. Di sinilah Seneca (penyair Romawi kuno pernah berkata, “Animus facit nobilem” – Jiwa itulah yang membentuk sikap ksatria. Kita pun harus sadar bahwa pujian lebih berbahaya daripada cercaan, sebab pujian bisa membuai secara pelan dan yang pasti dan akan membuat kita jatuh. Sebaliknya, cercaan, hinaan akan membangkitkan motivasi dan semangat untuk bangkit dan bergerak maju. o00o————————— Buku Motivasi “membantu orang untuk senantiasa memotivasi diri” ——————————–o00o Sabtu, 5 September 2015 Rm. Markus Marlon MSC
Sumber KatolikIndonesia@yahoogroups.com penulis Rm. Markus Marlon, MSC <markus_marlon@yahoo.com>