Jumat, 28 Juni 2024
Sabda Kehidupan
Jumat 28 Juni 2024
Mat 8:2-3 (Mat 8:1-4)
Datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.
Berserah Pada Kehendak Tuhan
Bagi orang Israel menderita penyakit kusta bukan hanya menyakitkan secara fisik, tapi terutama secara batin. Orang percaya sakit ini adalah hukuman Tuhan atas dosa berat si sakit. Mereka mesti dijauhkan dari keluarga dan masyarakat, terbuang dan hidup sendiri.
Sekalipun dilarang untuk mendekat apalagi menjamah orang kusta, Yesus tergerak hatiNya oleh ungkapan hati dan iman si kusta. Ia tidak memaksa Yesus menyembuhkannya, namun ia menaruh iman dan harapannya pada kehendak Yesus dan kerelaan hatiNya. Yesus pun tidak berlambat. Ia memulihkan hidup si kusta. Penyakitnya menjadi masa lalu, ia hidup baru oleh jamahan kasih Tuhan.
Apapun yang terjadi dalam hidup kita, janganlah berhenti percaya dan menaruh harapan kita pada Tuhan. Kita percaya Yesus sanggup memulihkan kita. Ia menghendaki yang terbaik bagi kita. Dengan penuh penyerahan diri kita datang padaNya dan sujud menyembah sambil berdoa,
”Jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga, ya Tuhanku dan Allahku. Biarlah kehendakMu ya Bapa yang terjadi dalam hidupku. Apa yang terbaik yang berkenan kepadaMu. Anugerahkanlah aku kebijaksanaan ilahi untuk dapat memahami dan mengikuti apa yang Engkau mau dalam hidupku. Sembuhkan dan pulihkanlah aku dari luka dosa. Amin.”
Selamat hari Jumat. Hiduplah dalam jamahan kasih Yesus.❤
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 28 Jun 2024
Jumat Pekan Biasa XII
PW S. Ireneus, Uskup dan Martir
Warna Liturgi: Merah
Bait Pengantar Injil: Mat 8:17
Bacaan Injil: Mat 8:1-4
***********************************
Bait Pengantar Injil
Mat 8:17
Yesus memikul kelemahan kita
dan menanggung penyakit kita.
Bacaan Injil
Mat 8:1-4
Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan daku.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Setelah Yesus turun dari bukit,
banyak orang berbondong-bondong mengikuti Dia.
Maka datanglah kepada-Nya seorang yang sakit kusta.
Ia sujud menyembah Yesus dan berkata,
“Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan daku.”
Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu,
dan berkata,
“Aku mau, jadilah engkau tahir!”
Seketika itu juga tahirlah orang itu dari kustanya.
Lalu Yesus berkata kepadanya,
“Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun,
tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam
dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa
sebagai bukti bagi mereka.”
Demikianlah sabda Tuhan.
************************************
ℍ
Datanglah seorang yang sakit kusta kepada Yesus, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya. (Mat 8: 2 -3)
Mengapa orang kusta itu nampak ragu ketika memutuskan untuk mendekati Yesus? Karena ada aturan bahwa penderita kusta tak boleh tampil di depan umum dan mendekat dengan orang lain. Jika ketahuan, bisa saja ia dihukum rajam. Yesus pun bergulat dengan keputusan yang sulit. Menyentuh seorang penderita kusta saja akan membuatnya najis di mata musuh-musuh-Nya dan berpotensi menyebabkan penghukuman. Namun demikian, Yesus tidak ragu-ragu untuk mendekat. Dia mengulurkan tangan-Nya dan menyembuhkan orang kusta itu. Yesus mengulurkan tangan-Nya kepada semua orang, tanpa takut menjadi najis.
Sebuah refleksi yang indah dari perikop Injil ini disampaikan oleh Paus Fransiskus pada tahun 2015. Beliau berkata, “Kedekatan adalah kata yang sangat penting: Anda tidak dapat membangun sebuah komunitas tanpa kedekatan; Anda tidak dapat berdamai tanpa kedekatan; Anda tidak dapat berbuat baik tanpa mendekat. Yesus bisa saja berkata kepadanya, “Sembuhlah!”, tanpa menyentuhnya. Tetapi sebaliknya, Dia mendekat dan menyentuhnya. Terlebih lagi, pada saat Yesus menyentuh orang najis itu, dia sendiri menjadi najis. Dan inilah misteri Yesus: Dia menanggung atas diri-Nya sendiri kenajisan kita, kecemaran kita.
Paulus menggambarkan hal ini dengan baik ketika ia menulis, “Walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.,” (Flp 2: 6 – 7). Marilah kita berdoa agar kita tidak takut untuk mendekat kepada mereka yang membutuhkan, baik yang terlihat maupun yang memiliki luka yang tersembunyi. Ini adalah kesempatan dan juga berkat.
Allah, Bapa kami, Putra-Mu, Yesus Kristus, telah menyatakan kepada kami cinta-Mu yang penuh belas kasih dan menyembuhkan. Biarlah kehadiran-Nya di tengah-tengah kami memenuhi kami dengan kuasa-Nya untuk berbagi, mendekat, mengulurkan tangan kepada saudara-saudari kami yang membutuhkan. Amin.
Selamat beraktivitas. Semoga sentuhan anda menyembuhkan. ⒿⓁⓊ! ❤
RP Joni Astanto MSC