Minggu, 18 Agustus 2024
Sabda Kehidupan
Minggu 18 Agustus 2024
Hari Raya St Perawan Maria Diangkat Ke Surga
Lukas 1:46-49 (Luk 1:39-56)
Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.”
”Magnificat Anima Mea” (Jiwaku Memuliakan Tuhan)
Ungkapan iman Bunda Maria akan karya agung Allah yang Mulia dan Tak Terselami terangkai dalam kata-kata yang begitu indah sebagaimana yang ditulis Penginjil Lukas, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.”
Sebelumnya dalam Lukas 1: 38, Maria telah mengungkapkan pemberian dirinya yang total penuh penyerahan dan iman, ketika ia menanggapi panggilan Allah melalui malaikat Gabriel yang memintanya menjadi Ibu Yesus Putra Allah, katanya, “Aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanMu itu.”
Sesungguhnya ungkapan iman seperti ini bukanlah diungkapkan seorang perempuan desa yang sederhana melainkan dari seorang Ratu Surgawi yang paham benar kehendak Allah dan sungguh mengimani Keagungan Kasih Allah dalam Karya KeselamatanNya sejak penciptaan dunia, menyusul panggilan Abraham dan keterpilihannya menjadi Ibu Yesus.
Sejak manusia jatuh dalam dosa pada awal penciptaan, Allah telah berjanji untuk melahirkan ’Hawa Baru’ sebagaimana dikatakan Allah kepada Iblis: “keturunannya akan meremukkan kepalamu” (Kej 3:15) dan disampaikan kembali melalui nabi Yesaya, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yes 7:14).
Oleh kuasa kasih Allah dan jasa Yesus Puteranya, Maria diangkat dalam kemuliaan surga untuk menjadi Bunda Surgawi bagi putra-putri Allah, saudara-saudari Yesus, sebagaimana yang dikatakan Yesus kepada murid-muridNya saat tergantung di kayu salib: “Inilah ibumu!” (Yoh 19:27).
”Bunda Maria doakanlah kami pada Yesus Puteramu, agar kami tetap setia mengikuti Yesus sekalipun berjalan di jalan salib. Doakan kami agar terus berserah penuh pada kasih Allah Bapa di surga agar kelak kami tiba di rumah Bapa dalam keadaan selamat.”
”Ya Bapa Surgawi, kami adalah hamba sahayaMu. Terjadilah pada kami semua seturut kehendakMu.”
Selamat berbahagia di hari Minggu yang mulia ini.❤
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 18 Agt 2024
Minggu Hari Raya
Warna Liturgi: Putih
Bacaan Injil: Luk 1:39-56
************************************
Bacaan Injil
Luk 1:39-56
Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku
dan meninggikan orang-orang yang rendah.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Beberapa waktu sesudah kedatangan malaikat Gabriel,
bergegaslah Maria ke pegunungan
menuju sebuah kota di Yehuda.
Ia masuk ke rumah Zakharia
dan memberi salam kepada Elisabet.
Ketika Elisabet mendengar salam Maria,
melonjaklah anak yang di dalam rahimnya,
dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus,
lalu berseru dengan suara nyaring,
“Diberkatilah engkau di antara semua wanita,
dan diberkatilah buah rahimmu.
Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?
Sebab sesungguhnya,
ketika salammu sampai kepada telingaku,
anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.
Sungguh, berbahagialah dia yang telah percaya,
sebab firman Tuhan yang dikatakan kepadanya akan terlaksana.”
Lalu kata Maria,
“Jiwaku memuliakan Tuhan,
dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.
Sesungguhnya,
mulai sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku,
dan nama-Nya adalah kudus.
Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya,
dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya,
dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar,
dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;
Ia menolong Israel, hamba-Nya,
karena Ia mengingat rahmat-Nya,
seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita,
kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”
Kira-kira tiga bulan lamanya
Maria tinggal bersama dengan Elisabet,
lalu pulang ke rumahnya.
Demikianlah sabda Tuhan.
***************************************
ℍ
“Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus,” (Luk 1: 46 – 49).
Kita rayakan hari ini Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga. Barangkali kebanyakan dari kita berpikir bahwa pengangkatannya ke Surga itu adalah sesuatu yang ia peroleh, sesuatu yang layak dan dicapai oleh dirinya sendiri. Bukankah dia adalah Bunda Allah? Bukankah dia adalah teladan murid Yesus yang sejati? Pantas saja ia diangkat ke surga baik badan dan jiwanya. “Ada harus….” kata orang Papua. Barangkali ada benarnya, tetapi tidak seluruhnya dan tidak tepat menggambarkan mengapa Allah menganugerahkan kepenuhan rahmat itu kepada Maria.
Kunci untuk memahami pengangkatan Maria ke surga dan semua misteri kehidupannya ditemukan dalam kerendahan hatinya yang selalu menunjuk pada kerahiman Allah. Keseluruhan dirinya dan semua yang dapat ia lakukan untuk kita bukan dari dirinya sendiri, tetapi dari Allah yang adalah Kasih dan Kerahiman. Ia dipilih bukan karena ia berhak dan layak, tetapi karena Allah berbelaskasih kepadanya dan memandang kerendahan hatinya. Hal ini sungguh nampak dalam kidung yang didendangkannya: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus,” (Luk 1: 46 – 49).
Maria sungguh-sungguh rendah hati, dan ia menunjukkannya dengan kasih, hormat dan bahkan ketaatannya kepada Puteranya. Ia dapat saja “memaksa-Nya” karena ia adalah ibu-Nya! Ia, dari segala ciptaan, adalah gambaran sempurna Kristus. Maka setiap orang yang mengaku murid Kristus harus memandang dirinya dengan standard Maria. Jika orang itu tidak meneladan Maria dan mengasihi Maria, maka ia bukan dari Yesus Kristus.
Hari Raya Maria diangkat ke surga tetap menjadi pengingat bagi kita, untuk melihat kembali kerendahan hati kita. Kerendahan hati adalah fondasi dan tempat persemaian keutamaan-keutamaan yang lain dan sarana yang efektif bagi kita untuk membuka diri bagi rahmat Allah.
Apakah kita menjadi alat belas kasih Allah melalui usaha kita melaksanakan perintah-perintah-Nya? Atau justru kita menjadi penghalang bagi rahmat-Nya? Apakah kita patuh dan taat kepada Dia yang dapat kita jumpai dalam Sabda, Ekaristi, dan dalam Gereja? Apakah kita selalu siap sedia dan sadar untuk melayani sesama seperti Maria melayani Elisabeth sanaknya itu? Dalam kehidupan kita, nyanyian apa yang kita kumandangkan, tentang diri sendiri atau tentang kebesaran Allah?
Bapa, terima kasih karena Engkau telah memilih Maria untuk menjadi ibu Yesus dan ibu kami. Semoga kerendahan hati, kesederhanaan dan ketaatannya pada rencana-Mu menginspirasi kami. Amin.
Selamat Hari Minggu. Selamat Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. ⒿⓁⓊ! ❤
RP Joni Astanto MSC