Selasa, 25 Juni 2024
Sabda Kehidupan
Selasa 25 Juni 2024
Mat 7:12 (Mat 7:6,12-14)
”Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
The Golden Rule
Nasehat Yesus dalam Kotbah di Bukit ini dikenal sebagai “The Golden Rule” (Aturan Emas). Aturan emas ini bila kita terapkan dalam relasi dengan orang lain, betapa damai dan tenteram hidup kita. Tentu bukan maksud Yesus agar kita menjadikan diri sendiri sebagai ukuran, melainkan ‘golden rule’ ini menjadi sebuah prinsip hidup untuk mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri.
Kita menjadikan orang lain sebagai bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita. Seperti halnya Yesus yang mau menjadi senasib dengan kita manusia bahkan menyatu dengan kita dalam Roh KudusNya.
Olehnya kita dapat memandang orang lain sebagai Yesus yang ada untuk kita dan mencintainya seperti kita mencintai Yesus. Bahagiaku menjadi bahagiamu dan bahagiamu menjadi bahagiaku. Inilah cara hidup jemaat yang pertama, sebagaimana dikisahkan dalam Kisah Para Rasul 4:32, “Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.”
Kebaikan yang kita lakukan bagi orang lain sesungguhnya adalah kebaikan yang kita lakukan untuk diri sendiri. Jangan jemu berbuat baik agar hati kita menjadi seperti hati Yesus, hati emas yang mulia.
Selamat berbuat baik di hari yang baru. Hidup kita diberkati Tuhan❤
Ps Revi Tanod Pr
Kalender Liturgi 25 Jun 2024
Selasa Pekan Biasa XII
Warna Liturgi: Hijau
Bait Pengantar Injil: Yoh 8:12
Bacaan Injil: Mat 7:6.12-14
************************************
Bait Pengantar Injil
Yoh 8:12
Akulah cahaya dunia;
siapa yang mengikuti Aku, ia hidup dalam cahaya abadi.
Bacaan Injil
Mat 7:6.12-14
Segala sesuatu yang kamu kehendaki diperbuat orang kepadamu,
perbuatlah demikian juga kepada mereka.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Dalam khotbah di bukit Yesus berkata,
“Janganlah kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing,
dan janganlah kamu melemparkan mutiaramu kepada babi,
supaya jangan diinjak-injak dengan kakinya,
lalu babi itu berbalik mengoyak kamu.
Segala sesuatu yang kamu kehendaki diperbuat orang kepadamu,
perbuatlah demikian juga kepada mereka.
Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.
Masuklah melalui pintu yang sempit itu,
karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan,
dan banyak orang telah masuk melalui pintu dan jalan itu.
Tetapi sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kehidupan,
dan sedikitlah orang yang menemukannya.”
Demikianlah sabda Tuhan.
************************************
ℍ
“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” [Mat 7: 13 – 14]
Khotbah Yesus di bukit mencapai puncaknya dengan serangkaian peringatan. Matius secara konsisten menyoroti fokus Yesus pada martabat setiap orang – baik laki-laki maupun perempuan, orang Farisi maupun pemungut cukai, orang sehat maupun orang kusta, orang buta, orang lumpuh. Semua kehidupan itu penting – karena kehidupan berasal dari Tuhan. Setiap individu diciptakan oleh Allah menurut gambar dan rupa-Nya, dan oleh karena itu, kita percaya bahwa semua kehidupan manusia itu suci dan kudus. Dengan demikian, setiap orang adalah cerminan dari Yang Ilahi.
Jelas terlihat bagi kita bagaimana Yesus bergerak dari instruksi sederhana mengenai kekudusan, untuk memberikan kita ‘aturan emas’ yang terkenal: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” Jika kita percaya bahwa setiap manusia itu kudus, maka setiap orang berhak untuk dihormati dan diakui martabatnya.
Kenyataannya, masyarakat saat ini gagal dalam banyak hal dalam memperlakukan setiap individu secara bermartabat dan hormat sejak pembuahan hingga kematian. Sayangnya, budaya “membuang yang suci kepada babi” sedang meningkat. Aborsi merenggut nyawa jutaan anak yang belum lahir setiap tahunnya. Perang dan kekerasan mengakibatkan hilangnya banyak nyawa. Kita sering mendengar bagaimana orang dapat menghilangkan nyawa sesama hanya karena alasan-alasan sepele.
Saat ini, ada banyak pilihan “hiburan”, termasuk penyalahgunaan narkoba dan alkohol serta berbagai bentuk adiksi, yang semuanya mengurangi martabat manusia – dan kita dengan sembrono melemparkan apa yang suci kepada babi.
Martabat dan kesucian pribadi manusia berakar pada Sang Pencipta. Ia mengundang kita hari ini untuk “Masuk melalui pintu yang sesak itu.” Dan pintu itu adalah Yesus sendiri, karena Ia telah mengatakan kepada kita: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.”
Tuhan, bimbinglah aku dengan Roh Kudus-Mu, agar mampu untuk selalu memilih jalan kehidupan. Amin.
Selamat beraktivitas. ⒿⓁⓊ! ❤
RP Joni Astanto MSC